Dunia sinema Indonesia kembali dimeriahkan oleh sebuah film horor yang berlatar belakang pegunungan, yaitu Petaka Gunung Gede, sebuah karya yang mampu memadukan unsur budaya, alam, dan mistis dalam satu narasi yang mendebarkan. Film ini mengeksplorasi mitos dan rahasia yang melingkupi area Gunung Gede Pangrango, salah satu gunung berapi yang masih aktif dan terletak di perbatasan Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, di Jawa Barat
Disutradarai oleh Rizky Saputra, film ini menyajikan sebuah kisah petualangan yang berujung pada tragedi penuh ketegangan. Dengan durasi 1 jam 45 menit, Petaka Gunung Gede tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga menjadi cerminan dari interaksi manusia dengan alam, aspek spiritualitas, dan kepercayaan lokal yang sering dipandang sebagai mitos.
Sinopsis Pendakian yang Mengakibatkan Tragedi Kisah dimulai dengan sekumpulan mahasiswa pencinta alam yang memilih untuk melaksanakan ekspedisi ke Gunung Gede sebagai bagian dari tugas akhir mereka.
Tim yang terdiri dari enam anggota ini memiliki beragam latar belakang, mulai dari yang idealis, skeptis, hingga yang memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal mistis. Mereka adalah: Adit (pemimpin tim), Sari (yang peka secara spiritual), Rio (pendaki yang berpengalaman), Maya (pencari konten), Bima (yang skeptis), dan Tya (anggota baru yang pendiam).
Sejak awal perjalanan, sejumlah keanehan mulai dirasakan. Dari suara-suara aneh yang muncul di malam hari, penampakan bayangan di antara pohon-pohon, hingga mimpi buruk serupa yang dialami sebagian anggota tim. Namun, karena dorongan ego dan hasrat untuk menyelesaikan misi, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga tiba di area yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai “Puncak Terlarang”.
Tanpa diduga, pilihan untuk mendirikan tenda di lokasi itu menjadi awal dari mimpi buruk. Satu per satu, anggota tim mulai menghadapi pengalaman supranatural yang menakutkan. Ternyata, tempat tersebut merupakan daerah suci yang diyakini sebagai rumah bagi roh penjaga gunung.
1. Kekuatan Cerita dan Sentuhan Budaya Lokal
Yang menarik dari kisah Petaka Gunung Gede tidak hanya terletak pada elemen horornya, tetapi juga pada kemampuannya menggabungkan nilai-nilai budaya Sunda. Ini terlihat dari pemakaian bahasa daerah dalam beberapa percakapan, penampilan ritual tradisional yang sangat autentik, serta legenda tentang “penunggu” gunung yang dipegang oleh masyarakat setempat secara turun-temurun.
Film ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat modern sering kali mengabaikan aturan-aturan adat, meremehkan kebijaksanaan lokal, serta merasa lebih unggul dibandingkan dengan alam. Pesan moral utama yang terkandung dalam film ini adalah bahwa ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungan akan senantiasa mengakibatkan bencana.
2. Kualitas Produksi dan Sinematografi
Dari segi teknis, Petaka Gunung Gede bisa dibilang sangat mengesankan. Pengambilan gambar dilakukan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, memberikan kesan keaslian yang kuat.Kabut yang tebal, hutan yang rimbun, dan suara-suara alam dimanfaatkan dengan baik untuk menciptakan suasana yang menegangkan dan mengerikan.
Efek visual tidak berlebihan, tetapi cukup untuk meningkatkan rasa ngeri. Kekuatan utama film ini justru terletak pada atmosfer yang dibangun secara perlahan, melalui ketegangan dan kejutan yang sulit diprediksi. Musik latar yang diciptakan oleh komposer lokal, Dewa Arya, menambahkan elemen emosional dan spiritual pada setiap momen penting.
3. Performa Aktor dan Karakterisasi
Para pemeran dalam film ini bukanlah nama-nama terkenal di ranah perfilman, tetapi penampilan mereka sangat autentik dan mengesankan. Naufal Ramadhan yang berperan sebagai Adit menunjukkan kepercayaan diri sebagai sosok pemimpin yang akhirnya terguncang oleh rasa bersalah yang ia rasakan. Amanda Larasati, yang berperan sebagai Sari, menampilkan ekspresi yang mendalam dan berhasil membuat penonton merasakan ketegangan yang dirasakan oleh karakter yang dia mainkan.
Satu karakter lain yang menarik perhatian adalah peran dukun lokal yang dihidupkan oleh Didi Soekarno. Walaupun penampilannya singkat, tetapi dialog dan pesan yang disampaikan memberikan pengingat yang kuat tentang pentingnya menghormati batasan antara dunia manusia dan dunia yang tidak terlihat.
4. Reaksi Publik dan Dampaknya
Sejak diluncurkan pada akhir bulan Juni 2025, film ini segera mendapatkan sambutan yang baik dari penonton serta kritikus. Banyak yang memberikan pujian terhadap cara penyampaian film yang tidak umum, dan keberaniannya dalam mengangkat nilai-nilai lokal tanpa terkesan menggurui. Bahkan, beberapa kelompok pecinta alam dan spiritual menyelenggarakan diskusi serta acara nonton bersama untuk membahas tema yang diangkat dalam film ini.
Di platform media sosial, tagar #PetakaGunungGede sempat menjadi topik yang banyak dibicarakan selama dua hari berturut-turut. Banyak pengguna internet yang berbagi cerita serupa saat mendaki gunung dan merasa film ini sangat relevan dengan pengalaman mereka.[]
Penulis :
Nazwa Dwi Ramadani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang








