#KaburAjaDulu: Ketika Struktur Sosial tak lagi Memberi Harapan

Opini0 Dilihat

Fenomena viral #KaburAjaDulu yang menyapu media sosial Indonesia awal 2025 bukan sekadar tren atau candaan digital generasi muda. Tagar ini mencerminkan kegelisahan kolektif, khususnya di kalangan anak muda, terhadap struktur sosial dan ekonomi yang dinilai tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan mereka. Banyak dari mereka mempertimbangkan untuk pergi ke luar negeri demi mencari peluang yang lebih menjanjikan. Apakah ini sekadar pilihan individu atau sinyal bahwa sistem sosial kita sedang tidak berfungsi sebagaimana mestinya?

Apa Itu Teori Struktural-Fungsional?

Teori struktural-fungsional merupakan salah satu pendekatan klasik dalam sosiologi yang dikembangkan oleh tokoh seperti Emile Durkheim dan Talcott Parsons. Teori ini memandang masyarakat sebagai sistem yang tersusun atas bagian-bagian yang saling bergantung, seperti institusi keluarga, pendidikan, agama, ekonomi, dan politik. Masing-masing bagian ini memiliki fungsi tertentu untuk menjaga keseimbangan dan keteraturan sosial.

Jika suatu bagian tidak berfungsi sebagaimana mestinya misalnya, sistem pendidikan tidak mampu menciptakan tenaga kerja yang kompeten atau sistem ekonomi gagal menyediakan peluang yang adil maka akan terjadi disfungsi. Disfungsi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan sosial dan mendorong individu merasa teralienasi atau bahkan keluar dari sistem itu sendiri.

Dalam konteks fenomena #KaburAjaDulu, teori ini menjadi relevan karena menunjukkan bahwa keinginan anak muda untuk meninggalkan Indonesia bukan semata-mata soal keinginan pribadi atau kurangnya nasionalisme. Sebaliknya, itu mencerminkan bahwa struktur sosial yang ada pendidikan, ekonomi, dan kebijakan publik tidak lagi menjalankan fungsi dasarnya untuk menciptakan keteraturan, mobilitas sosial, dan rasa memiliki di kalangan warga negara muda. Fenomena ini adalah respons terhadap sistem yang gagal menjawab kebutuhan dan aspirasi generasi penerus bangsa.

Baca Juga :  Rasisme Kesehatan Terhadap Black People di Amerika Serikat

Teori struktural-fungsional merupakan salah satu pendekatan klasik dalam sosiologi yang dikembangkan oleh tokoh seperti Emile Durkheim dan Talcott Parsons. Teori ini memandang masyarakat sebagai sistem yang tersusun atas bagian-bagian yang saling bergantung, seperti institusi keluarga, pendidikan, agama, ekonomi, dan politik. Masing-masing bagian ini memiliki fungsi tertentu untuk menjaga keseimbangan dan keteraturan sosial.

Jika suatu bagian tidak berfungsi sebagaimana mestinya misalnya, sistem pendidikan tidak mampu menciptakan tenaga kerja yang kompeten maka akan terjadi disfungsi. Disfungsi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan sosial dan pada akhirnya memunculkan keresahan atau perubahan dalam masyarakat. Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa masalah sosial bukan sekadar persoalan individu, tetapi berakar pada kerusakan atau ketidakefektifan sistem sosial itu sendiri.

Ketimpangan Ekonomi dan Minimnya Mobilitas Sosial

Indonesia diklaim sebagai ekonomi terbesar ketujuh dunia pada awal 2025. Namun di sisi lain, masih ada lebih dari 3 juta penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Di tengah gegap gempita pertumbuhan ekonomi, generasi muda merasa tidak punya tempat. Peluang kerja terbatas, upah minim, dan biaya hidup yang kian tinggi menjadikan narasi pertumbuhan tidak relevan bagi banyak anak muda di kota-kota besar.

Dalam kacamata struktural-fungsional, sistem ekonomi seharusnya menyediakan mekanisme distribusi yang adil. Ketika distribusi itu hanya dinikmati oleh segelintir elite, maka sistem ekonomi gagal menjalankan fungsinya. Disfungsi ini menciptakan rasa frustasi dan mendorong individu untuk keluar dari sistem, secara fisik maupun ideologis.

Lebih jauh lagi, ketimpangan antar wilayah memperburuk kondisi. Anak muda dari daerah terpinggirkan tidak memiliki akses pendidikan dan infrastruktur digital yang memadai, sementara tuntutan dunia kerja makin tinggi. Ini menciptakan jurang antara harapan dan kenyataan yang semakin melebar, mendorong rasa putus asa.

