Makeup Bukan Sekadar Penampilan

Surat Pembaca0 Dilihat

Di tengah hiruk-pikuk standar kecantikan yang terus berubah, makeup sering kali dipersepsikan hanya sebagai alat untuk menutupi kekurangan atau memenuhi ekspektasi visual. Namun, jika dilihat lebih dalam, makeup bukan sekadar soal penampilan. Ia adalah medium ekspresi, bentuk seni, bahkan pernyataan identitas.

Tak sedikit yang menganggap makeup sebagai simbol kepalsuan. Padahal, bagi banyak perempuan (dan juga laki-laki), makeup bisa menjadi cara untuk mengenal diri sendiri. Memilih warna eyeshadow, menggambar eyeliner dengan bentuk tertentu, hingga memulas lipstik bukan hanya aktivitas rutin, tetapi juga sarana membentuk kepercayaan diri.

Di sisi lain, tren makeup yang berkembang di media sosial turut memperluas ruang eksplorasi. Generasi muda kini tidak lagi terjebak dalam definisi cantik yang sempit. Makeup bisa tebal, bisa natural, bisa nyentrik, dan semuanya sah-sah saja. Tidak ada yang salah dengan tampil bold, sama seperti tidak ada yang salah dengan memilih tampil bare face.

Baca Juga :  Pentingnya Penerapan BPJS Ketenagakerjaan pada Pekerja Informal

Namun, yang perlu diwaspadai adalah tekanan sosial yang muncul dari standar kecantikan digital. Filter, editan, dan algoritma media sosial bisa menimbulkan ketimpangan antara citra diri asli dan citra ideal. Di sinilah pentingnya membangun kesadaran bahwa makeup adalah pilihan, bukan kewajiban.

Makeup seharusnya memberi kebebasan, bukan tekanan. Ia tidak membuat seseorang lebih berharga, tapi bisa membantu seseorang merasa lebih siap menghadapi dunia. Dan pada akhirnya, keputusan untuk memakai atau tidak memakai makeup tetap berada di tangan individu. Sebab cantik bukan hanya dari tampilan luar, tapi dari bagaimana seseorang merasa nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri.[]

Pengirim :
Apriliana Putri Maryam, Mahasiswa Universitas Pamulang, email : aprilianaputri468@gmail.com

banner 300250