Menjadi Sarjana adalah Mimpiku

Surat Pembaca0 Dilihat

Dari dulu, dari umur 10 tahun tepatnya masih SD kelas 4 disitu saya selalu ditanya sama teman, guru, bahkan dari keluarga saya sendiri dengan pertanyaan ” apa cita-cita kamu”, mungkin waktu itu saya hanya menjawab “saya ingin menjadi sarjana, dan menjadi seorang guru”, saya mengerti tentang sarjana karna waktu itu saya bertanya kepada orang tua saya ” gimana caranya menjadi seorang guru bu?” ibu saya menjawab “kamu harus kuliah, dan mempunyai title sarjana nak” tapi dengan berjalannya waktu terkadang cita-cita saya berubah-ubah ingin menjadi seorang seorang dokter ataupun seorang pengusaha.

Begitulah masa SD yang belum mengerti apa itu cita-cita. Dengan berjalannya waktu saya mulai paham saya ingin menjadi apa, dan saya mulai paham apa itu cita-cita. Ketika menginjak SMP saya bercita-cita menjadi seorang dokter, karena menurut saya dokter adalah pekerjaan yang mulia, bisa membantu dan menolong orang yang sakit. Bahkan waktu itu saya pernah bermimpi ingin membangun klinik kesehatan gratis bagi orang-orang yang mempunyai biaya yang minim.

Baca Juga :  Membangun Ekonomi Syariah: Menuju Masa Depan Bebas Riba

Singkat waktu ketika sudah lulus SMP dan mau masuk SMK cita-cita saya berubah lagi, yaitu yang dulunya ingin menjadi dokter, kini sudah berubah ingin menjadi seorang pengusaha. Pemikiran saya pun semakin dewasa semakin matang. Saya ingin menjadi seorang pengusaha karna saya dari SMP itu sudah mulai berjualan online (olshop) nah disitu saya mikir, kayaknya lebih enak jadi pengusaha tidak ada yang mengatur, dan saya juga bisa membuka lowongan pekerjaan jika saya mempunyai usaha sendiri.

Disitu saya mikirnya hanya enaknya saja, tanpa mikir awal mula merintisnya, modalnya gmna, jatuh bangun menjadi seorang pengusaha. Lalu setelah menginjak SMK kelas 3 disitu banyak sekali teman-teman, bapak/ibuguru dan keluarga saya yang bertanya “setelah smk mau lanjut kuliah ga?” lalu saya menjawab “Ya, saya mau lanjut kuliah untuk mengejar cita-cita saya menjadi seorang sarjana” setelah lulus orang tua saya pesan kepada saya agar saya ketika kuliah mengambil jurusan tentang keguruan atau sarjana pendidikan (S.Pd). Sayapun setuju karna waktu kecil saya juga pernah bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Pekerjaan yang sangat mulia, memberikan ilmu kepada anak-anak yang belum mengerti. Dan sampai sekarang saya sedang berjuang untuk menjadi seorang sarjana pendidikan (S.Pd) sesuai dengan keinginan saya dan orang tua saya.

Baca Juga :  Kiai, Gus dan Guru Ngaji Dukung Grengseng Pamuji dan H. Sahid

Begitu banyak anak yang sangat beruntung sehingga tidak memanfaatkan peluang yang diberikan kepada mereka. Banyak orang menyia-nyiakan hidupnya dengan melakukan hal-hal yang tidak produktif. Banyak orang tua yang memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya karena alasan keuangan, tetapi tidak dengan orang tua saya.
Faktanya, semakin banyak orang tua yang bertanya, “Untuk apa bersekolah jika tidak ada jaminan kerja? ”bahkan ada orang tua yang mengatakan nanti juga ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga”.

Awalnya saya sempet ragu, karna saya tahu biaya kuliah pasti sangat mahal. tapi saya mulai yakin karna pada dasarnya, keterbatasan bukanlah akhir segalanya. Kita bisa meraih cita-cita dengan berbagai cara, namun bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial, Universitas Islam bisa menjadi sarana untuk mewujudkan cita-citanya untuk lulus. Percayalah bahwa rencana Tuhan itu indah dan rencana-Nya diluar pemahaman manusia. Oleh karena itu, doa dan kerja keras menjadi salah satu kunci kesuksesan.[]

Baca Juga :  Kesalahan yang Terjadi di Usia 20-an, Hindari Hal-Hal Berikut

Pengirim :
Chaerunisa Syifa Amanda, mahasiswi Universitas Islam K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, email : chaerunisasyifaamanda@gmail.com

banner 300250