Mengenal Malnutrisi pada Balita

Malnutrisi pada balita merupakan salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia. Penyebab malnutrisi adalah kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi. Keadaan gizi balita akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan keberhasilan.

Berbagai masalah yang timbul akibat malnutrisi atau gizi buruk antara lain tingginya angka kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang disebabkan jika ibu hamil menderita KEP (Kurang Energi Protein) akan berpengaruh pada gangguan fisik, mental dan kecerdasan anak, juga meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi atau yang sering disebut dengan istilah Human Development Index (HDI).

Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan pertumbuhan dan identifikasi faktor risiko yang erat dengan kejadian luar biasa gizi seperti campak dan diare melalui kegiatan surveilans. Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk diIndonesia masih tinggi. Hasil Riskesdas menunjukkan adanya peningkatan prevalensi balita gizi kurang dan buruk secara nasional, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 19,6 persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9 persen gizi kurang.

Baca Juga :  Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

Diagnosis malnutrisi dapat diketahui melalui gejala klinis, antropometri dan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis malnutrisi berbeda-beda tergantung dari derajat dan lamanya deplesi protein dan energi, umur penderita, modifikasi disebabkan oleh karena adanya kekurangan vitamin dan mineral yang menyertainya.

Gizi buruk ringan sering ditemukan pada anak-anak dari usia 9 bulan sampai 2 tahun. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari pertumbuhan linier mengurang atau terhenti, kenaikan berat badan berkurang, terhenti dan adakalanya beratnya menurun, ukuran lingkar lengan atas menurun, maturasi tulang terlambat, rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun, tebal lipat kulit normal atau mengurang, anemia ringan, aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat, adakalanya dijumpai kelainan kulit dan rambut.

Gizi buruk berat memberi gejala yang kadang-kadang berlainan, tergantung dari dietnya, fluktuasi musim, keadaan sanitasi dan kepadatan penduduk. Berikut klasifikasi Gizi Buruk :

Marasmus
Tipe marasmus ditandai dengan gejala tampak sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel meskipun setelah makan, kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, perut cekung, rambut tipis, jarang dan kusam, tulang iga tampak jelas, pantat kendur dan keriput (baggy pant) serta iga gambang.

Baca Juga :  Pendidikan Berkualitas Menuju Indonesia Emas

Kwashiorkor
Tipe kwashiorkor ditandai dengan gejala tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh, pertumbuhan terganggu, perubahan status mental, gejala gastrointestinal, rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok, wajah membulat dan sembab, kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar, sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit, pembesaran hati serta anemia ringan

Marasmik-kwashiorkor
Gabungan beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.

Faktor terjadinya malnutrisi :
Asupan makanan
Kebutuhan nutrisi pada balita meliputi air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.

Status sosial ekonomi
Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita

Baca Juga :  Membangun Moralitas Remaja Sebagai Upaya Memperkuat Karakter Anak Bangsa

ASI
ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi sampai enam bulan, dan disempurnakan sampai umur dua tahun. ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi atau zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi.

Pendidikan ibu
Pendidikan diperlukan untuk memperoleh informasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Pengetahuan ibu
Gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari.

Penyakit penyerta
Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit. Seperti tuberculosis (TBC), diare persisten (berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih dan dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah/disentri) dan HIV/AIDS.

Berat Badan Lahir Rendah dan Kelengkapan imunisasi
Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi aktif (memproduksi antibodi sendiri ) dan imunisasi pasif (penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat).[]***

Pengirim :
Giwang Nawang Sari, mahasiswa Universitas Binawan, Jakarta

banner 300250