Di era digital yang pesat akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang, rawan sekali muncul pemikiran bahwa sains dan agama adalah dua kajian ilmu yang saling bertolak belakang. Namun, di antara arus dikotomis tersebut, muncul tokoh-tokoh pemersatu yang mampu memperlihatkan bahwa agama bisa bersahabat dengan sains. Prof. Dr. M. Quraish Shihab adalah salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam upaya harmonisasi sains dan agama. Beliau adalah seorang cendekiawan muslim asal Indonesia dan terkenal sebagai figur yang konsisten menyuarakan pesan-pesan Islam secara inklusif, rasional, dan relevan dengan zaman ini.
Biografi Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944. Beliau berasal dari keluarga ulama sekaligus intelektual muslim Indonesia yang berpengaruh di dunia pendidikan Indonesia. Beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Di sana beliau menekuni kajian ilmu tafsir Al-Quran dan sampai meraih gelar doktor. Beliau pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Jakarta dan Menteri Agama Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden B. J. Habibie. Selain itu, beliau juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Namun, Quraish Shihab tidak hanya terkenal lewat pendidikan dan kiprah politiknya saja. Kontribusinya dalam pemikiran Islam terkhusus bidang tafsir juga menjadi faktor terkenalnya beliau. Salah satu karya tafsir modern monumentalnya, Tafsir Al-Misbah, sering menjadi rujukan bagi para umat Islam. Dalam karya tersebut, beliau berupaya menerjemahkan pesan Al-Qur’an dengan pendekatan tematik dan kontekstual, menjawab pertanyaan-pertanyaan zaman, dan membangun kesadaran bahwa wahyu tidak terpisahkan dari realitas kehidupan masyarakat. Beliau lebih mendorong gagasan tentang pemahaman ayat Al-Qur’an secara dialogis dengan realistis sosial, budaya, bahkan ilmu pengetahuan, daripada pendekatan yang kaku dan liberal dalam memahami agama.
Gagasan Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Quraish Shihab adalah salah satu tokoh muslim yang berani memposisikan sains dan agama sebagai dua kajian ilmu yang saling mendukung. Beliau menyakini bahwa tidak ada dikotomi diantara keduanya. Hal itu karena didalam Al-Qur’an terkandung banyak ayat kauniyyah yang mengisyaratkan fenomena alam dan mendorong umat manusia untuk berfikir kritis, meneliti alam, dan mengembangkan ilmu. Menurut beliau, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk menggunakan akal rasional dalam memahami ciptaan Tuhan.
Sebagaimana dalam QS. Al-Alaq (96): 1–5 “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Yang menegaskan bahwa agama mendorong umatnya untuk mengeksplorasi dan memahami alam semesta melalui ilmu pengetahuan.
Beliau menekankan bahwa sains dan agama bisa berjalan beriringan, agama menunjukkan arah etis dan tujuan, sementara sains menyampaikan cara kerja alam. Sains tanpa agama dapat kehilangan arah moral, sementara agama tanpa sains dapat menjadi kaku. Menurut beliau dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an (1999) menegaskan bahwa ilmu dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Ia menyatakan, “Ilmu pengetahuan bukanlah lawan agama. Ilmu yang benar akan mengantarkan kepada kebenaran agama. Agama pun tidak boleh dijadikan penghambat kemajuan ilmu, selama keduanya bergerak dalam ranah yang tidak saling menafikan.”.
Baginya, upaya mengharmonisasikan sains dan agama adalah kunci bagi kemajuan umat Islam dan membangun peradaban yang utuh di era digital. Oleh karena itu, beliau sering memberikan dialog kepada umat Islam untuk meneliti sains sebagai bagian dari ibadah dan memperkuat spiritualitas dengan tafakur ilmiah. Menurut penelitian yang dipaparkan oleh Iis Aripudin dalam Jurnal Edukasia Islamika, integrasi antara sains dan agama merupakan solusi strategis yang sangat penting untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam. Dengan mengharmonisasikan keduanya, umat Islam dapat memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus kehilangan nilai-nilai spiritual dan moral yang menjadi landasan agama.
Quraish Shihab tidak hanya menuangkan gagasan-gagasan pemikirannya dalam buku, melainkan dalam berbagai media. Beliau aktif berdakwah melalui televisi, YouTube, diskusi publik, hingga media digital. Diantara banyaknya konten yang sering menimbulkan provokasi, beliau hadir dengan gaya dakwah yang tenang, penuh kelembutan, dan argumentasi yang kokoh. Sehingga melalui gaya dakwah tersebut, banyak kalangan anak muda yang tertarik dan bisa lebih mengenal Islam sebagai agama yang ramah, menenangkan, serta rasional.
Menurut penelitian dalam Jurnal Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Islamisasi Ilmu, beliau merupakan figur intelektual yang sangat berpengaruh, terutama di kalangan anak muda. Melalui pendekatan tafsir kontekstual dalam karyanya, beliau berhasil menjembatani pemahaman agama dan ilmu pengetahuan modern. Dalam kanal YouTube resmi Quraish Shihab Muhammad, beliau aktif berdakwah dengan gaya tenang dan penuh kelembutan, beliau juga sering melakukan tanya jawab seputar isu-isu sensitif keagamaan di kalangan masyarakat dengan bahasa yang luas dan inklusif.
Atas kontribusi Quraish Shihab yang luar biasa tersebut, beliau berhasil mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Beliau juga mendirikan lembaga bernama Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) yang menjadi wadah pengkajian Al-Qur’an, ruang dialog lintas disiplin sekaligus ruang pengkajian pengkaderan bagi generasi pemikir yang moderat. Ratusan buku, artikel, dan ceramah adalah bukti warisan intelektualnya yang telah menyebar luas menjadi bahan rujukan studi keislaman para umat Islam. Kehadirannya sebagai tokoh publik telah memberi warna baru dalam peradaban Islam secara utuh. Beliau telah memberikan contoh inspiratif bahwa seorang intelektual dapat memegang kokoh keilmuan ataupun seorang ulama dapat terbuka dengan perkembangan sains.
Pada akhirnya, Quraish Shihab adalah bukti nyata yang menggambarkan Islam sebagai agama yang tidak kaku dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Oleh karena itu, di tengah dunia yang semakin kompleks ini, gagasannya sangat relevan dijadikan patokan moral dan intelektual. Melalui pendekatan harmonisasi sains dan agama yang beliau suarakan, kita tahu bahwa iman yang mendalam tidak akan menghambat ilmu pengetahuan justru memperkaya dan menunjukkan tujuan yang inklusif dan bermakna.
Penulis :
Naf’a Rohmaniyya, mahasiswa Program Studi Tadris Matematika UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan








