Energi Fusi Nuklir Sebagai Energi Masa Depan

Opini0 Dilihat

Oleh : Akmal Fardin*

Setelah COP yang ke-12 (Conference of the Parties) yang diselenggarakan di Paris, isu mengenai perubahan iklim menjadi perhatian utama. Konferensi tersebut menghasilkan sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Paris Agreement. Perjanjian ini berisi komitmen bangsa-bangsa dunia untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata bumi abad ini agar tidak melebihi 1,5 derajat selsius. Emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama kenaikan suhu iklim bumi disebabkan oleh penggunaan energi yang berasal dari fosil makhluk hidup. Ketergantungan dunia terhadap sumber energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi harus segera dihentikan. Maka dari itu, dunia membutuhkan sumber energi alternatif sebagai pengganti sumber energi fosil.

Energi alternatif ini disebut sebagai energi terbarukan. Energi terbarukan adalah sumber energi yang berasal dari energi alam yang terus ada dan dapat digunakan secara terus-menerus. Upaya menemukan sumber energi terbarukan bukan menjadi hal yang baru. Selama ini kita telah mengenal beberapa sumber energi terbarukan seperti cahaya matahari, angin, panas bumi, dan gelombang air laut. Sumber energi ini telah banyak dimanfaatkan di berbagai belahan dunia.

Walau energi tersebut telah cukup lama dimanfaatkan sebagai alternatif sumber daya fosil, penggunaanya belum cukup masif. Energi-energi tersebut belum dapat menggantikan sumber energi fosil. Hal ini terjadi karena masalah efisiensi dan kurang ekonomisnya sumber daya energi terbarukan tersebut.

Maka dari itu, diperlukan satu sumber energi alternatif lain yang lebih efisien dan lebih ekonimis. ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) sebagai sebuah organisasi yang berfokus pada penelitian dan pembuatan replika fusi nuklir matahari sebagai sumber energi masa depan. ITER memiliki proyek penelitian fusi nuklir terbesar di dunia yang berbasis di Perancis. Proyek yang dimulai tahun 2007 dan diharapkan rampung pada tahun 2025 ini diharapkan dapat menjadi terobosan teknologi dalam bidang energi terbarukan.

Jika kita mendengar mengenai fusi nuklir, maka pada umumnya yang terbayang di kepala kita adalah pembangkit listrik tenaga nuklir. Kemudian juga terbayang tentang unsur-unsur radioaktif seperti uranium, plutonium, dan rhodium. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah umum dikenal memiliki prinsip kerja fisi nuklir bukan fusi nuklir. Reaksi fisi dan reaksi fusi adalah contoh dari transmutasi buatan. Transmutasi buatan adalah perubahan inti atom yang sengaja dilakukan manusia di dalam sebuah reaktor.
Reaksi fisi adalah reaksi pemisahan atom dengan inti berat karena ditembak oleh partikel neutron. Dilansir dari Britannica encyclopedia saat atom berat ditembak oleh partikel, inti atom akan pecah menjadi dua atom yang lebih ringan disertai dengan pelepasan energi yang besar. Reaksi fisi hanya membutuhkan sedikit energi untuk dapat terjadi, energi ini digunakan untuk mempercepat partikel yang ditembakkan. Partikel dipercepat oleh akselelator sehingga memiliki energi yang cukup untuk sampai ke inti atom.

Dilansir dari Departemen Energi Amerika Serikat, energi yang dihasilkan oleh reaksi fisi 1 juta kali lebih banyak dibandingkan yang dihasilkan sumber energi lain. Itulah mengapa reaksi fisi banyak digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir. Reaksi fusi adalah kebalikan dari reaksi fisi nuklir. Jika pada reaksi fisi nuklir yang terjadi adalah reaksi pemisahan atom, maka pada reaksi fusi nuklir yang terjadi adalah reaksi penggabungan. Dilansir dari Artikel Teknologi reaksi nuklir fusi adalah penggabungan dari inti-inti atom untuk membentuk satu inti atom yang lebih berat, serta diikuti pelepasan energi yang besar. Reaksi fusi terjadi ketika dua isotop atom bermassa rendah, biasanya Hidrogen, berfusi membentuk atom baru, yang biasanya Helium, di bawah tekanan dan temperatur ekstrim. Pada reaksi fusi ini energi yang dihasilkan empat kali lebih besar dibandingkan dengan reaksi fisi nuklir. Juga pada reksi fusi tidak menghasilkan limbah radioaktif seperti reaksi fisi.

Penerapan reaksi fusi ini memiliki segudang manfaat bagi kehidupan manusia karena energi yang dihasilkan sangat besar. Keuntungan yang didapatkan dari pemanfaatan energi fusi nuklir seperti menyediakan energi yang berlimpah, menghasilkan energi sesuai permintaan, bebas polusi, sumbernya berlimpah di alam yaitu deutronium, titranium, dan yang paling utama adalah lebih aman dan minim kebocoran seperti yang dilansir dari CNN.com.

Dari begitu banyaknya keuntungan yang didapat dari pemanfaatan energi fusi nuklir, sayangnya Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam hal pengembangan teknologi nuklir. Jangankan berbicara mengenai teknologi fusi nuklir yang begitu mutakhir, dalam pengembangan teknologi fisi nuklir saja Indonesia belum bisa. Padalah Indonesia ini memiliki BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) yang telah didirikan cukup lama. Memang betul dalam hal pengembangan teknologi nuklir membutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu yang lama. Lamanya proses pengembangan dimulai dari awal hingga dihasilkannya listrik membutuhkan waktu paling tidak selama lima belas tahun. Belum lagi iklim perpolitikan juga menjadi sebab tertinggalnya Indonesia dalam pengembangan nuklir. Juga hal-hal lain seperti lahan, kemudian keamaan, kesehatan lingkungan, limbah radioaktif, bentuk negara yang kepulauan, dan masih banyak hal lainnya yang menjadi tantangan bagi pemerintah negara ini.

Memang sangat disayangkan. Jika saja Indonesia berhasil membuat teknologi fusi nuklir, maka Indonesia telah menguatkan satu benteng pertahanan negeri yaitu energi. Bayangkan energi tersedia begitu banyak. Masyarakat tidak perlu membayar atas penggunaan listrik karena energi tersedia bagaikan udara yang dihirup. Indonesia akan menjadi negara yang sangat kuat. Terlihat sangat utopis tapi itu perlu diperjuangkan.
Sebagai rakyat penulis memiliki harapan kepada para pejabat negeri ini untuk melihat dan mepelajari lebih dalam mengenai teknologi fusi nuklir ini.

Mungkin banyak yang menilai bahwa pengembangan teknologi ini sama sekali tidak memiliki urgensi. Karena negeri ini masih banyak memiliki sumber cadangan energi fosil atau pun masih dapat memanfaatkan energi-energi alternatif lain. Tapi tidak ada salahnya jika penelitian pembuatan, dan pengembangan dilakukan sejak saat ini. Indonesia dapat belajar kepada Tiongkok yang telah merealisasikan teknologi fusi nuklir. Mungkin tidak lama lagi Tiongkok akan menjadi negara yang bebas dari yang namanya krisis energi. Krisis yang sedang menyiksa Eropa karena mereka masih sangat bergantung dari gas alam yang pasokannya terbatas sejak perang Rusia dan Ukraina meletus. Banyak kesempatan dan waktu bagi Indonesia untuk belajar. Demi membuat negara ini menjadi negara yang kuat.[]

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, email : akmal.fardi22@mhs.uinjkt.ac.id