Baca Juga :  Pembelajaran Daring, Strategi apa yang Harus Dilakukan?

Pendidikan Tinggi: Janji yang Tak Terpenuhi

Pendidikan selama ini dipromosikan sebagai jalur mobilitas sosial. Namun realitasnya, lulusan sarjana menghadapi kesulitan mencari pekerjaan yang layak. Pemotongan anggaran pendidikan demi program makan siang gratis semakin memperparah kondisi. Kampus tidak hanya kehilangan dana, tetapi juga kehilangan daya dorongnya sebagai penggerak perubahan sosial.

Bagi generasi muda, sistem pendidikan tidak lagi menjamin masa depan. Ketika lembaga pendidikan gagal menjalankan fungsi sosialnya sebagai sarana pencapaian kesejahteraan dan kesetaraan, maka hasilnya adalah ketidakpercayaan. Dan dari ketidakpercayaan inilah lahir tagar seperti #KaburAjaDulu.

Lebih menyedihkan lagi, sistem pendidikan cenderung kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan zaman. Kurikulum yang tidak adaptif, minimnya pelatihan vokasi, dan ketidaksesuaian antara keahlian lulusan dengan permintaan industri menyebabkan lulusan tersesat di dunia kerja. Di saat yang sama, negara-negara lain menawarkan ekosistem yang lebih mendukung tak heran jika anak muda berpikir untuk mencari tempat yang lebih menjanjikan.

Ketidakjelasan Arah Kebijakan Publik

Kebijakan publik yang inkonsisten juga menjadi pemicu. Program-program populis seperti makan siang gratis tampak tidak sejalan dengan kebutuhan struktural generasi muda: lapangan kerja, jaminan sosial, dan ruang berekspresi. Aksi protes mahasiswa “Indonesia Gelap” menjadi bukti bahwa generasi ini tidak hanya kecewa, tetapi merasa tidak dianggap.

Dalam teori struktural-fungsional, sistem politik seharusnya menjalankan fungsi integratif, yaitu memastikan bahwa seluruh kelompok dalam masyarakat merasa memiliki dan dilibatkan. Ketika suara anak muda tidak diakomodasi, maka yang terjadi adalah keterputusan antara warga dan negara.

Selain itu, kurangnya transparansi dan partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan memperparah rasa keterasingan ini. Ketika keputusan dibuat tanpa mendengarkan suara masyarakat, terutama kaum muda, maka kepercayaan terhadap sistem otomatis menurun. Dalam konteks ini, #KaburAjaDulu menjadi simbol alienasi.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Canangkan Seluruh Becak di Indonesia Beralih ke Motor Listrik

Menuju Solusi: Membangun Kembali Kepercayaan

Tagar #KaburAjaDulu seharusnya menjadi alarm keras bagi pembuat kebijakan. Ini bukan tentang kurangnya nasionalisme, melainkan kehilangan rasa memiliki terhadap struktur sosial yang tidak lagi berpihak. Negara harus meninjau ulang kembali peran institusi-institusi kunci terutama pendidikan dan ekonomi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Solusinya tidak instan. Tapi langkah konkret seperti reformasi kebijakan ketenagakerjaan, pemulihan dana pendidikan, dan pelibatan anak muda dalam proses politik harus segera dilakukan. Jika tidak, eksodus talenta muda akan menjadi kerugian besar bagi masa depan bangsa.

Selain kebijakan, diperlukan pula pembaruan budaya birokrasi. Anak muda butuh ruang untuk berkontribusi, bukan hanya menjadi objek pembangunan. Diperlukan keterlibatan aktif mereka dalam inovasi sosial, kebijakan publik, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Generasi ini punya potensi besar, asalkan diberi kepercayaan.

Penutup

#KaburAjaDulu adalah gejala sosial dari sebuah struktur yang pincang. Teori struktural-fungsional membantu kita melihat bahwa masyarakat hanya akan stabil jika seluruh komponennya bekerja harmonis. Ketika anak muda mulai kabur, bukan mereka yang salah tapi struktur yang gagal menampung mimpi-mimpi mereka.

Kini, tugas kita bukan membungkam suara mereka, melainkan mendengar dan bertindak. Sebab harapan itu hanya akan tumbuh di tempat yang memberi ruang. Jika negara ingin mempertahankan generasi terbaiknya, maka mulailah dengan memperbaiki struktur yang selama ini justru mendorong mereka pergi.[]

Penulis :
Aldifia Putri, Mahasiswi Fakultas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar Sarang, email : fiaa40171@gmail.com

banner 300250