UPACARA ngarot dilatari oleh peristiwa adanya seorang tokoh masyarakat bernama Ki Kapol. Semasa hidupnya, ia senang mengumpulkan bujang-cuene (muda-mudi) sambil mengadakan makan-makan dan minum di tempat tinggalnya. Oleh karena rasa sayang bujang-cuene kepada Ki Kapol, sebagai balas jasa, mereka secara gotong royong membantu menggarap sawah milik Ki Kapol yang berluas 2, 610 hektar pada waktu itu. Kesempatan itu sekaligus digunakan unut memberikan pembeajaan cara bertan yang benar.
Kegiatan tersebut berjalan terus setiap tahun dan dalam perkembangannya disertai hiburan berupa kesenian topeng dan ronggeng ketuk. Setelah masa penjajahan Belanda ditambah dengan kesenian jidur (tanjidor). Manakala Ki Kapol menduduki jabatan kuwu (kepala desa) Desa Lelea, kegiatan bujangcuene dipindahkan dari balai adat (rumah Ki Kapol) ke balai desa.
Ketika Ki Kapol habis masa jabatannya sebagai kuwu, karena Ki Kapol tidak mempunyai keturunan, sawah miliknya yang biasa digarap bujang-cuene diserahkan ke pemerintah desa dengan syarat pesta bujang-cuene tersebut harus tetap berjalan. Selanjutnya, pesta bujang cuene tersebut dinamai upacara ngarot. Kata ngarot berasal dari bahasa Sunda Lelea yang artinya makanminum (Samian, 1992: 1).
Demikian kegiatan terus berlangsung pada setiap tahunnya.Setiap dua minggu usai acara pesta (upacara ngarot), bujang-cuene kemudian ditugasi untuk durugan (menggarap sawah). Ada kepercayaan apabila sawah warisan tersebut digarap oleh bujang-cuene, hasilnya akan baik. Kepercayaan ini menguat oleh karena dilatari adanya suatu peristiwa. Saat itu, seorang kuwu tidak menyetujui sawah kasinoman digarap oleh bujang-cuene. Ketidakpercayaan tersebut karena melihat hasil kerja bujang-cuene yang dianggap kurang baik. Yakni, jarak penanamannya kurang beraturan.
Adanya anggapan seperti itu, pengolahan sawah lalu diserahkan kepada kuli. Namun demikian ternyata hasilnya bukan menjadi lebih baik, melainkan padi banyak terserang hama. Sejak itu, tradisi yang sudah dirintis oleh Ki Kapol dikembalikan seperti pada awalnya.Yakni, sudah menjadi keharusan sawah warisan Ki Kapol digarap oleh bujang-cuene. Berikutnya, oleh karena sawah milik Ki Kapol tersebut digarap oleh bujang-cuene maka sawah tersebut disebut sebagai sawah kasinoman. Istilah kasinoman berasal dari kata enom yang artinya muda.
Upacara ngarot telah berlangsung sejak abad ke-16. Sebutan ngarot diucapkan oleh masyarakat Lelea maupun luar Lelea. Sedangkan istilah kasinoman, hanya merupakan istilah intern atau dengan kata lain hanya digunakan oleh masyarakat Lelea. Kasinoman berasal dari kata enom (orang muda) atau sinom (daun asam yg muda). Daun asam yang muda terlihat bercahaya dan indah, sehingga banyak disukai orang. Demikian halnya harapan dari para peserta upacara. (Ria Intani Tresnasih dan Lasmiyati tahun 2016).
Proses dan Pelaksanaan Tradisi Ngarot
Ngarot merupakan tradisi yang dimiliki oleh Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat yang diwariskan oleh sesepuh Desa Lelea yaitu Ki Buyut Kapol. Ngarot selalu dilaksanakan untuk mengawali musim tanam di sawah yang akan digarap oleh para Kasinoman (muda-mudi) ketika musim penghujan datang antara bula oktober sampai dengan bulan desember Waktu pelaksanaan upacara adat Ngarot secara turun temurun jatuh pada hari Rabu Wekasan yaitu antara bulan Oktober dan November setiap tahunnnya.
Upacara adat Ngarot melibatkan berbagai pihak dalam pelaksanannya seperti pemuda-pemudi, kepala desa beserta istri, para wakil lembaga desa, dan juga para seniman. Selain itu upacara Ngarot juga di iringi berbagai bentuk kesenian tradisional seperti kesenian tari topeng, tari ronggeng ketuk, alat musik tanjidor, reog serta sampyong. (Ayu Riyanti tahun 2018).
