Miris Roy Citayam Menolak Beasiswa dan Memilih Fokus Buat Konten di Medsos

SIAPA sih yang tidak mengenal remaja asal Citayam yang bernama Roy? Saya rasa hampir sebagian anak muda yang mempunyai sosial media tahu siapa itu Roy. Roy ialah remaja asal Citayam yang sering nongkrong di kawasan Stasiun Sudirman tepatnya di Dukuh Atas BNI. Kawasan Sudirman saat ini tengah menjadi perhatian publik dikarenakan banyak Anak-anak muda yang tampil dengan aneka ragam pakaian yang menjadi daya tarik.

Baru-baru ini Roy menjadi sorotan publik karena dia menolak pemberian beasiswa dari Bapak Sandiaga Uno selaku Menteri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (kemenparekraf). Roy menolak pemberian beasiswa dari kemenparekraf karena ia memilih untuk fokus membuat sebuah konten di sosial media.

Sosial media memang dapat menjadi jalan pintas untuk menghasilkan popularitas dengan cepat, sehingga ia mampu menjadi seorang selebgram, mempunyai banyak followers dan mendapatkan tawaran-tawar endorsement. Ini mungkin tujuan yang ada pada diri Roy, ia ingin fokus mendapatkan popularitas, menjadi selebgram, punya banyak followers, banyak tawaran endors, dan dapat Uang.

Keberhasilan Roy mendapatkan uang dari sebuah konten mungkin menjadi keengganan ia untuk melanjutkan pendidikan yang ia tunda, diketahui roy sudah putus sekolah sejak smp kelas 9, dan ia memilih untuk bekerja selama 6 bulan sebelum akhirnya menghabiskan hari-harinya di kawasan Sudirman.

Keberhasilan yang ia peroleh saat ini belum tentu selamanya akan berjalan dengan mulus, bagaimana apabila ini hanya sebuah kenikmatan sekejap, dan kemudian kepopuleran nya akan tenggelam dan menghilang? Sebagaimana Publik pernah dihebohkan dengan kemunculan Ade Londok dengan odading mang oleh nya, coba perhatikan… apakah ia masih populer? Ade Londok sudah tidak lagi populer.

Baca Juga :  Penerapan Esensialisme pada Pendidikan Indonesia

Banyak orang-orang yang terkenal dalam waktu singkat dan kemudian menghilang. Hal ini seharusnya menjadi sebuah pertimbangan bagi Roy agar ia tidak terbuai oleh kenikmatan sekejap, dan memilih untuk menerima beasiswa yang diberikan oleh Kemenparekraf. Ini beasiswa loh, Roy tidak perlu repot-repot untuk membayar, karena ini beasiswa jadi gratis.

Banyak orang-orang di luar sana yang ingin bersekolah apalagi mendapatkan kesempatan beasiswa, namun karena masalah ekonomi akhirnya keinginan mereka untuk sekolah harus terkubur dan mereka akhirnya harus rela bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Menolak beasiswa artinya mempersulit Negara dalam upaya mencerdaskan bangsa, sebagaimana tertera dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 “Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Roy harus tetap sekolah karena pendidikan itu penting! Dan inilah alasan mengapa pendidikan itu penting:
a) Peluang mendapatkan pekerjaan lebih diutamakan
Mencari pekerjaan itu bukanlah hal yang mudah, apalagi kalo kita minim relasi. Lowongan pekerjaan itu banyak, sebanyak orang yang melamar pekerjaan. Dan dari banyak nya orang yang melamar hanya sebagian kecil yang Akan diterima. Semakin rendah tingkat pendidikan, maka semakin banyak saingan kita hanya untuk merebutkan satu buah posisi yang kosong pada sebuah perusahaan. Dengan latar pendidikan Anda yang baik, maka peluang Anda untuk mendapatkan pekerjaan Akan jauh lebih terbuka.

Baca Juga :  Pemberantasan Sarang Nyamuk: Tanggung Jawab Bersama Warga dan Pemerintah

b) Peluang mendapatkan gaji tinggi
Orang-orang dengan latar pendidikan tinggi, lebih memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar. Maka belajarlah dengan serius, untuk mendapatkan hasil yang juga serius, bulatkan niat untuk meraih kehidupan yang layak dan tepat. Karena biaya kehidupan itu terus meningkat, maka apabila Anda tidak belajar dengan giat, bersiaplah untuk kehidupan yang tidak tepat.

c) Mengembangkan pola pikir
Sistem pendidikan mengajarkan peserta didik bagaimana mengembangkan pemikiran kritis serta memperoleh dan memutuskan keputusan secara mandiri. Akan tiba masanya kita dihadapkan pada sebuah realitas kehidupan saat tidak lagi mengenyam pendidikan. Seperti untuk biaya pernikahan, membeli rumah, mobil, menafkahi keluarga, dll. Namun dengan pengalaman berpikir serta menimbang sebuah keputusan dengan bijak, yang diperoleh dari sistem pendidikan yaitu pengembangan pola berpikir, mereka Akan lebih berhati-hati dalam memutuskan sebuah keputusan atas sebuah permasalahan yang terjadi.

d) Memberikan Kehidupan yang Sejahtera dan Bahagia
Latar pendidikan mempengaruhi bagaimana Anda diperlakukan di masyarakat. Orang-orang dengan latar pendidikan tinggi cenderung diberikan rasa hormat dari masyarakat. Kehidupan yang sejahtera dan bahagia tidak dihasilkan dari ketidakpedulian terhadap diri sendiri, mendidik diri sendiri Akan menghasilkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Selain itu pendidikan membantu Anda memperoleh reputasi yang baik juga potensi peningkatan karier Anda yang jauh lebih mudah dan cepat.

Baca Juga :  Urgensi Memahami Ilmu Fiqih Secara Komprehensif Bagi Umat Islam

Mengacu pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab V pasal 12 (1.c), Setiap peserta didik berhak memperoleh beasiswa untuk mereka yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Pemerintah telah memberikan kemudahan dan keringanan kepada masyarakat yang memiliki masalah ekonomi, dengan memberikan bantuan beasiswa.

Dilansir dari CNN Indonesia Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengaku masih berharap bahwa Aji Alfriandi, atau dikenal sebagai Roy ‘Citayam’ Akan menerima beasiswa pendidikan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Ayo Roy kesempatan tidak datang 2 kali, tetapi kesempatan juga bisa datang bagi mereka yang tidak pernah menyerah! Jangan pernah menyerah untuk mendidik diri sendiri, didiklah diri sendiri untuk menggali sebuah potensi. Roy sudah ada potensi menjadi seorang kreator, potensi Roy Akan jauh lebih baik dan berkembang lagi apabila ia menerima beasiswa dan memilih melanjutkan pendidikan.[]

Pengirim :
Muh Andi Riansyah
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka – Jakarta
Email : andiriansyah1402@gmail.com

banner 300250