Ekonomi Indonesia di Tengah Badai Global: Tumbuh Kuat, Tetap Waspada

Di saat ekonomi dunia masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Laporan Ekonomi Indonesia Terkini edisi Maret 2026 menggambarkan sebuah situasi yang menarik: tekanan eksternal memang meningkat, tetapi fondasi domestik masih cukup kokoh untuk menjaga laju ekonomi tetap bergerak. Bahkan, probabilitas resesi Indonesia pada Maret 2026 tercatat hanya 5%, jauh di bawah Amerika Serikat, China, dan Brazil.

Ketidakpastian global terutama dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, yang memicu gejolak di pasar komoditas dan pasar keuangan. Dampaknya terasa cepat: harga minyak Brent melonjak 66% year-to-date ke level USD101 per barel, batu bara naik sekitar 25% year-to-date, dan emas ikut menguat sekitar 18% sebagai aset lindung nilai. Di saat yang sama, pasar keuangan global juga menjadi lebih sensitif, dengan penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, serta pelemahan sejumlah pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Indonesia belum kehilangan pijakan. Ekonomi nasional tumbuh 5,11% sepanjang 2025, lalu menguat menjadi 5,39% pada kuartal IV-2025. Capaian ini bukan hanya menandakan pemulihan yang berlanjut, tetapi juga menunjukkan daya tahan konsumsi rumah tangga dan investasi di tengah lingkungan global yang tidak mudah. PDB nominal Indonesia pada 2025 tercatat Rp23.821 triliun, sementara PDB per kapita naik menjadi Rp83,75 juta atau setara USD5.082.

Baca Juga :  Minimnya Pendidikan Anak-Anak di Desa

Jika dilihat dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11%, PMTB tumbuh 5,09%, sementara ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan 7,03% setahun penuh. Ini menandakan bahwa aktivitas domestik masih menjadi mesin utama, dengan perdagangan dan investasi ikut memberi dorongan tambahan.

Kinerja tersebut juga tercermin di banyak sektor usaha. Industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan total kontribusi lebih dari 45%. Sektor transportasi dan pergudangan, jasa lainnya, serta jasa perusahaan juga tumbuh tinggi, didorong oleh mobilitas masyarakat, peningkatan aktivitas wisata, serta penyelenggaraan berbagai event nasional dan internasional. Secara spasial, Sulawesi tumbuh 6,23% dan Jawa 5,3%, keduanya berada di atas rata-rata nasional.

Di sisi harga, Februari 2026 mencatat inflasi 0,68% month-to-month dan 4,76% year-on-year. Angka ini memang berada di atas target, namun laporan menegaskan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi low base effect akibat diskon tarif listrik pada awal 2025 yang menekan indeks harga konsumen pada periode pembanding. Tekanan juga datang dari komponen bergejolak, terutama daging, ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Dengan kata lain, inflasi yang naik kali ini lebih banyak mencerminkan efek basis dan dinamika pangan, bukan gejolak harga yang tak terkendali.

Baca Juga :  Festifal Gunung Slamet di Purbalingga

Dari sisi fiskal, APBN kembali memainkan peran sebagai penyangga utama ekonomi. Pada Februari 2026, defisit fiskal terjaga di level 0,53% terhadap PDB, masih jauh di bawah ambang 3%. Penerimaan pajak tumbuh 30,4% sampai Februari 2026, terutama ditopang PPN dan PPnBM yang menunjukkan aktivitas ekonomi dan transaksi yang meningkat. Di saat yang sama, belanja kementerian/lembaga melonjak 85,5% karena pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dan penyaluran bansos.

Pemerintah juga masih menjaga arah kebijakan makro secara hati-hati. Dalam asumsi dasar ekonomi makro 2026, pertumbuhan ekonomi dipatok 5,2%, inflasi 2,5%, nilai tukar Rp16.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN 10 tahun 6,9%. Asumsi ini memperlihatkan bahwa pemerintah menempatkan stabilitas sebagai prasyarat utama, sembari tetap membuka ruang bagi pertumbuhan yang berkualitas.

Ketahanan eksternal Indonesia pun masih terjaga. Neraca perdagangan tetap surplus, rasio utang luar negeri terkendali, defisit transaksi berjalan berada dalam batas aman, dan cadangan devisa tetap tinggi. Memang, Neraca Pembayaran Indonesia 2025 mencatat defisit USD7,8 miliar akibat tekanan pada neraca jasa, pendapatan primer, dan transaksi finansial. Namun, laporan juga menegaskan bahwa fondasi eksternal masih sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerentanan serius.

Baca Juga :  Pemkab Aceh Utara Gelar Pelatihan Manajemen Pakan Ternak

Sektor keuangan turut memberi sinyal yang menenangkan. Pada Januari 2026, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga tercatat 13,48% year-on-year, kredit tumbuh 9,96%, dan NPL tetap terjaga di level 2,14%. Artinya, likuiditas perbankan masih memadai untuk menopang pembiayaan ekonomi, sementara kualitas aset juga belum menunjukkan tekanan berarti.

Di tengah segala tantangan itu, satu pesan utama dari laporan ini cukup jelas: Indonesia tidak sedang kebal terhadap guncangan global, tetapi memiliki cukup banyak penyangga untuk menahan dampaknya. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5%, inflasi yang masih bisa dikelola, fiskal yang disiplin, serta sektor keuangan yang terjaga menjadi modal penting untuk melangkah ke 2026 dengan optimisme yang tetap realistis. Tantangannya sekarang bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan itu tetap merata, berkualitas, dan tahan terhadap gejolak yang datang dari luar.[]

Penulis :
Alya Amara Zahra, Mahasiswi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Islam Tazkia

banner 300250