SETIAP orang tua pasti ingin anaknya berkembang dengan optimal. Berdasarkan hasil penelitian, agar si Kecil dapat berkembang dengan baik, selain nutrisi yang lengkap dan seimbang, mereka perlu mendapatkan stimulasi yang tepat, sesuai dengan usianya. Stimulasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan kognitif anak. Selain menyesuaikan tahapan stimulasi dengan usia si Kecil, terdapat beberapa aspek pertumbuhan dan perkembangan anak yang harus diperhatikan, yaitu keterampilan berpikir, perkembangan fisik, perkembangan bahasa, dan perkembangan sosio-emosional. Untuk membantu para orang tua memberikan stimulasi yang tepat, berikut ini adalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak yang perlu dipahami :
Perkembangan Anak Usia 1-2 Tahun
Dalam periode ini, si Kecil akan tumbuh dan berubah dengan cepat. Oleh karena itu, Bunda disarankan untuk mengajak si Kecil berbicara sesering mungkin, karena dengan mendengar suara dan berkomunikasi dengan Bunda, kemampuan berkomunikasi si Kecil juga akan ikut berkembang.
Perkembangan Anak Usia 2-3 Tahun
Dari sisi motorik, jika si Kecil sudah berusia 2-3 tahun, umumnya mereka sudah bisa berjalan stabil atau bahkan berlari. Si Kecil pun juga akan mulai melompat pada kisaran usia ini. Selain dari sisi motorik, sisi psikologis si Kecil juga akan tampak lebih jelas ketika memasuki fase ini. Tidak hanya menunjukkan emosi ketika menolak atau menerima sesuatu, si Kecil pun sangat mungkin menunjukkan gejala tantrum. Namun Bunda tidak perlu khawatir, karena hal ini merupakan hal yang wajar karena si Kecil masih sulit dalam mengontrol sikap emosionalnya.
Sikap tantrum ini bisa disebabkan karena si Kecil masih mengalami kesulitan dalam mengutarakan keinginannya kepada Bunda. Keterbatasan bahasa bisa menjadi kendalanya. Untuk mengatasi hal ini, Bunda dapat mulai menerapkan kebiasaan membacakan buku cerita sebelum si Kecil tidur untuk melatih kemampuan berbahasa mereka, sehingga si Kecil mampu mengutarakan isi hati.
Selain itu, pada usia ini, Bunda juga diharapkan untuk sering mengajak si Kecil bermain dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya untuk membantu melatih pertumbuhan dan perkembangan anak dalam hal berkomunikasi serta mengelola emosi si Kecil.
Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun
Dalam fase usia ini umumnya kemampuan anak mulai dari berbahasa, kognitif, sensorik, dan emosi sudah mengalami perkembangan. Si Kecil mulai dapat mengenal pertemanan dimana mereka akan mulai untuk berinteraksi dengan banyak orang terutama teman seusianya. Pada pertumbuhan dan perkembangan anak usia ini, Bunda dapat mengajarkan si Kecil untuk mulai belajar menulis hingga menggambar. Pertumbuhan dan perkembangan anak juga dapat Bunda lihat dengan kemampuan mereka dalam membedakan warna dan mengenal huruf dan berhitung dengan angka dasar seperti 1 hingga 10. Ajak si Kecil untuk dapat berinteraksi sesering mungkin. Hal ini bisa Bunda lakukan dengan mengajaknya berbicara tentang kegiatan yang mereka lakukan, siapa teman yang disukai atau menanyakan hal menarik apa yang si Kecil alami pada hari itu. Hal ini akan membuat si Kecil merasa diperhatikan serta melatih kemampuan berbahasa mereka terutama.
Asupan Gizi yang baik untuk anak usia dini
Kesehatan adalah hal terpenting dan sangat berharga bagi masyarakat pada umumnya untuk mewujudkan kondisi ini, diperlukan asupan gizi yang cukup. Gizi merupakan zat makanan yang apabila dikonsumsi seseorang maka bisa mendatangkan kesehatan.
Jadi kesehatan dan gizi sangat berhubungan. Menyiapkan asupan gizi untuk anak merupakan hal yang penting untuk diperhatikan oleh orangtua. Karena asupan gizi yang diterima anak akan mempengaruhi proses tumbuh kembang mereka di usia dewasa kelak.
Menurut Dr.dr.Saptawati Bardosono, M.Sc, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pemenuhan gizi untuk anak sebaiknya dilakukan tidak hanya sejak lahir tapi sejak anak masih berada di dalam usia kandungan.
