Mengenal Metode Analisis Dasar Hasil Pengukuran

Secara tidak sadar, setiap manusia telah mencoba menerapkan analisis sejak masih kanak-kanak. Wawasan dan informasi baru yang diperoleh, kemudian menjadi dasar munculnya ide, pendapat, atau prasangka baru. Analisis kemudian menjadi salah satu kunci utama dalam dunia pendidikan. Semua disiplin ilmu menerapkan metode analisis untuk memahami sebuah permasalahan dan memecahkannya, sehingga kemudian dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang analisis, mulai dari apa itu pengertian analisis, tujuan, jenis jenis dan contoh analisis atau analisa. Pengertian Analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditafsir maknannya. (Wirahadi).

Dalam definisi lain, Analisis adalah proses menyadari sesuatu dengan teliti dan hati-hati, atau menggunakan data dan metode statistik untuk memahami atau menjelaskan hal tersebut. Definisi ini merupakan rumusan umum tentang analisis. Dunia bahasa atau linguistik juga menerapkan analisis. Metode ini biasanya digunakan untuk mendalami struktur bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu, dalam situasi tertentu, atau pada media tertentu, baik secara khusus maupun luas.

Analisis bahasa mengenal tiga jenis metode pendekatan. Yaitu pendekatan sinkronik, yang menggunakan variabel waktu. Artinya analisis dilakukan terhadap fenomena terkait bahasa yang terjadi dalam waktu tertentu.Metode kedua adalah pendekatan diakronis yang merupakan kebalikan daripada sinkronis. Analisis ini menggunakan penelusuran data bahasa dari zaman ke zaman.

Umumnya dilakukan untuk memahami sejarah perubahan bahasa hingga dipakai pada masa kini.Sedang, metode ketiga adalah pendekatan pankronis yang menggabungkan dua jenis pendekatan sebelumnya. Metode yang satu ini menggunakan data dalam bentuk statistik berdasarkan klasifikasi tertentu, untuk memahami fenomena bahasa secara lebih objektif.

Yang menjadi rumusan permasalahan diantaranya mengenai apa pengertian distribusi tunggal?, apa pengertian distribusi golongan? apa perbedaan antara rata rata, median, modus,dan simpang baku, serta perbedaan kurva normal dan kurva juling.

Sedangkan tujuannya penulis adalah untuk mengetahui apa pengertian distribusi tunggal, untuk mengetahui apa pengertian distribusi golongan, untuk mengetahui perbedaan antara rata-rata, median, modus, dan simpang baku, dan untuk mengetahui perbedaan kurva normal dan kurva juling.

Pengertian Distribusi Tunggal

Distribusi frekuensi tunggal merupakan salah satu bentuk penyajian data yang hanya memiliki rentan nilai atau frekuensi sedikit. Sebagai contoh terdapat sebuah data hasil nilai ulangan siswa kelas 2 SU ICBB :
Data Tunggal : 86, 87, 90, 80, 89, 85, 86, 90, 75, 50, 80, 85, 90, 80, 90, 90

Data Tunggal adalah data yang berisikan angka-angka asli sesuai dengan perolehan data dari lapangan yang masih berbentuk sederhana dan masih belum dikelompokkan dalam kelas interval.

Pengertian Distribusi Golongan

Dalam perbincangan sebelumnya kita mengukur tendensi sentral dalam bentuk data yang masih sederhana, dan dengan jumlah yang belum banyak dan kompleks. Bagaimana jika kita menghadapi jumlah data yang sangat banyak variabilitasnya, apakah bisa dikerjakan dengan distribusi tunggal?

Pada prinsipnya bisa, akan tetapi seorang analis akan mengalami banyak kesulitan teknis. Untuk itu statistik memperkenalkan konsep distribusi berkelas atau sering dikenal dengan distribusi bergolong. Apa itu distribusi bergolong, dan apa perbedaannya dengan distribusi tunggal?

Distribusi bergolong merupakan tabel yang akan memetakan data dengan cara meringkas data pembentukan golongan-golongan atau kelas-kelas. Agar data yang komplek tersebut tidak perlu ditulis semua, maka diperlukan kelas yangtetap mengcover data yang tersedia. Perbedaan dengan distribusi tunggal lebih terletak kepada pemaknaan kelas, kalau distribusi tunggal setiap score atau nilai akan langsung menjadi kelas, akan tetapi dalam distribusi bergolong kelas akan mewakili score atau nilai tertentu.

Dalam aplikasinya nanti, agar kelas tetap konsisten mewakili data maka akan dipergunakan suatu konsep titik tengah kelas. Titik tengah ini yang nantinya akan dipakai dalam prosespengolahan data berikut, baik dalam mencari mean, median, maupun modusnya.

Perbedaan antara Rata rata, Median, Modus dan Simpang Baku

Simpang rata-rata adalah perbandingan antara jumlah simpangan -simpangan dengan banyaknya data. Median adalah nilai tengah dari set data yang diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar. Modus adalah angka yang paling sering muncul dalam set data.

Simpang baku atau juga yang sering kita kenal dengan nama devias istandard adalah ukuran persebaran data. Kurva normal merupakan suatu poligon yang dilicinkan yang mana ordinatnya memuat frekuensi dan absisnya memuat nilai variabel. Bentuk kurva normal adalah simetris, sehingga luas rata-rata (mean) ke kanan dan ke kiri masing-masing mendekati 50 %. Memiliki satu modus, jadi kurva unimodal.

