Budaya Kerja Anak Muda: Antara Work-Life Balance dan Hustle Culture

Beberapa tahun terakhir, kita melihat perubahan mencolok dalam cara anak muda memandang dunia kerja. Generasi milenial dan Gen Z kini semakin vokal menyuarakan pentingnya work-life balance, bahkan tak ragu meninggalkan pekerjaan yang dianggap “toxic” meskipun gajinya tinggi. Tapi di sisi lain, media sosial tetap diramaikan dengan semangat hustle culture glorifikasi kerja keras tanpa henti, bangga tidur 4 jam sehari demi mengejar sukses.

Pertanyaannya: ke arah mana sebenarnya arah budaya kerja anak muda hari ini?

Fenomena ini menunjukkan adanya tarik-ulur antara dua kutub ekstrem: mereka yang ingin hidup seimbang dan menikmati hidup, dengan mereka yang merasa harus terus berlari agar tak tertinggal. Bagi sebagian orang, meninggalkan kantor pukul 5 sore adalah hak, bukan kemewahan. Tapi bagi yang lain, baru pulang tengah malam adalah bukti dedikasi. Keduanya merasa benar. Keduanya merasa sedang berjuang.

Baca Juga :  Membangun Mental Entrepreneur di Kalangan Generasi Z

Budaya hustle yang banyak dipopulerkan oleh para entrepreneur muda dan influencer karier menciptakan narasi bahwa sukses hanya datang pada mereka yang “berdarah-darah”. Kutipan seperti “Sleep is for the weak” atau “You can rest when you’re rich” jadi motivasi, tapi juga tekanan sosial tak kasat mata. Tak sedikit anak muda merasa gagal hanya karena tak produktif setiap waktu.

Namun munculnya gelombang besar pekerja yang menuntut work-life balance, termasuk tren “quiet quitting” dan “career break,” menjadi sinyal bahwa banyak dari kita mulai lelah. Pandemi juga jadi titik balik. Ketika batas antara rumah dan kantor kabur, banyak orang sadar bahwa hidup bukan cuma soal kerja. Kesehatan mental, waktu dengan keluarga, dan ruang untuk diri sendiri jadi kebutuhan nyata, bukan sekadar pelengkap.

Baca Juga :  Aceh Tamiang Peringati Hari Sumpah Pemuda ke 96

Realitasnya, tidak semua orang punya privilege untuk memilih. Mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah seringkali tak punya pilihan selain terus bekerja keras, bahkan kerja lembur, demi bertahan hidup. Maka perdebatan antara hustle culture dan work-life balance sejatinya juga menyimpan bias kelas sosial.

Yang kita butuhkan sekarang bukan memilih salah satu kutub, tapi membangun budaya kerja yang sehat dan manusiawi. Kita perlu ruang untuk tumbuh baik secara profesional maupun pribadi. Kita perlu menghargai kerja keras tanpa menormalisasi kelelahan. Kita perlu merayakan istirahat tanpa menganggapnya sebagai kelemahan.

Bukan berarti anak muda sekarang malas atau anti kerja keras. Tapi mereka ingin bekerja tanpa kehilangan diri. Ingin sukses tanpa harus burn out. Dan itu bukanlah kemewahan itu hak dasar sebagai manusia.[]

Baca Juga :  Tabrakan Budaya dan Agama Terkait Tren Spirit Doll

Pengirim :
Tiara Maharani Utama, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi S1 Universitas Pamulang, email : tiarautama4@gmail.com

banner 300250