Meskipun menurut data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik Kementrian Pertanian stok pangan nasional diprediksi akan mengalami surplus hingga bulan Juni 2020, namun hal ini bukan berarti bahwa Indonesia serta merta terbebas dari ancaman krisis pangan yang bisa terjadi di masa mendatang. Ditambah lagi, masa pandemi COVID-19 yang belum pasti akan berakhir kapan memiliki dampak yang sangat terasa di bidang pertanian. Berita tentang covid mungkin sudah memudar di dunia pertelevisisan namun covid masih ada sampai sekarang.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa dan negara Indonesia tidak luput dari berbagai gejolak dan ancaman dari dalam negeri maupun luar negeri yang nyaris membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Meskipun demikian, bangsa dan negara Indonesia telah mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya terhadap ancaman dari luar antara lain agresi militer Belanda dan mampu menegakkan wibawa pemerintah dengan menumpas gerakan separatis, bahkan merebut kembali Irian Jaya.
Dengan posisi geografis, potensi sumber kekayaan alam, serta besarnya jumlah dan kemampuan penduduk yang dimilikinya, Indonesia menjadi ajang persaingan kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara besar dan adikuasa. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan dampak negatif terhadap segenap aspek kehidupan dan mempengaruhi, bahkan membahayakan, kelangsungan hidup dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Indonesia terdiri dari 2/3 lautan, menjadikan Indonesia memiliki peluang yang sangat besar bagi pengembangan budidaya laut. Sumber daya laut dapat memberikan sumber protein yang sangat berkualitas dengan harga yang relatif murah.
Pemanfaatan laut sebagai pemenuhan kebutuhan pangan dapat berupa pemanfaatan perikanan laut dan rumput laut. Ikan merupakan sumber protein dan omega 3 yang mudah didapat dan memiliki harga yang relatif murah, dan rumput laut memiliki kandungan mineral yang tinggi. Pemanfaatan kedua bahan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan jika dilakukan secara maksimal. Namun dalam pemanfaatannya mengalami beberapa kendala seperti infrastruktur terbatas, SDM berkualitas terbatas, dan eksplorasi yang kurang (kompasiana/dewi.alfiah).
Jika dilihat secara umum Indonesia memiliki potensi produksi pangan yang sangat luas. Mulai dari pegunungan hingga perairan dapat dijadikan sumber produksi pangan. Potensi-potensi tersebut meliputi sumber daya alam berupa lahan layak tanam yang sangat luas, budidaya perikanan atau tambak dan sistem irigasi perairan. Penggunaan teknologi di bidang pertanian juga termasuk potensi produksi pangan, seperti penggunaan pupuk, alat pertanian, mesin, bibit, dan segala sarana dan prasarana yang berhubungan. Dalam pemanfaatannya pemerintah dengan pihak terkait di bidangnya mengadakan berbagai program guna memaksimalkan semua potensi yang dimiliki. Namun tidak bisa dipungkiri tetap ada permasalahan yang muncul terkait produksi pangan itu sendiri. Selain itu Permasalahan yang muncul yaitu ketersediaan sarana produksi. Sarana produksi meliputi benih, pupuk, pakan ternak, hingga obat-obatan perawatan hewan dan tumbuhan. Saat ini penyedia sarana produksi dengan kualitas unggulan masih sangat kurang dengan kemampuan petani yang berdaya beli rendah. Hal tersebut berdampak pada hasil panen yang kurang maksimal.
Permasalahan yang timbul dalam produksi pangan sendiri dapat berupa faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal meliputi keadaan alam, iklim, dan cuaca serta faktor internal meliputi Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu penyebab masalah produksi pangan yang pertama ialah peningkatan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global. Perubahan iklim global memberikan dampak negatif terhadap produksi pangan karena memengaruhi pola dan intensitas hujan, kenaikan permukaan air laut, peningkatan intensitas dan frekuensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Peningkatan suhu akibat pemanasan global dapat memperpendek masa generatif tanaman dan meningkatnya serangan hama dan penyakit mengakibatkan menurunnya produksi pangan. Risiko banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau juga dapat terjadi akibat perubahan iklim yang ekstrem. Permasalahan yang kedua yaitu kondisi infrastruktur pertanian dalam negeri.
Bila ingin ketahanan pangan nasional dapat dipertahankan, petani sebagai pejuang pangan harus dinomor satukan. Kemudian oleh karena itu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah harus mendorong keseriusan keadaan petani yang ada di Indonesia. Ditengah dilandanya penurunan krisis pangan seperti sekarang pemerintah bisa memberikan bantuan kepada petani, seperti pengiriman bibit unggul, tambahan subsidi pupuk, atau tambahan bantuan sembako untuk mereka. Seperti halnya yang saya ketahui sekarang, lahan kosong milik pemerintah pusat perlu dibuka agar dapat digarap oleh para petani supaya hasil produksi pertanian meningkat. Oleh daripada itu sudah menjadi tugas seluruh masyarakat indonesia ikut serta dalam menjaga ketahan pangan nasional. diera sekarang kesadaran dari pemerintah untuk para petani itu perlu sejalan dengan para masyarakat untuk membuat kesejahteraan dan petanipun terlindungi dari kekurangan pupuk seperti harga pupuk tidak terlalu mahal.[]***
Pengirim :
Akhyar Firdaus, mahasiswa Jurusan Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), email : firdausaf453@gmail.com
