Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman mulai dari suku, ras, budaya bahkan bahasa. Indonesia sendiri merupakan bangsa yang multilingual, dimana bangsa yang memiliki kurang lebih 718 bahasa daerah. Untuk mempermudah berkomunikasi dengan banyaknya keberagaman bahasa daerah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Maka bangsa Indonesia memiliki bahas resmi, bahasa persatuan, bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki peran penting bagi warga negara Indonesia terutama dalam hal berkomunikasi, karena komunikasi adalah kegiatan yang setiap harinya dilakukan oleh manusia. Maka dari itu dibutuhkan bahasa persatuan agar tidak terjadi kesalah pahaman antar individu saat berkomunikasi.
Tidak dapat dipungkiri masih banyak warga negara Indonesia yang belum menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Maka dari itu perlu adanya kesungguhan dalam menggunakan bahasa Indonesia, untuk dapat menjaga keutuhan bahasa Indonesia dari pengaruh perkembangan zaman yang semakin maju. Bahasa Indonesia saat ini sedang diuji dengan perkembangan zaman yang berlangsung di ikuti dengan perkembangan teknologi dan komunikasi pastilah membawa dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi dan komunikasi bagi eksistensi bahasa Indonesia adalah pergeseran bahasa Indonesia yang digantikan oleh bahasa asing dan bahasa gaul.
Media Sosial merupakan salah satu hasil dari perkembangan zaman dimana setiap individu dapat mengakses dengan mudah berbagai media sosial yang tersaji saat ini, mulai dari Instagram, Facebook, Tiktok, Twitter, Line, WhatsApp dan berbagai media sosial lainya. Jika dilihat lebih jauh penggunaan bahasa Indonesia di media sosial masilah memprihatinkan. Karena dalam bermedia sosial masyarakat Indonesia lebih khusus kaum milenial cenderung menggunakan bahasa yang sudah tercampur dengan bahasa asing dan terdapat banyaknya pemendekan kata yang sedang tren saat ini. Bahasa yang mereka gunakan untuk bermedia sosial menggambarkan bagaimana eksistensi bahasa Indonesia yang semakin redup.
Bahasa informal merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh berbagai kalangan usia dalam bermedia sosial, karena setiap individu menggunakan bahasa sehari-hari dalam bermedia sosial. Namun jika dilihat lebih jauh terdapat banyak percampuran bahasa mulai dari bahasa asing, bahasa daerah hingga bahasa gaul yang mengalami pemendekan kata. Bahasa-bahasa seperti ini dianggap lebih keren saat digunakan dalam bermedia sosial. Jika fenomena seperti ini terus terjadi dan tidak mendapat perhatian lebih maka bahasa Indonsia dapat pudar seiring berkembangnya zaman, disebabkan oleh ulah dari warga negara Indonesia sendiri yang terbwa oleh arus perkemangan zaman yang tidak baik.
Beberapa bukti penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam media sosial Tiktok Instagram dan Twitter. Tiktok menjadi salah satu media sosial yang sangat aktif dikunjngi setiap individu saat ini, berbagai caption dan komentar postingan orang lain dapat kita lihat secara cuma-cuma salah satu kesalahan berbahasa di media sosial tiktok “nana kiyowo banget mau aku karungin” percampuran bahasa korea dan bahasa Indonesia seperti ini banyak kita temui di berbagai media sosial salah satunya tiktok. Tidak jauh berbeda dengan tiktok, netizen yang aktif bermain Instagram memiliki ciri berbahasa seperti “cakep semua inimah, ikan cucut ikan hiuu seunghan so kyuttt ailopyuu” komentar salah satu pengguna instagra ini memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik, karena terdapat banyak ejaan yang tidak tepat terlebih lagi terdapat percampuran dengan bahasa Inggris yang juga tidak sesuai.
Beberapa unggahan remaja yang menggunakan media sosial twitter dan tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan. Cuitan yang mereka tulis seperti pada kalimat “wdyt abot temenan bertiga? Sender ngerasain sering dilupain” dan “yang pernah dtg ke konser, outfit kalian gimana deh? Sender bingung takut salah outfit.. Kl pake kemeja trs bawa totbaeg sama sepatu terlalu gmn gaa? Makasii.” cuitan seperti ini merupakan kesalahan berbahasa yang dilakukan remaja. Terdapat percampuran bahasa dan banyak pemendekan kata yang tersaji dalam cuitan tersebut. Gaya bahasa seperti ini bagi para kaum remaja dianggap sangat gaul, para remaja milenial akan merasa lebih bangga saat mereka dapat menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi karena remaja kebanyakan akan menggunakan gaya bahasa yang praktis dan kekinian.
Contoh gaya berbahasa yang terdapat di atas tidak mencerminkan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa karena tidak sesuai dengan konteks, jika gaya berbahasa seperti ini digunakan dalam forum resmi maka dapat menimbulkan kasus hukum sesuai dengan UU No. 24 tahun 2009 mengenai hukum pidana bagi siapa saja yang secara sengaja melakukan pelanggaran dalam pnggunaan bendera, bahasa dan lambang negara serta lagu kebangsaan.
Dari sini masyarakat Indonesia masih perlu bimbingan dalam berbahasa agar dapat sadar pentingnya bahasa Indonesia untuk kehidupan bernegara sebagai identitas bangsa Indonesia. Oleh sebab itu sebagai generasi penerus bangsa seharusnya kita menanamkan sikap disiplin dalam berbahasa Indonesia, dengan sikap disiplin yang kita terapkan akan membawa dampak positif bagi diri setiap individu dimana dapat menanamkan jiwa kebangsaan dan dapat menjadikan bahasa Indonesia tetap ekesis dan lestari sesuai dengan kaidah bahasa Indonsia di tengah arus perkembangan zaman yang sekarang sedang berlangsung.[]***
Pengirim :
Tariska Artavia Pratama, Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta, email : pratamatariskaartavia@gmail.com
