Cara orang berbelanja telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Kita sekarang dapat membeli barang lebih awal dan kemudian membayarnya setelah itu jika dulu kita harus memastikan bahwa kita memiliki cukup uang sebelum membeli. Fenomena ini menjadi lebih jelas sejak fitur paylater tersedia di banyak aplikasi digital.
Anda dapat melakukan semua hal, mulai dari membeli kebutuhan sehari-hari hingga membeli tiket liburan, dengan beberapa klik.Bahkan layanan seperti Shopee, Gojek, dan Traveloka sudah menggunakan pembayaran sebagai fitur andalan mereka. Sangat praktis memang. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan yang agak mengganggu: apakah ini benar-benar membantu atau hanya menjebak?
Dari perspektif positif, paylater jelas punya manfaat. Fitur ini dapat membantu dalam situasi tertentu. Misalnya, meminjam di Paylater dapat lebih cepat dan mudah daripada meminjam di tempat lain ketika Anda tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan mendesak Anda.
Selain itu, sistem cicilan mengurangi biaya karena beberapa orang tidak dapat membayar sejumlah besar uang secara langsung. Paylater dapat membagi beban itu dalam beberapa bulan, membantu beberapa orang mengatur keuangan mereka.
Tapi di sinilah letak masalahnya. Kemudahan sering kali membuat batas antara “butuh” dan “ingin” jadi kabur. Tanpa sadar, banyak orang mulai menggunakan paylater bukan karena terdesak, tapi karena tergoda.Diskon, diskon, dan kemudahan akses adalah kombinasi yang sulit untuk ditolak.
Akibatnya, tagihan datang dalam jumlah yang lebih besar daripada satu. Yang terasa ringan pada awalnya menjadi lebih berat. Jika pembayaran ditunda, denda dan bunga juga dapat meningkatkan jumlah yang harus dibayar.
Masalah ini juga menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan. OJK sering mengingatkan bahwa menggunakan layanan keuangan digital seperti paylater harus dibarengi dengan pemahaman yang tepat tentang tanggung jawab yang terkait dengan penggunaan layanan tersebut.Karena pada dasarnya, ini masih utang dan bukan “uang tambahan”.
Yang sering tidak disadari, paylater juga bisa membentuk kebiasaan.Ketergantungan dapat muncul ketika seseorang mulai terbiasa membeli sekarang dan membayar kemudian. Lama-kelamaan, pola ini dapat berdampak pada cara seseorang mengelola keuangan mereka secara keseluruhan.
Apakah kita harus menghindari paylater secara keseluruhan? Itu tidak benar. Kami menggunakannya dengan cara yang sama seperti hal lain dalam hidup. Paylater tetap bermanfaat selama digunakan dengan hati-hati dan terkontrol.
Mungkin yang perlu diingat sederhana saja: jangan gunakan paylater untuk sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda. Dan sebelum memutuskan membeli, coba tanya ke diri sendiri—ini benar-benar butuh, atau cuma ingin?
Pada akhirnya, paylater bukan sepenuhnya solusi, tapi juga bukan musuh. Ia bisa jadi keduanya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena kemudahan yang kita nikmati hari ini, tetap harus dibayar—kalau bukan sekarang, ya nanti.[]
Penulis :
Siti Rosdianti, mahasiswi Jurusan Manajemen Bisnis Syariah, Universitas Tazkia, email : dhiyan282@gmail.com