Ada dua masalah penting yang menjadi pusat perhatian statistika deskriptif, yaitu tendensi sentral dan variabilitas. Tendensi sentral atau kecenderungan memusatnya suatu sekor dalam suatu kelompok dapat diartikan sebagai suatu sekor atau angka yang menjadi titik anjak sebaran menaik ataupun menurun dengan satuan jarak yang sarna.

Satuan jarak yang sarna inilah yang menjadi ukuran variabilitas atau kecenderungan menebar yang diartikan sebagai besar-kecilnya angka atau sekor dalam suatu distribusi
sekor yang merupakan tolok ukur pembeda antar sub-kelompok dalam distribusi tersebut. Dalam konsep kurva normal, titik anjak sebaran ini diwujudkan dengan simbol angka nol dan angka + J untuk setiap anjakan naik, seJangkan angka -I untuk setiap anjakan turun.

Titik anjak sebaran ini dapat berupa: mode (disingkat Mo), median (disingkat Md), dan mean (disingkat Mn). Mode adalah suatu sekor dalam distribusi yang mempunyai pemunculan atau frekuensi terbanyak. Median 18 Cakrawalo, Pendidikan Nomor 3, Bulan Oktober Tahun VIII /989 atau titik tengah adalah suatu se·kor atau angka dalam distribusi yang membagi anggota distribusi <Jua, masing-masing dengan jumlah anggota yang sarna. Mean atau rerata adalah suatu sekor atau angka dalam distribusi yang inerupakan hasil bagi dari jumlah seluruh sekor dengan jumlah anggota dalam distribusi tersebul.

Ketiga macam tendensi sentra! ini dapat dipakai sebagai alat komunikasi tentang tinggi-rendahnya pencapaian rata-rata dari kelompok tersebut, juling-tidaknya suatu distribusi. Apabila ketiganya mempunyai nilai atau berupa angka yang sarna, distribusi tersebut berbentuk kurva normal dan alaU simetrik. Apabila nilai Mo·lebih besar dari nilai Md atau Mn, distribusi tersebut berbentuk kurva juling negatif; sebaliknya, apabila nilai Mo lebih kecil dari Md atau Mn, distribusi tersebut berbentuk kurva juling positif.

Kurva juling negatif dapat diartikan bahwa sebagian besar anggota kelompok atau distribusi tersebut mempunyaisekor atau peneapaian yang tinggi atau di atas rata-rata. Kurva juling positif dapat diartikan bahwa sebagian besar anggota kelompok atau distribusi mempunyai sekor atau peneapaian yang rendah atau di bawah nilai rerata.

Sebagai alat pengukur tendensi sentral Mn merupakan alat ukur yang paling dapat diandalkan. Informasi tentang kecenderungan memusat ini jelas sangat membantu guru atau pendidik dalam proses penilaian atau pengambilan keputusan secara cepat dan tepat tentang sedikit;banyaknya jumlah kelulusan.

Variabilitas dapat berupa rentangan atau cakupan (range, disingkat R) dan deviasi standar atau simpang baku (disingkat DS). Rentangan adalah selisih antara,ekor terbesar dengan sekor terkeeil dalam suatu distribusi sekor. Oengan membagi R dengan angka tertentu (biasanya 5 atau 6 sesuai asumsi kurva normal) dapat diperoleh satuan jarak sebagai dasar pembagian suatu distribusi menjadi beberapa kategori atau kelas interval.

OS adalah suatu angka atau besaran yang merupakan akar dari varians atau moment sentral kedua. Momen sentral kedua ini adalah suatu besaran yang merupakan hasil bagi dari jumlah kuadrat simpang rerata dengan jumlah seluruh anggota dalamdistribusi. OS dianggap sebagai alat ukur variabililas yang paling stabil sehingga seperti ha!nya R sering dipakai sebagai saluan jarak dalam membagi suatu distribusi menjadi beberapa kelas interval.

Sebagai satu jaraksebaran, OS bahkan mampu menjamin signifikansi perbedaan antar kelas interval. Besar-keei·lnya besaran alat ukur variabilitas memberikan informasi tentang homogenitas/heterogenitas suatu kelompok atau distribusi. Semakin keeil besarannya, semakin homogen; semakin besar, semakin heterogen. Apabila digabung dengan alai ukur tendensi sentral, informasinya menjadi heterogen tinggi ataukah heterogen rendah, homogen tinggi ataukah homogen rendah. Oengan kata lain, kurva juling negatif cenderung homogen rendah apabila DS-nya keeil, kurva juling positif cenderung homogen rendah apabila OS nya kecil.

Sebelum terjadinya proses pembe1ajaran distribusinya mungkin berbentuk kurva normal, tetapi setelah proses belajar-mengajar distribusinya berbentuk kurva juling negatif, karena jurang perbedaan antara peserta didik yang kurang pandai dengan yang pandai diperkecil. Apabila harapan ini kita kaitkan dengan dua kemungkinan terjadinya kurva juling negatif seperti di atas, ada dua pertanyaan mendasar yang harus terjawab, yaitu masalah norma penilaian dan masalah pengukuran basil belajar.[]

Pengirim :
Iswatus Sholihah, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta, email : iswatussholihah@gmail.com