MEDIA sosial merupakan media yang sangat membantu kita dalam berinteraksi dan mencari informasi. Namun, sering sekali masyarakat melihatnya sebagai hal buruk karena banyaknya tindak kejahatan dan perkelahian yang terjadi di media sosial, padahal di dunia nyata pun sering juga terjadi tindakan kejahatan dan perkelahian tersebut. Apakah bisa tindakan kejahatan tersebut dihilangkan saja? Tentu saja tidak bisa, yang bisa kita lakukan adalah berjaga-jaga dan mengembangkan karakter yang baik pada semua orang.
Salah satu cara untuk mengembangkan karakter yang baik adalah melalui ajaran agama. Dan dengan menggunakan media sosial semakin mudah untuk kita memberikan ajaran agama dan mengajak setiap orang untuk berbuat kebaikan. Namun dengan nilai-nilai agama yang berbeda, sering sekali ada perkelahian, sikap intoleran, bahkan sampai saling menghakimi sesama saudara sendiri sering terjadi.
Akan tetapi hal tersebut tidak akan mematahkan semangat kita untuk tetap bersatu. Dan kita sebagai mahasiswa, harus mampu bersikap baik dan mencari cara untuk menjaga kerukunan di mana saja terutama di media sosial. Salah satunya yaitu dengan melihat suatu permasalahan berunsur agama dari banyak sudut pandang.
Melalui kegiatan pembelajaran MKWK USU berbasis proyek, kami melaksakan kegiatan berupa Focus Group Discussion, dimana kami menyampaikan pandangan kami masing-masing untuk mencapai suatu solusi. Adapun permasalahan yang kami angkat yaitu, melihat banyak terjadi konflik adu komentar di media sosial yang berunsur agama dari berbagai kalangan. Dan tidak jarang kita temui banyak komentar yang membawa nilai agamanya namun terkesan menghakimi nilai agama yang lain di media sosial. Setiap pihak, terutama mahasiswa, harus mampu menggunakan media sosial secara bijaksana untuk menjaga kerukunan umat beragama, mendukung pembangunan nasional, serta mengembangkan kerukunan umat beragama di media sosial.
Namun hal apa yang dapat dilakukan mahasiswa dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di media sosial? Dinda dari jurusan Ilmu Sejarah memaparkan, “Salah satu cara yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menjaga kerukunan media sosial adalah dengan filtrasi informasi. Menyaring informasi dan tidak menelannya mentah-mentah, sebagai salah satu tindakan bijak dalam menggunakan media sosial. Mahasiswa dapat menjadi agen positif dalam menggunakan media sosial. Tidak mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan isu SARA ataupun hal sensitif lainnya. Bijak menggunakan media sosial juga diperlukan dalam menjaga kerukunan di media sosial dengan cara menggunakan sosial media seperlunya dan secukupnya saja untuk keperluan pribadi”.
Sementara menurut Agnes dari jurusan Ekonomi Pembangunan, “Sebagai mahasiswa harus mampu memberikan edukasi yang mudah dipahami oleh masyarakat media sosial tentang perbedaan nilai-nilai agama di Indonesia yang sangat beragam. Saya sering melihat di kolom komentar media sosial itu banyak yang terlalu menekankan nilai agama A kepada nilai agama B, yang jatuhnya malah saling menghakimi dan memberikan label buruk antar agama tersebut. Dan disini kita sebagai mahasiswa harus mampu menjaga kerukunan dengan berpikir secara ilmiah tentang nilai-nilai agama di masyarakat, dan memberikan penjelasan dari berbagai sudut pandang yang netral dan mengedukasi secara terus menerus, pantang menyerah”.
Sedangkan Jovan dari jurusan Arsitektur mengungkapkan, “Beberapa peran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam menjaga kerukunan adalah seperti mahasiswa dapat membenah dan menyadarkan kita semua pentingnya saling menjaga dan menghargai perbedaan yang ada di media sosial, mahasiswa juga dapat mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama tentang toleransi dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa juga dapat menunjukkan sikap toleransi dalam media sosial. Serta dalam peranan mahasiswa ini diharapkan adanya perubahan dan kesadaran umat beragama untuk tidak saling menjatuhkan lagi.”
Mengapa mahasiswa berperan penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di media sosial? Dinda dari jurusan Ilmu Sejarah mengatakan, “Mahasiswa berperan penting dalam menjaga kerukunan di media sosial karena mahasiswa merupakan salah satu aset penggerak di masyarakat. Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa menemukan informasi yang belum valid kebenarannya, kemudian ia tersulut emosi akan hal tersebut, maka akan menimbulkan keresahan dan keributan di suatu tempat. Mahasiswa sebagai remaja yang telah beranjak dewasa dapat memilah hal yang baik dan buruk. Mahasiswa juga dapat menjadi penyalur aspirasi apabila ada hal-hal di media sosial yang perlu diklarifikasi kebenarannya .”
Agnes dari jurusan Ekonomi Pembangunan berpendapat, “mahasiswa sudah terbiasa berpikir secara kritis dan melihat dari berbagai sudut pandang, kita juga mahasiswa terlatih mencari informasi dari berbagai sumber ilmiah dan edukatif lainnya, tidak hanya berdasarkan perkataan dari orang ke orang, namun juga dari berbagai sumber yang sudah terbukti kebenarannya. Kita sebagai mahasiswa juga sudah terbiasa memecahkan suatu permasalahan dan diberi harapan untuk memberikan solusi”.
Jovan dari jurusan Arsitektur menyampaikan, “Karena mahasiswa merupakan masa depan bangsa dan sangat berpengaruh dalam masyarakat, oleh karena itu peran mahasiswa itu sangat penting dalam menjaga kerukunan umat beragama. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memenuhi tugas intelektual saja tetapi juga dalam aspek sosial yang tinggi. Mahasiswa dapat menunjukkan sikap saling toleransi seperti saling menghormati dan menghargai sesama umat beragama maupun berbeda agama, dapat saling tolong menolong antar umat beragama dan juga dapat menghargai dan menerima perbedaan yang ada dalam setiap agama.”
Tentu kita sangat berharap dan senang dengan kerukunan yang ada, dan kita selaku mahasiswa agar selalu bijak dalam menggunakan media sosial dalam permasalahan apapun terutama permasalahan kerukunan yang terjadi di media sosial, dapat memberikan edukasi yang netral dalam berkomentar dari beberapa sudut pandang nilai-nilai agama di Indonesia, dan terakhir mahasiswa mampu memberikan contoh sikap toleransi dan edukatif yang benar di media sosial.
Pengirim :
Agnes Zevania Tampu Bolon, dkk
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) – Medan
Email : agnestampubolon20@gmail.com
