Rokok adalah lintingan yang digulung dengan kertas yang berisi tembakau atau bahan lainya yang dihasilkan dari tanamam Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica yang mengandung nikotin dan tar. Asap rokok menyebabkan berbagai masalah kesehatan bagi bayi dan anak-anak, termasuk serangan asma yang lebih sering dan parah, infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).
Banyak orang yang sudah kecanduan merokok dengan berbagai alasan, diantaranya: mengusir rasa stress atau jenuh, ingin mencoba rokok karena harganya murah dan mudah didapat. Asap rokok yang dihirup oleh perokok aktif dan pasif menyebabkan gangguan fungsi siliaris, peningkatan jumlah lendir, perubahan mood dan munculnya perubahan kuantitatif dan kualitatif pada komponen seluler. Beberapa perubahan dalam mekanisme pertahanan menjadi normal hanya setelah terpapar asap tembakau. Selama pasien ISPA terus terpapar asap rokok, pertahanan tubuh terhadap infeksi akan terus terganggu sehingga memperpanjang waktu penyembuhan.
Pada tahun 2016 status gizi merupakan faktor risiko ISPA, bayi dengan status gizi buruk memiliki risiko ISPA 9,1 kali lebih besar dibandingkan bayi dengan status gizi baik. Gizi kurang merupakan faktor risiko utama terjadinya kasus ISPA pada balita akibat asupan yang tidak adekuat. Malnutrisi mencegah pembentukan antibodi spesifik dan juga menghambat pertahanan paru-paru. Seperti yang kita ketahui, banyak perokok aktif maupun pasif di Indonesia.
Para remaja, bapak-bapak, hingga lansia saja masih ada yang suka merokok. Merokok menyebabkan banyak sekali dampak buruk untuk kesehatan. Seperti udara segar yang biasa dapat kita hirup, harus tercemar dan terganggu dengan adanya asap rokok. Selain itu, asap rokok juga berdampak sangat buruk untuk kesehatan. Seperti menyebabkan kanker tenggorokan, kanker paru-paru, bronchitis, bahkan kematian.
Para perokok kadang dinilai oleh masyarakat sebagai orang yang tidak bermoral. Contohnya banyak remaja yang masih bersekolah. Jika, ada seorang remaja yang mengalami kecanduan merokok akan di nilai tidak baik. Dan para lansia yang masih menyukai rokok juga lama-lama tidak baik untuk kesehatannya . Di khawatirkan juga organ-organ tubuhnya seperti paru-paru akan mengalami kerusakan.
Di tahun 2016 lalu saja, Indonesia mengalami kasus buruknya gizi anak yang disebabkan asap rokok. Kebanyakan para bapak di Indonesia tentu perokok aktif dan sangat candu nikotin. Mengapa bisa hanya asap rokok saja anak di Indonesia mengalami gizi buruk? Karena kebanyakan bapak memilih menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada membeli kebutuhan pokok rumah seperti makanan yang bergizi untuk anaknya. Tidak hanya itu, asap rokok juga akan mempengaruhi kesehatan pernapasan anak. Seperti yang disebutkan Ketua Satuan Tugas Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr Bernie Endyarni Medise, Sp, A(K), MpH “Asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang anak.” Untuk mencegah kasus seperti ini, keluarga prokok harus mendapatkan pengetahuan.”
Pengaruh perilaku merokok yang kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orang tua mengurangi biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan dan lainnya. Artinya, jika belanja rokok dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, kesempatan keluarga miskin untuk belanja makanan bergizi akan jadi lebih besar.Data menguak pengeluaran rumah tangga untuk rokok dan tembakau tercatat sebesar 10,5% lebih tinggi dari pengeluaran untuk membeli ikan, sayuran, dan daging. Dari sini terlihat tarik menarik yang kuat antara konsumsi rokok, kejadian stunting, dan kemiskinan.
Teguh Dartanto, PhD, Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI sekaligus penanggung jawab penelitian tim riset PKJS menjelaskan lebih rinci, “Kami mengamati berat badan dan tinggi anak-anak karena dampak perilaku merokok orang tua dan konsumsi rokok pada stunting.”
Riset menemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok.”
Teguh menambahkan, penelitian ini menegaskan bahwa anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0.34 cm lebih tinggi daripada mereka yang tinggal dengan orang tua perokok kronis. Ini menunjukkan bahwa perokok aktif atau kronis cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil.
Dengan memperhitungkan faktor genetik dan lingkungan dari anak, penelitian menegaskan adanya bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orang tua perokok kronis memiliki probabilitas mengalami stunting 5.5% lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok.
Selain itu, kondisi stunting ini akan menyebabkan penurunan kecerdasan anak. Peningkatan pengeluaran rokok sebesar 1% (butir persen/percentage point) akan meningkatkan probabilitas rumah tangga menjadi miskin naik sebesar 6%.
Semakin besar risiko dan semakin lama anak terpapar asap rokok, dapat memperbesar potensi stunting pada anak. Hal itu dapat mempengaruhi IQ anak menjadi jauh lebih pendek dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak merokok termasuk menyebabkan tinggi badan anak menjadi lebih pendek. Selain bapak, ibu hamil yang merokok juga menyebabkan janin memiliki risiko gangguan kesehatan seperti lahir dengan berat badan rendah (BBLR), prematur, mengalami kecacatan bawaan hingga kematian. Pada organ tubuh anak, anak cederung mudah terkena asma, gangguan penglihatan pada matanya mudah terpapar penyakit berbahaya seperti bronkitis dan leukemia serta fungsi kepandaian menjadi menurun.
Menurut pendapat saya, perilaku merokok pada orang tua berpengaruh pada kesehatan anak karena melalui asap rokok dapat memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak. Saya setuju jika asap rokok dapat membahayakan pertumbuhan kembang anak. Selain stunting dan gangguan gizi lainnya, asap rokok juga dapat mempengaruhi pernapasan dan kematian. Banyak para bapak di Indonesia telah mengutamakan uang bulanan membeli rokok daripada makanan sehat yang dibutuhkan oleh keluarganya. Sehingga perlunya pengetahuan dari setiap keluarga di Indonesia mengelola uang dan pengetahuan tentang bahayanya asap rokok untuk anak. Salah satu cara untuk mencegah kenaikan masalah stunting dengan mengedukasi masyarakat dengan menggunakan media yang menarik dan mudah dipahami, seperti poster, video,leaflet, dan media lain.
Diperlukan komitmen penuh pemerintah untuk menjalankan dan menguatkan kebijakan pengendalian tembakau, seperti dengan menaikkan cukai dan harga eceran rokok secara signifikan yang terbukti efektif menurunkan konsusmsi rokok. Upaya menaikkan harga rokok bisa menjadi solusi untuk mengalihkan pendapatan yang awalnya untuk konsumsi rokok kepada akses pemenuhan gizi anak, dan juga perlu menegakkan Program Kawasan Tanpa Rokok.[]***
Pengirim :
Monika Adelia Raisyah, mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), email : monikarsy@gmail.com














