Pendidikan Tinggi Tidak Menjamin Menghasilkan Orang yang Terdidik

Banyak sekali terjadi salah paham mengenai pendidikan tinggi yang di anggap dapat menciptakan karakter baik, namun hal ini tidak menjamin atas hal itu. Bahkan banyak pejabat, orang tinggi yang memiliki pendidikan tinggi namun tidak dengan attitude yang baik. Permasalahan ini tidak bisa di anggap remeh dalam suatu negara, Indonesia contohnya permasalahan ini sangatlah serius, bahkan Indonesia hampir jatuh karena orang-orang yang berpendidikan tinggi. Hari-hari dihabiskan dengan permasalahan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi, negara Indonesia yang sangat luas dan beragam ini akhir-akhir ini di sibukkan oleh kasus pejabat tinggi yang seharusnya mereka dapat mengayomi dan menjadi publik figur masyarakat namun, orang-orang tinggi negara kita sedang terseret masalah yang cukup serius sehingga mencoret nama baik orang yang memiliki pendidikan tinggi tersebut.

Kasus yang terjadi pada penghujung tahun 2022 sedikit menampar masyarakat yang baru saja terbebas dari kejamnya virus covid-19 harus kembali memikirkan masalah negara yang mulai terpuruk. Kasus seorang Sosok Irjen Ferdy Sambo saat ini dikenal sebagai Kadiv Propam Polri harus terseret dalam kasus pembunuhan, terbukti jabatan ini tidak dapat menjamin terbentuknya karakter yang baik. Seseorang yang memiliki pangkat tinggi dalam kepolisian ini tidak dapat berpikir jernih sebelum melakukan, faktor yang menunjang hal ini terjadi yakni karakter seseorang yang terbentuk dengan baik. Ada juga kasus yang terjadi yang dilakukan oleh aparat yang merenggut banyak nyawa manusia yang tidak berdosa, tragedi yang tidak bisa di lupakan oleh sebagian besar orang terutama seorang ibu.

Baca Juga :  PMM-UMM Mengedukasi Warga Pembuatan Boba Buah Naga

Tragedi kanjuruhan yang tersebar hingga seluruh pelosok Dunia yang dapat mencoreng nama baik Indonesia terutama dalam bidang Olahraga, lagi-lagi hal ini dilakukan oleh aparat yang memiliki jabatan sekaligus pendidikan yang tinggi, aparat yang lalai dan tidak memikirkan dampak yang akan terjadi atas manusia yang lain padahal dalam peraturan sudah sangat jelas tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut, lantas mengapa mereka mengambil tindakan yang tidak manusiawi.

Cukup di sayangkan hal-hal tersebut harus terjadi pada orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi padahal saat kita lihat ke belakang dengan sejarah-sejarah yang tersusun rapi oleh para pejuang tanpa tanda jasa, mereka dapat memperjuangkan Indonesia merdeka dengan keterbatasan pendidikan dikala itu. Pejuang dahulu tercoreng nama baiknya oleh tikus-tikus berdasi yang hanya memikirkan dirinya tanpa memanusiakan saudaranya yang lain, ingin hidup enak sendiri sekan-akan mereka yang memiliki kuasa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Pejuang-pejuang 45 yang tercoreng nama baiknya oleh ulah tikus-tikus berdasi, mereka hanya memiliki pendidikan yang tidak bisa dibilang tinggi. Namun dalam dirinya sudah tertanam pendidikan karakter yang kuat oleh orang tua yang merasakan betapa sulitnya saat-saat Indonesia harus mengalami krisis moneter, penjajahan, dan masih banyak hal- hal pahit yang mereka hadapi, dari situ karakter seseorang terbentuk dengan baik sehingga dapat membawa Indonesia keluar dari masa-masa yang sulit tersebut.

Baca Juga :  Tim PMM UMM Beri Edukasi Siswa SMPN 02 Bojonegoro dalam Memanfaatkan Media Online untuk Berwirausaha

Bukan berati pendidikan yang tinggi tidak penting, namun tidak menjamin atas terbentuknya karakter yang dapat memikirkan perasaan sesama manusia, pendidikan karakter sangat penting untuk setiap individu. Untuk menyelatkan Bangsa Indonesia yang semakin terpuruk ini. Melihat situasi Bangsa yang seperti ini tentunya membutuhkan orang-orang yang lurus memiliki jiwa manusiawi yang tinggi, Bangsa ini akan rusak oleh orang-orang salah maka dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh HR.Bukhari “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”

Dalam sebuah tafsiran dalil tersebut tidak hanya untuk sesama manusia melainkan tanggung jawab seseorang pemimpin terhadap apa yang mereka pimpin. Dengan pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk dan membangun kepribadian peserta didik yang positif dan bertanggung jawab serta mampu mengatasi perilaku menyimpang. Pendidikan karakter dapat dilakukan guru sebagai pendidik di sekolah ataupun oleh orang tua peserta didik. Pendidikan karakter itu mencakup ranah pengetahuan perasaan, sikap, dan tindakan. Harus mampu memberikan ’asupan’ bukan hanya bagi raga, tetapi sekaligus juga bagi jiwa berupa moralitas untuk menentukan sikap baik-buruk atau benar-salah.

Pendidikan karakter memiliki peran dalam membentuk kepribadian yang bermoral dari peserta didik, khususnya dari sisi etika peserta didik. Dengan penerapan pendidikan karakter yang baik maka peserta didik memiliki batasan-batasan terkait apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Pada dasarnya di zaman milenial ini banyak masyarakat yang beranggapan pendidikan karakter pada anak di zaman dahulu dan sekarang berbeda. Pendidikan karakter pada zaman dahulu memang lebih bagus dibandingkan pada zaman sekarang ini. Karakter yang berkualitas pada saat ini perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Pendidikan karakter sangatlah penting dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja tidak bisa sendiri dalam melakukan berbagai jenis kegiatan, tentu saja manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain. Pendidikan karakter sangatlah penting dalam kehidupan bersosialisasi guna mencapai suatu hubungan yang baik antar manusia.

Baca Juga :  Membuka Potensi Baru, Industri Pariwisata Halal di Indonesia

Sebagai pemuda yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan bangsa Indonesia ini, tentu kita harus menyiapkan mulai dari sekarang. Banyak cara untuk menumbuhkan karakter yang kuat, dengan mengikuti organisasi-organisasi. Pondok pesantren salah satu progam lembaga pendidikan yang menjadikan karakter yang kuat, karena di dalam sistem podok pesantren yang dari awal di didik mandiri jauh dari orang tua, sehingga sistem tersebut seolah-olah menciptakan pelajaran hidup yang sesungguhnya. Oleh karena itu pendidikan karakter sangat penting karena setinggi apapun pendidikan seseorang namun karakter yang tidak terbentuk dapat mengakibatkan kehancuran sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari. Ibarat pribahasa “tong kosong nyaring bunyinya ” bisa di artikan bahwasannya orang bodoh biasanya banyak bualnya.[]***

Pengirim :
Ahmad Izafi Hakiki, mahasiswa Jurusan Farmasi UMM, email : izafikiki4@gmail.com

banner 300250