Oleh : Stania Aurelya
Kurangnya kontrol dan kepekaan orang tua terhadap keamanan anak-nya yang terjun ke dunia entertainment, memberikan dampak buruk jangka pendek maupun jangka panjang. Banyaknya iklan, sinetron, konten youtube dengan model anak-anak, membuat terbesit di benak kita berapa hasil dari kerja anak-anak ini? hasil terjun kedalam dunia periklanan, modeling, sinetron maupun dijadikan konten di youtube. Ini merupakan hal yang lumrah untuk sebagian orang, apalagi orang tua yang menjadikan anak-nya sebagai bahan tontonan di dunia maya, mengarahkan kamera untuk membuat berbagai konten menarik sebagai sumber mata pencaharian bagi mereka.
Tren anak dijadikan alat penghasil uang ini sudah berjalan dari tahun ke tahun, banyaknya konten youtube keluarga dengan anak sebagai thumbnail yang menarik, anak-anak ini dipamerkan di media sosial padahal ini berpotensi membahayakan mulai dari penjualan bayi hingga aktivitas kejahatan seksual. Apalagi bayi yang sudah dihadapkan dengan kamera dan sejenisnya sejak kecil, ahli menyatakan paparan cahaya yang kuat selama beberapa milidetik saja dapat menimbulkan kerusakan permanen bagi bayi
Tidak sedikit juga iklan yang sebenarnya tidak pantas untuk ditampilkan, seperti baru-baru ini dilakukan oleh Balenciaga dengan menggunakan anak yang masih kecil dan jauh dibawah umur untuk memperagakan produk yang mereka miliki dengan cara yang tidak etis dan mendekati unsur dewasa atau pornografi yang jelas tidak layak. Perusahaan mempekerjakan anak-anak ini karena mereka yang paling naif dan rentan, pada dasarnya mereka tidak dapat mengenali bahwa mereka digunakan untuk keuntungan semata. Hal ini tentu tidak luput dari peran orang tua, satu – satunya orang yang mampu mengizinkan anak-nya untuk menjadi bagian dari model produk tersebut, bagaimana bisa orang tua menyetujui anak mereka sebagai objek branding dari kampanye BDSM yang jelas-jelas tidak etis dilakukan apalagi oleh anak dibawah umur?
Dengan sengaja memasukkan referensi pornografi anak ke dalam pengambilan gambar mereka, tanpa berpikir panjang bagaimana respon orang-orang lain di media sosial, bagaimana kondisi psikologis anak saat sudah paham masalahnya nanti. Semua hal yang sudah dilakukan di masa lalu akan menjadi boomerang nantinya.
Dr Lin Hong-hui, psikolog klinis utama di The Psychology Atelier mengatakan, saat anak ketakutan atau tertekan, yang yang mereka butuhkan adalah dukungan emosional. Maka ketika orangtua malah merekam dalam video, mereka memposisikan diri sebagai pengamat kesusahan anak mereka, bukan pihak yang semestinya menyediakan dukungan emosional, “Jika seorang anak jelas-jelas tidak bahagia, self-conscious, atau malu, mereka membutuhkan orang tua mereka untuk berhenti merekam dan menyesuaikan diri atau attune dengan mereka,” ungkap Dr lin. Ketika anak tidak mendapat rasa aman, mereka akan mempertanyakan apakah kedua orangtua-nya mengerti dengan mereka dan merasa apakah ada yang salah dengan dirinya, sehingga anak-anak yang tidak dapat mempercayai orangtua akan merasa tertekan dan stress, hal itu akan berisiko dalam berbagai aspek kehidupan kedepannya.
Hal yang sama juga akan terjadi bila orang tua memaksa anaknya untuk menjadi bagian dari dunia entertainment, tanpa mengetahui keinginan maupun passion dari anaknya sendiri. Semua diarahkan seolah inilah jalan satu-satunya untuk mencapai kesuksesan, padahal dirinya melihat sendiri bahwa tidak ada ketertarikan dari anaknya. Apakah ia tidak memikirkan bagaimana letih dan sulitnya bagi anak-anak yang hanya ingin menjalani hidup biasa seperti teman seusianya namun malah disibuk-kan dengan kegiatan di dunia entertainment yang begitu padat.
Anak akan berpotensi mengalami depresi karena harus menjalani rutinitas shooting yang padat setiap harinya kala masih kecil, hal itu tentu tidak dapat dilepaskan dari peran orang tuanya. Hal ini akan memunculkan kecenderungan memiliki kepribadian yang lemah sehingga memicu depresi, kepribadian ini disebabkan oleh peran orang tua yang terlalu mengatur hidupnya sehingga apapun yang dilakukan akan selalu dianggap salah dan tidak didukung.
Orang tua mungkin bermaksud baik ketika mereka memposting konten anak mereka di media sosial, tetapi sebagai orang tua sebaiknya berpikir dua kali apakah postingan itu akan aman atau dapat memberikan jejak digital yang buruk. Sebagai orang tua yang punya kendali atas anaknya perlu memilih konten dengan bijak, jangan memfilmkan adegan memalukan yang bisa mengganggu kepercayaan diri anak saat dia sudah cukup besar dan melihat hasilnya nanti. Orang tua tidak berhak memaksa bila anak tidak tertarik dengan kegiatan yang dilakukan, anak punya hak untuk menolak bila mereka tidak suka dan orang tua tidak bisa memaksa. Apabila orang tua membiarkan, menempatkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau ikut serta melakukan eksploitasi pada anak secara ekonomi atau seksual, orang tua dapat terjerat pasal 88 UU nomor 35 Tahun 2014 tentang sanksi pelaku eksploitasi anak berupa pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 200.000.000 .
Sebagai orang tua yang seharusnya menjadi penengah antara gempuran hal negatif era global ini malah menjadikan anak sebagai tameng ekonomi karena dianggap lebih mudah digerakkan, padahal anak-anak ini tidak mengerti bahwa klaim komersial mungkin berlebihan. Sebagai orang tua seharusnya mampu menempatkan diri, karena orang tua adalah guru pertama bagi anak-nya, akan menjadi apa anak nanti adalah bentukan dari orang tua.[]
*Penulis adalah mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), email : staniaaurellia11@gmail.com












