Ancaman Keamanan Pangan Indonesia Sebagai Negara Kawasan Asia Tenggara Akibat Perang Rusia dan Ukraina

Opini0 Dilihat

Oleh : May Proma Rizky Siregar*

Pangan merupakan hak asasi yang didapatkan oleh setiap masyarakat dalam suatu negara, sebab pangan sebagai kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, maka penting untuk memastikan dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Dengan begitu adanya kewajiban bagi setiap negara mengawasi ketersediaan pangan yang layak dan aman dari segala ancaman yang memungkinakan. Keamanan pangan merupakan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan 3 cemaran yaitu secara biologi, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan bahkan membahayakan kesehatan manusia dalam suatu negara.

Negara menjadi aktor yang berperan untuk menerapkan aturan agar keamanan pangan dalam negaranya dapat diawasi sehingga tidak ada alasan bagi negara bersikap lalai dalam melindungi masyarakatnya dari ancaman keamanan pangan. Namun persoalan mengenai keamanan pangan terus menjadi perbincangan yang memunculkan kekhawatiran bagi masyarakat, dimana peran negara dinilai tidak efektif dalam melindungi masyarakatnya dari ancaman keamanan pangan. Ancaman keamanan pangan ini muncul karena banyaknya berbagai persoalan.

Dalam kawasan internasional adanya gangguan dalam politik global dan pasar internasional yang dialami karena perang Rusia dan Ukraina yang menimbulkan krisis global dan menjadi hambatan dalam hubungan internasional. Bahkan dapat dipastikan juga berpengaruh secara signifikan terhadap kawasan ekonomi di seluruh dunia. Tindakan invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina dijadikan sebagai peristiwa mengglobal yang mempunyai dampak bagi seluruh negara. Hal ini tentu berhubungan dengan peran diantara kedua negara tersebut sebagai aktor penting dalam pasar minyak, gas, gandum, energi, makanan dan pupuk global.

Baca Juga :  Rusaknya Ekosistem Laut dan Keindahan Pantai Akibat Penambangan TI Apung

Berikut uraian peran dari negara Rusia menjadi produsen dan pengekspor minyak terbesar ketiga di dunia, tidak hanya mitos Ia juga menjadi pengekspor gas bumi dan batu bara terbesar di dunia. Ukraina juga mempunyai eksistensi yang begitu besar dalam pemasaran global dengan melakukan ekspor minyak bunga matahari dan jagung serta gandum ke berbagai negara.

Perang yang terjadi Di antara Rusia dan Ukraina tidak hanya berdampak terhadap negara-negara yang ada di Eropa namun juga pada negara yang berada di kawasan Asia Tenggara sehingga berimplikasi terhadap perekonomian nya yang mana sangat bergantung terhadap impor dan hanya sejumlah negara yang memiliki potensi sebagai eksportir energi bersih ke berbagai penjuru dunia. Ini menandakan bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara hendaknya menjalankan surplus energi dan menguatkan pertahanan terhadap lonjakan harga energi atas perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina sebab sumber energi dari kedua negara tersebut diblokir yang berdampak bagi negara dalam mendapati tuntutan untuk mengadakan subtitusi pemasokan lain.

Rusia dan Ukraina mempunyai pangsa pasar yang begitu besar mulai dari pasokan minyak, gas dan komoditas yang lain dengan begitu invasi yang dialami juga membuat peningkatan terhadap harga komoditas yang dimaksud dan negara-negara kawasan Asia Tenggara terdampak langsung dalam sektor perekonomian khususnya bagi peningkatan harga komoditas. Salah satu negara kawasan Asia Tenggara yang terdampak akibat perang Rusia dan Ukraina yaitu negara Indonesia.

Baca Juga :  Pinjaman Online di Kalangan Gen Z

Indonesia terdampak akibat perang yang teradi antara Rusia dan Ukraina, terutama inflasi akibat pasokan dan distribusi bahan pangan yang terganggu sehingga ketahanan pangan sejumlah negara menjadi rentan sebagai contoh gandum yang merupakan bagian ekspor Ukraina menjadi terhambat terhadap Indonesia sebab gandum digunakan sebagai bahan dasar dalam membuat mie instan dan tepung terigu. Dampak perang Rusia dan Ukraina sudah merambah ke pelbagai sektor. Selain inflasi, pasokan gas ke beberapa negara juga tersendat.

Dalam globalisasi, gangguan pasokan energi akan merembet kepada produksi pangan di lain negara. Sementara kenaikan harga minyak bumi juga turut memicu inflasi di berbagai negara termasuk Indonesia.dampak ekonomi dalam perang menyebar di luar Ukraina dan menyebabkan naiknya harga energi khususnya sehingga “menghantam kelompok miskin, serta mengakibatkan inflasi.”Harga bahan pangan telah naik akibat perang dan “menjadi masalah bagi rakyat di negara-negara miskin.

Selain dari harga pangan  impor juga berdampak terhadap Produksi pangan bagi negara Indonesia seperti yang dapat dilihat adanya larangan yang diberlakukan oleh Rusia terhadap ekspor amonium nitrat (AN) yang digunakan oleh Indonesia sebagai bahan dasar untuk menghasilkan pupuk. Tentu ini berdampak terhadap kenaikan harga pupuk. Sebanyak 15,75% pupuk impor Indonesia datang dari Rusia, sehingga hal ini akan berpengaruh pada produksi pangan di dalam negeri. Apabila hal ini belum menemukan solusi dan akan tetap terjadi dalam jangka waktu yang lama maka akan berakibat buruk terhadap peningkatan harga pupuk subsidi dan berpengaruh terhadap harga pertanian bagi negara Indonesia.

Baca Juga :  Membangun Kesadaran Kebangsaan di Era Abai

Berdasarkan perhitungan pengaruh tersebut tentu akan berujung terhadap inflasi jika terus mengalami lonjakan yang begitu signifikan. Kemudian salah satu dampak yang telah terasa akibat invasi Rusia ke Ukraina adalah kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, kenaikan harga itu terjadi karena mengikuti perkembangan terkini industri minyak dan gas.PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, Kenaikan harga minyak dikhawatirkan dapat memicu inflasi karena akan diikuti oleh kenaikan harga produk-produk lainnya.

Meskipun pada kenyataannya hubungan antara Rusia terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara mempunyai perbedaan namun dapat diakui eksistensi Rusia mengalami peningkatan yang begitu pesat dan stabil terhadap perluasan hubungannya pada negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara sebab ini menjadi bagian kebijakan luar negeri Rusia untuk mengadakan kepentingan sekunder. Hubungan perdagangan terhadap kawasan Asia Tenggara yang dilangsungkan oleh Rusia hendaknya diperkuat saat ini tidak seperti terdahulu walaupun adanya keterbatasan dalam pelbagai hal.

Pengaruh dari perang Rusia dan Ukraina membawa dampak langsung terhadap sektor ekonomi negara yang ada di kawasan Asia Tenggara khususnya terhadap negara Indonesia melalui kenaikan harga komoditas sebab kawasan ini menjadi pengimpor utuh komoditas minyak dan gas terbesar di dunia. Maka negara-negara yang terlibat juga terdampak dari segi pertumbuhan ekonominya disebabkan kenaikan harga komoditas tersebut.[]***

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, email: maypromarizkysiregar@gmail.com

banner 300250