Oleh : Tania Januarti*
Kebudayaan merupakan pola, cara, dan gaya hidup yang berkembang yang dimiliki setiap daerah dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Budaya yang dimiliki setiap daerah tentu berbeda-beda, hal ini timbul karena adanya beberapa faktor, diantaranya Letak yang strategis, kondisi geografis, perbedaan kondisi alam, serta penerimaan masyarakat akan perubahan. Di Indonesia sendiri kebudayaan beragam tentu sudah tidak asing lagi, bahkan Indonesia terkenal akan keberagaman budaya dan tradisinya, beberapa budaya dan tradisi Indonesia kini sudah mulai dikenal oleh negara-negara asing, negara kepulauan yang dihuni oleh lebih dari 360 suku bangsa ini memiliki beragam kebudayaan, suku serta tradisi yang berbeda di setiap daerahnya, salah satunya di daerah “Kepulauan Bangka Belitung”.
Berbicara kebudayaan, Bangka Belitung merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku bangsa dan budaya, Pulau ini terdiri dari Pulau Bangka dan Pulau Belitung, Selain terkenal dengan penghasil timah terbesar, Pulau ini juga terkenal akan kebudayaan kesenian musik dan tarian tradisional khas daerahnya. kesenian merupakan bagian dari unsur kebudayaan yang seringkali dijadikan sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Melalui kesenian manusia bisa berkomunikasi dan berekspresi dalam mengungkapkan jiwa, jati diri, isi hati dan perasaan. Menurut Ispandi, dkk (2015: 73-74) kesenian merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan yang dapat ditemui dimana saja. keragaman budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di pulau ini tidak terlepas dari warisan nenek moyang terdahulu.
Salah satu kebudayaan di Pulau Belitung yang masih bertahan sampai saat ini adalah tari tradisional, Seni tari merupakan hasil warisan turun temurun yang memiliki sejarah masa lalu, yang kemudian menciptakan eksistensi tari sehingga perkembangannya pada masa lalu tidak bisa dipisahkan dengan konteks sosial masyarakatnya. Tari tradisional biasanya dilakukan untuk aktivitas sosial, tanda kehormatan, Pendidikan, serta perayaan keagamaan, di dalam tarian sendiri mempunyai unsur yang mungkin sudah umum kita ketahui yakni, wiraga, wirasa dan wirama. Membahas tari tradisional, di daerah Belitung tarian tradisional yang khas adalah tari sekapur sirih. Tari sekapur sirih merupakan tari selamat datang yang dianggap sebagai simbol untuk menyambut tamu khas “Urang kite”, tarian ini dianggap sebagai tanda kehormatan kepada para tamu penting yang datang di suatu acara perhelatan besar. Tarian ini umumnya ditarikan oleh 5 penari wanita, dimana salah satu penari membawa sebuah wadah yang berisikan sirih untuk kemudian diberikan kepada tamu penting yang datang.
Masyarakat Belitung menganggap tarian sekapur sirih merupakan tarian yang menggambarkan kesopanan dan kesantunnan masyarakat dalam menyambut tamu yang datang. Lalu apakah di zaman sekarang tarian sekapur sirih masih banyak peminat ? Jawabannya tentu tidak, Era globalisasi sekarang ini banyak menimbulkan perubahan pada pola hidup masyarakat, akibatnya masyarakat cenderung menikmati kebudayaan baru. Di zaman sekarang tarian ini agak kurang dilirik oleh para generasi muda, generasi penerus sekarang ini memiliki rasa minat yang kurang dan malas untuk belajar mewarisi kebudayaannya sendri.
Akibat dari perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi membuat tarian ini semakin sepi peminat, dan sedikit demi sedikit tarian tradisional mulai tersingkirkan. Selain itu kesadaran masyarakat untuk menjaga kebudayaan lokal sekarang ini masih terbilang sangat minim. Karena hal tersebut pula tak sedikit para pemuda di Belitung enggan mempelajari dan melestarikan tarian ini. Ditambah Masyarakat Belitung merupakan masyarakat yang cukup terbuka terhadap pengaruh dari luar. Menurut Malinowski, Budaya yang lebih tinggi dan aktif akan mempengaruhi budaya yang lebih rendah dan pasif melalui kontak budaya (Malinowski dalam Mulyana, 2005:21).