Manfaat asupan gizi terbaik bagi anak, antara lain: 1) Menjaga dan Memelihara Kesehatan ; Gizi sangat berkaitan erat dengan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup. Gizi yang baik bisa membantu mengoptimalkan fungsi tubuh, mencegah serta membantu penanganan penyakit; 2) Meningkatkan Kekebalan Tubuh; Sistem kekebalan tubuh anak terbentuk dari asupan gizi yang diterimanya sejak dini. Nutrisi ini diperlukan untuk membentuk sel-sel kekebalan tubuh untuk melawan berbagai virus dan penyakit yang bisa menyerang kapan saja. Dengan demikian, anak menjadi tidak mudah sakit dan terjaga kesehatannya.
Dan 3) Sumber Energi ; Untuk beraktivitas, bergerak, dan berpikir, tubuh membutuhkan energi yang mencukupi. Energi tersebut didapatkan dari gizi yang dikonsumsi sehari-hari.
Tahukah Anda bahwa kekurangan gizi bisa menimbulkan berbagai masalah pada anak? Efek paling sederhana adalah membuat tubuh lemah dan mudah terserang berbagai penyakit. Dalam jangka panjang, anak yang kekurangan gizi akan memiliki masalah dalam tumbuh kembangnya. Dari mulai pertumbuhan fisik hingga perilaku anak di masa dewasa.
Gizi Tepat untuk Anak Usia Dini
Pemberian gizi sehat disarankan dimulai sejak anak dalam usia kandungan hingga usia 3 tahun. Hal ini untuk membantu mengembangkan pertumbuhan sel-sel otak pada anak sejak mereka bayi. Dari usia kehamilan 6 bulan hingga anak berusia 2 tahun, pertumbuhan anak akan sangat cepat karena itu diperlukan banyak gizi untuk menyeimbangkannya. Gizi-gizi penting yang dibutuhkan anak pada rentang waktu tersebut adalah protein, karbohidrat, Vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, AA, DHA, sphyngomyelin, sialic acid, dan asam-asam amino seperti tyrosine dan tryptophan. Semua kebutuhan tersebut bisa di dapatkan oleh anak dari Air Susu Ibu (ASI). Itulah kenapa ibu disarankan untuk memberikan ASI selama anak berada pada usia dini.
Untuk anak usia balita, lakukan pemantauan pertumbuhan anak dengan cara penimbangan setiap bulan dan memonitor perkembangantumbuh kembang anak dari mulai lingkar kepala, berat badan, jadwal vaksin dan imunisasi sampai riwayat alergi.
Membiasakan Pola Makan Sehat
Di masa pertumbuhan, zat gizi yang mengandung energi, protein, vitamin, kalsium, dan zat besi memang wajib dikonsumsi anak. Sebaiknya, perhatikan hal ini agar anak terbiasa dengan pola makan sehat sejak dini : 1) Hindari makanan jajanan dari luar rumah; 2) Kenalkan dengan berbagai macam makanan sehat; 3) Biasakan sarapan pagi dan beri makanan bekal saat ke sekolah; 4) Hindari kegemaran terhadap satu jenis makanan; dan 5) Jika anak susah makan, ibu harus bersabar. Hindari memberikan susu atau makanan kegemaran.
Status dan Indikator Gizi Anak
Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi, dimana zat gizi sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai sumber energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh, serta pengatur proses tubuh (Auliya et al., 2015). Penilaian status gizi balita dapat diukur berdasarkan pengukuran antropometri yang terdiri dari variabel umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah.
Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Ketentuan yang digunakan dalam perhitungan umur adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari sehingga perhitungan umur adalah dalam bulan penuh yang artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan (Depkes, 2004). Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakitinfeksi maupun konsumsi makanan yang menurun.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gizi Anak
Menurut UNICEF ada tiga penyebab gizi buruk pada anak yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab mendasar. Terdapat dua penyebab langsunggizi buruk, yaitu asupan gizi yang kurang dan penyakit infeksi. Kurangnya asupan gizi dapat disebabkan karena terbatasnya jumlah asupan makanan yang dikonsumsi atau makanan yang tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan. Sedangkan infeksi menyebabkan rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik (Chikhungu et al., 2014).
Penyebab tidak langsung gizi buruk yaitu tidak cukup pangan, pola asuh yang tidak memadai, dan sanitasi, air bersih/ pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai. Penyebab mendasar atau akar masalah gizi buruk adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk bencana alam, yang mempengaruhi ketersediaan pangan, pola asuh dalam keluarga dan pelayanan kesehatan serta sanitasi yang memadai, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita (Santoso et al., 2013). []
Pengirim :
Yeni Ismawati
Mahasiswa INISNU Temanggung
Email : ismawatiyeni929@gmail.com