Ngarot selalu dilaksanakan untuk mengawali musim tanam di sawah yang akan digarap oleh para Kasinoman (muda-mudi) ketika musim penghujan datang antara bulan oktober sampai dengan bulan desember. Waktu pelaksanaan upacara adat Ngarot secara turun temurun jatuh pada hari Rabu Wekasan yaitu antara bulan Oktober dan November . Hari Rabu merupakan hari yang mutlak untuk melaksanakan upacara adat ngarot, pemilihan hari rabu yang mutlak hal dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat Lelea yang mempercayai apabila tidak dilaksanakan pada hari Rabu maka akan datang bala bencana. Ketika tiba dihari pelaksanaan tradisi Ngarot bujang dan cuwene mempersiapkan pakaiannya dari pagi buta, yaitu sekitar pukul 04.00-06.00 WIB. (Ayu Riyanti tahun 2018).
Tradisi Ngarot merupakan tradisi yang hanya boleh diikuti oleh kalangan pemuda dan pemudi warga Desa Lelea yang masih perjaka dan perawan. Bagi yang sudah menikah atau sudah berkeluarga tidak diperkenankan untuk ikut dalam kegiatan ini, karna pemuda dan pemudi yang masih perjaka dan perawan merupakan simbol kesucian yang terjaga dari lahan pertanian yang akan ditanami sawah dan dapat bisa diartikan sebagai keberkahan yang diselamatkan oleh Tuhan sehingga akan menuai hasil yang maksimal.
Kesiapan perlengkapan sudah dilakukan sebelum hari upacara terutama untuk menata tempat upacara di balai desa oleh pamong desa, menyiapkan bahan-bahan pembuatan nasi kuning dan sesaji yang dilakukan istri pamong desa, membuat rangkaian bunga kenanga dan melati untuk dikenakan oleh cuene. Dini hari sebelum upacara berlangsung, istri pamong desa memasak nasi kuning untuk dihidangkan pada saat acara di balai desa dimulai. Sementara itu, bujang-cuene berdandan dengan perlengkapan upacara di rumahnya masing-masing.
Berpakaian kebaya, sewet (kain panjang), selendang, ikat pinggang dan sandal atau selop. Mengenakan rias wajah yang cantik dan menarik. Mengenakan perhiasan setenong, seperti bros, gelang, kalung, cincin, jepit kain, untaian peniti, dan giwang. Memakai hiasan rambut berwarna bunga dari kertas jagung, melati, dan rangkaian kenanga. Adapun janur yang dirangkai segitiga pakaian bujang berupa komboran atau pakaian bertani yang terdiri dari celana komprang dan atasan serba hitam dan memakai iket.
Tahapan Upacara Adat Ngarot yaitu sebagai berikut : 1) Sehari sebelumnya dilakukan persiapan ritual, menata sesajen dan doa menjelang tradisi ngarot dimulai di ruangan khusus yang disediakan di bale desa Lelea; 2) Persiapan merias pengantin ngarot, baik pria atau wanita yang membutuhkan waktu yang cukup lama di rumah pengantin masing-masing; 3) Pengantin pria dan wanita masuk ke pelataran rumah kepala desa yang dijadikan tempat berkumpul utusan dari berbagai daerah sekitar; 4) Penerimaan dan persiapan pawai bersama dengan seluruh pengantin, seluruh aparat desa dan penggerak PKK desa dan dihibur dengan musik Tanjidor; 5) Pawai keliling sepanjang jalan desa sebelum memasuki arena bale desa; 6) Rombongan masuk ruang bale desa untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara adat; 7) Proses upacara adat dengan uraian sebagai berikut.
Selanjutnya, yang ke 8) Pidato kepala desa yang berisi nasihat sesepuh Desa Lelea dan pembukaan ngarot secara resmi secara simbolis dengan cara memukul gong dan memercikkan air ke kepala para pengantin wanita. Bunyi nasihat tersebut adalah Mikiran budak keuna kuma (memikirkan masa depan anak), Kajeun boga harta kudu tetep usaha (walaupun memiliki banyak harta harus tetap berusaha), Keur ngora ulah poyapoya (ketika masa muda jangan hidup berfoya-foya), Kamberan kolot ulah sengsara (supaya di masa tua tidak sengsara), Jalma lalaki kerja ewena usaha (laki-laki harus bekerja, perempuan yang berusaha), Neangan pekaya rukun runtut (mencari kekayaan harus bersama- sama), Aturan agama kudu diturut (seluruh aturan agama harus ditaati), Selamat dunia jung akheratna (selamat di dunia maupun diakherat); 9) Pembacaan sejarah tradisi Ngarot secara singkat; 10) Pidato sambutan dari Kepala Desa Lelea.