Bisa kita lihat Generasi muda sekarang ini lebih cenderung menikmati kesenian yang lebih modern seperti modern dance, hip hop serta tari kreasi modern lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Harmi, dkk yang menyatakan gerusan perkembangan teknologi informasi saat ini menggeser cara pandang masyarakat akan potensial menenggelamkan tari tradisional yang saat ini lamat-lamat dikembangkan (Harmi, dkk. 2016: 1). Kekhawatiran yang diikuti dengan fakta bahwa generasi muda mulai cenderung tidak menyukai tarian tradisional, membuat kebudayaan turun temurun ini menjadi semakin terasingkan.
Pelestarian seni tradisional yang mulai sulit dilakukan akibat kurangnya minat para generasi muda di era sekarang ini, membuat kesenian daerah semakin tenggelam dan generasi muda lebih memilih untuk mengikuti budaya luar, hal ini menyebabkan sanggar-sanggar seni tari di Belitung mulai terkikis dan tergantikan oleh komunitas-komunitas seperti Kpop dan sebagainya. Memudarnya minat para anak muda terhadap tari tradisional tentunya menimbulkan kegelisahan akan punahnya kebudayaan tradisional, bagi pecinta seni pasti mulai merasakan ketakutan akan tergantikannya seni tradisional dengan seni modern dari luar. Dalam hal seperti ini, apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjaga kekhasan yang dimiliki oleh daerah kita?
Upaya menjaga kesenian tradisional dapat diwujudkan dengan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang setiap saat. Menjaga dan melestarikan budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada dua cara yang dapat dilakukan masyarakat khususnya sebagai generasi muda dalam mendukung kelestarian budaya dan ikut menjaga budaya lokal (Sendjaja, 1994:286). Yaitu:
Culture Experience
Culture Experience merupakan pelestarian budaya yang dilakukan melalui cara terjun langsung ke dalam sebuah pengalaman kultural. Contohnya masyarakat dianjurkan untuk belajar dan berlatih dalam menguasai setiap gerak tarian dan dapat dipentaskan dalam acara-acara tertentu, dengan hal seperti ini kebudayaan lokal dapat dijaga kelestariannya.
Culture Knowledge
Culture Knowledge adalah pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasikan. Tujuannya untuk kepentingan kebudayaan itu sendiri. Dengan demikian para generasi muda dapat memperkaya pengetahuannya tentang kebudayaan daerahnya. Selain dilestarikan dalam dua bentuk diatas, kebudayaan lokal juga dapat dilestarikan dengan cara mengenal budaya itu sendiri, dengan hal tersebut setidaknya dapat mengantisipasi pembajakan kebudayaan yang dilakukan oleh negara luar. Dengan berbagai macam cara diatas, mungkin generasi muda bisa lebih memahami dan mulai mencintai budaya daerahnya, sebab identitas dan cara membedakan dari tiap-tiap daerah adalah budaya yang khas yang dimiliki oleh daerah itu sendiri.
Kebudayaan di Indonesia merupakan kebudayaan yang ada, yang hanya dimiliki oleh bangsa indonesia dan setiap kebudayaan daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Sebagai negara kepulauan yang terkenal akan keberagaman budaya nya dan yang pastinya hal tersebut membuat keadaan sulit untuk mempertahankan kesatuan antar masyarakat, ditambah lagi dengan adanya pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia karena arus globalisasi membuat budaya lokal semakin sepi peminat, tapi hal ini bisa di minimalisir dengan melestarikan dan menjaga sehingga kebudayaan lokal yang sangat kaya di indonesia ini tetap terjaga.
Oleh karena itu sebagai generasi penerus bangsa yang memang seharusnya tugas kita adalah menjaga dan melestarikan budaya lokal, kita harus bisa mulai mencintai kembali budaya-budaya yang ada karena eksistensi dan ketahanan budaya ada pada generasi mudanya. Sebenarnya boleh saja kita menyukai budaya asing tetapi kita jangan sampai terpengaruh dan terjerumus ke dalamnya, sebab kalau bukan kita yang mempertahankan budaya lokal lalu siapa lagi?[]
*Penulis adalah mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung, email : taniajanuarti5142@gmail.com








