Potensi Wisata : Daya Tarik Benteng Kuto Panji, Belinyu

Opini0 Dilihat

Tepat pada tanggal 24 Desember 2014 yang lalu, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan menetapkan Benteng Kuto Panji yang terletak di Belinyu, Kepulauan Bangka Belitung sebagai salah satu cagar budaya Indonesia. Penetapan Benteng Kuto Panji berdasarkan surat keputusan bupati Bangka No.188.45/505/BUDPAR/2014. Benteng Kuto Panji dibangun oleh Portugis kisaran tahun 1570 sebagai gudang rempah-rempah, logistik dan persenjataan. Tahun 1669 Bong Hiung Fu berlayar dari pantai Shandong dan merebut benteng tersebut.

Lalu dijadikan sebagai basis kontrol geografis bagi jalur perekonomian, perdagangan dan pertahanan pasukan kekaisaran Qing. Sejarah ini dapat ditemui ketika mengunjungi Benteng Kuto Panji. Lebih lanjut, dikutip dari Kompas (2023) terdapat versi cerita lain yang diketahui masyarakat yakni dibangun pada abad ke-18 yang dibangun oleh Kapten Kong atas perintah Sultan Palembang. Lalu Benteng Kuto Panji mulai diperebutkan dan jatuh di tangan bajak laut yang disebut lanon, hingga saat ini hanya menyisakan puing-puingnya saja.

Seiring berjalannya waktu, Benteng Kuto Panji mulai berkembang menjadi tempat pariwisata yang memiliki sejarah. Benteng Kuto Panji di Belinyu, Kabupaten Bangka, memiliki potensi besar sebagai suatu destinasi wisata sejarah, meskipun perkembangannya masih dalam tahap berkelanjutan. Situs ini, yang merupakan peninggalan masa kolonial dan saksi bisu sejarah lokal, mulai didorong untuk menjadi sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi.

Sejak tahun 2014, Benteng Kuto Panji telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, mengukuhkan nilai pentingnya untuk dilestarikan. Upaya pengembangan pariwisata di sekitarnya ini terlihat dari inisiatif untuk meningkatkan aksesibilitas dan menjadikan area benteng Kuto panji sebagai perpaduan objek wisata sejarah, religi, dan alam, berdasarkan media lokal yang menyebutkan pembangunan taman wisata di depan Kelenteng Kuto Panji yang berdekatan.

Dilansir dari babel. Antaresnews.com ke depannya, pengembangan pariwisata Benteng Kuto Panji memerlukan fokus pada pelestarian nilai sejarah sekaligus peningkatan fasilitas bagi pengunjung. Pemerintah Kabupaten Bangka sendiri telah menyatakan komitmennya untuk mengembangkan objek wisata ini guna menarik wisatawan lokal maupun wisatawan luar, dengan rencana pemeliharaan dan pengelolaan yang tepat.

Seperti yang diberitakan, “Pemerintah Bangka Akan Kembangkan Benteng Kuto Panji” dengan tujuan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui sektor pariwisata. Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pegiat pariwisata, Benteng Kuto Panji diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu ikon wisata sejarah unggulan di Kabupaten Bangka, memperkaya pengalaman pengunjung dan memberi dampak positif bagi ekonomi lokal.

Pemerintah di tingkat pusat maupun daerah memegang peran penting dalam mendukung pengembangan wisata Benteng Kuto Panji. Dukungan dari pemerintah tidak hanya difokuskan pada pelestarian bersejarah tetapi juga untuk meningkatan potensi ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat sekitar tempat wisata. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan yaitu menyediakan anggaran untuk mengembangkan dan memelihara objek wisata.

Pemerintah Kabupaten Bangka berkomitmen untuk mengalokasikan dana sesuai dengan kemampuan keuangan daerah guna memastikan pengembangan Benteng Kuto Panji berjalan dengan optimal. Dana untuk digunakan renovasi fisik benteng, penataan lingkungan sekitar, serta penambahan fasilitas pendukung seperti pusat informasi, area parkir dll. Pengembangan infrastruktur menjadi bagian penting dari dukungan pemerintah dan juga partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan wisata Benteng Kuto Panji.