Berikutnya yang ke 11) Penyerahan benih padi oleh kepala desa kepada laki-laki bujang. Penyerahan benih padi dimaksudkan gar bibit padi segera ditanam oleh para bujang sampai mendapat hasil panen yang sangat melimpah; 12) Penyerahan kendi yang berisi air putih oleh istri kepala desa kepada perempuan/cauene. Maksud dari prosesi ini adalah supaya benih padi yang ditanam tidak pernah mengalami kekurangan air serta supaya air dalam kendi menjadi obat penyubur tanah sehingga menghasilkan panen yang melimpah; dan 13) Serah terima alat-alat pertanian, seperti cangkul dan parang oleh Raksa Bumi (pengurus sawah dan tanah desa) kepada laki-laki atau bujang.
Prosesi Penyerahan Terdiri dari : a) Kuwu (Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya benih tersebut agar ditanam dan disebar; b) Ibu kuwu (Istri Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya adalah untuk mengobati tanaman padi yang telah ditanam sebagai lambang pengairan; c) Tetua desa menyerahkan pupuk, maksudnya adalah agar tanaman tetap subur; d) Raksa bumi menyerahkan alat pertanian, maksudnya adalah untuk mengolah tanah pertanian dengan baik; dan e) Lebe (sebutan tokoh agama di Indramayu) menyerahkan sepotong bambu kuning, daun androing dan daun pisang yang akan di tancapkan di sawah, maksudnya adalah agar tanaman padi terhindar dari serangan hama.
Tujuan Adat Ngarot Menjadi Ajang Pencarian Jodoh
Tradisi Ngarot adalah upaya membangun pergaulan yang sehat melalui perkumpulan para pemuda-pemudi yang akan diberi tugas bertani dan menggarap lahan persawahan. Dalam naskah Desa Lelea kuno, tradisi langka tersebut adalah proses penggambaran bahwa remaja putra dan putri memiliki perumpamaan sebagai lahan pertanian dan tanaman padi yang akan ditanam di sana.
Bisa disimbolkan juga dengan saling mengajarkan satu sama lain antar para pemuda dan pemudi melalui proses gotong royong untuk mengolah sawah. Tradisi Ngarot bisa diartikan sebagai penentu keberhasilan tanaman padi yang ditanam oleh warga setempat, untuk memunculkan rasa saling hormat melalui simbolisasi antara remaja laki-laki dan perempuan, sehingga antar kedua golongan remaja tersebut bisa menjalankan aturan kehidupan yang tidak melanggar norma dan sesuai anjuran nenek moyang.
Adat “Ngarot” Tradisi Leluhur Yang Membanggakan
Pada tahun 2015, Adat Ngarot telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh _United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization_ (Unesco), sebuah Organisasi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan.
Tradisi adat ngarot adalah tradisi nenek moyang yang sangat membanggakan, bagaimana tidak, tradisi ini telah ditetapkan sebagai budaya tak benda oleh Unesco. Tradisi ini tentunya membawa kembanggan terhadap masyarakat Desa Lelea.
Tujuan Tradisi Ngarot dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sebab sudah diberi kesempatan pada musim menanam padi di sawah. Tujuan primer ngarot ialah mengajak para kaum muda untuk berperan serta bekerja sama dalammemajukan pertanian, khususnya pada hal mengolah padi di sawah. Selain itu, diperlukan juga para pemuda dapat membina pergaulan sehat dengan cara saling mengenal, saling menjaga sikap serta perilaku, kehendak yg sesuai dengan tuntunan agama dan adat budaya Sunda. Terkadang tradisi masyarakat agraris ini jua dijadikan ajang cari jodoh antar pemuda serta pemudi di Kampung Lelea.
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian. Selain negara agraris indonesia juga dikenal dengan negara multikultural yang memiliki keberagman adat istiadat. Salah satunya upacara pertanian yang biasa disebut dengan upacara adat ngarot yang berasal dari Desa Lelea, Kabupaten Indramayu.
Tradisi adat ngarot ini sudah dimulai sejak abad ke-16, dimana tujuan adat ngarot ini adalah sebagai wujud ungkapan syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan kepada para petani berupa rahmat dan rizki.
Upacara ngarot dilaksanakan di bulan November-Desember ketika musim hujan datang. Biasanya pelaksanaan upacara ini dilakukan pada hari rabu, karena ada kepercayaan mutlak yang mereka terapkan, jika melakukan upacara adat ngarot dilakukan pada hari rabu maka para petani akan bisa memanen padi dengan lancar. Tetapi jika upacara itu dilakukan selain bukan hari rabu mereka akan beranggapan bahwa panen para petani akan gagal.[]
Pengirim :
Hilmi Baharudin
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Email : hilmibaharudin1807@gmail.com