Dukungan pemerintah saja tidak cukup untuk keberhasilan pengembangan objek wisata Benteng Kuto Panji juga membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak seperti masyarakat lokal, media massa untuk menciptakan kinerja untuk mendukung kelangsungan dan kemajuan destinasi wisata tersebut.

Benteng Kunto Panji yang memiliki potensi pariwisata yang cukup besar sebagai situs sejarah dan budaya yang menarik. Benteng ini berfungsi sebagai pertahanan dari serangan bajak laut dan sebagai pusat kegiatan secara ekonomi. Pemerintahan Kabupaten Bangka yang berkomitmen dalam pengembangan potensi yang dimiliki oleh wisata Benteng Kunto Panji sebagai objek wisata melalui dengan perbaikan dan pengelolaan agar pengunjung tetap merasa nyaman, namun tidak merubah objek Benteng Kunto Panji tersebut.

Selain itu, terdapat juga pembangunan taman wisata dekat area wilayah Benteng Kunto Panji, yang dibangun dengan menggunakan konsep alam sehingga menjadi daya tarik wisatawan lainnya ketika berkunjung ke area wisata Benteng Kunto Panji. Wisata Benteng Kunto Panji kini sudah menjadi tempat destinasi wisata alam atau wisata edukasi dibalik sejarah yang dimiliki Benteng Kunto Panji yang memberikan wawasan mengenai sejarah lokal hubungan budaya antara masyarakat setempat dengan tiongkok, serta dinamika politik dan ekonomi, dan sebagai cagar budaya di wilayah Belinyu.

Melalui pengembangan potensi wisata Benteng Kunto Panji, yang mendukung berbagai lapisan masyarakat melalui program pengembangan sektor pariwisata guna meningkatkan pendapatan asli daerah sehingga terwujud kesejahteraan masyarakat yang merata (Kasmono, 2025).

Dalam perencanaan tata ruang kawasan wisata, penting untuk mengintegrasikan Benteng Kuto Panji ke dalam rencana induk pariwisata daerah (RIPPDA), yang mencakup zonasi, aksesibilitas, fasilitas pendukung, serta mekanisme pelestarian. Pemerintah daerah dan instansi terkait harus menyusun dokumen perencanaan berbasis data dan analisis kebutuhan yang spesifik untuk situs tersebut, sebagaimana yang telah diatur dalam pedoman pengelolaan destinasi wisata berbasis budaya (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2019).

Agar pengembangan wisata tidak merusak situs budaya, pendekatan pengelolaan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kemampuan wilayah. Kerangka pengelolaan yang cocok untuk Benteng Kuto Panji adalah pendekatan ekowisata yang menggabungkan konservasi, partisipasi masyarakat, dan edukasi wisatawan (Fandeli & Mukhlison, 2000). Sektor wisata tidak hanya mengutamakan pelestarian budaya dan lingkungan, tetapi juga membantu pertumbuhan ekonomi lokal melalui kegiatan wisata yang berkelanjutan.

Keberhasilan pengelolaan destinasi wisata budaya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Dalam jangka panjang, keterlibatan masyarakat Belinyu dalam menjaga, mempromosikan, dan mengelola Benteng Kuto Panji dapat menguntungkan ekonomi dan melestarikan nilai lokal. Pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pelatihan, dan penyuluhan adalah beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mendorong pemberdayaan (Nuryanti, 1993).

Pada saat ini tata kelola wisata semakin membaik melalui infrastruktur pembangunan dan dekorasi tempat kelenteng masyarakat Tionghoa dan ditambah lagi dengan Danau Kayangan yang membuat daya tarik tersendiri. Dalam lingkungan ekowisata, pembentukan danau merupakan bagian penting dari manajemen ekologis dan tujuan estetika.

Danau dapat berfungsi sebagai zona penyangga terhadap banjir, habitat keanekaragaman hayati lokal, dan tempat untuk aktivitas wisata air seperti perahu, pendidikan lingkungan, atau zona rekreasi. Pembangunan ekowisata yang berkelanjutan harus mengimbangi kebutuhan pengunjung, pelestarian lingkungan, dan partisipasi masyarakat lokal (Fandeli & Mukhlison, 2000).[]

Penulis :
Deby Afriyani, Dessy Kurnia Sari, Gina Veranty, Hestika Nabila, Riyadus Soleha (Mahasiswi Sosiologi, Universitas Bangka Belitung)