Teladan Orang Tua Dalam Strategi Membangun Karakter di Usia Emas

Pendidikan adalah mutlak bagi manusia. Menurut Wikipedia, pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, dan atau penelitian.

Pendidik pertama dan utama bagi anak adalah orang tua. Orang tua menjadi kiblat bagi setiap anak dalam menjalani kehidupannya. Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak akan terlihat di masa depan. Maka dari itu, orang tua paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.

Pendidikan karakter harus dimulai sejak anak usia dini. Anak adalah sang peniru ulung. Semua aktivitas orang tua selalu dipantau anak dan dijadikan model yang ingin dicapainya. Lebih jelasnya semua perilaku orang tua termasuk kebiasaan buruk yang dilakukan akan mudah ditiru oleh anak. Maka berhati-hatilah sbagai orang tua dalam berperilaku. Contoh kecil jika orang tua ( Ibu ) menutup auratnya maka, anak akan mengikuti dengan sendirinya tanpa diperintah.

Beberapa kiat menjadi orang tua yang ideal serta figur yang baik bagi anak : 1) Mengubah pola mendidik anak dan mulai menerapkan pola child center, artinya orang tua mengambil posisi sejajar dengan anak atau lebih dikenal dengan menjadikan orang tua sebagai sahabat anak; 2) Menyediakan waktu untuk anak. Komunikasi yang baik butuh waktu yang berkualitas dan ini yang kadang tidak dipikirkan kebanyakan orang tua. Tak sedikit orang tua yang meyakini yang penting adalah kualitas bukan kuantitas. Jangan tunggu sampai anak itu bermasalah. Setiap kali ada kesempatan, manfaatkan momen tersebut untuk mengajak anak ngobrol. Ngobrol disini tidak sekedar basa-basi menanyakan kabar hari ini. Akan tetapi alangkah baiknya orang tua juga bisa menyelami perasaan senang, sedih, marah maupun keluh kesah anak; 3) Para orang tua khususnya ibu harus mengetahui bahasa tubuh sang buah hati. Untuk mengungkapkan kemauannya kadang mereka tak mengatakannya secara verbal, namun mengatakan dengan bahasa tubuh. Dengan mengenali bahasa tubuh dengan baik, orang tua diharapkan bisa memberikan kasih sayang yang tak hanya dilontarkan dalam kata-kata, tetapi lewat bahasa tubuh.

Baca Juga :  Rektor USK Serahkan Insentif untuk Mahasiswa MBKM Internasional

4) Penting untuk orang tua bisa memahami perasaan anak. Banyak terjadi kasus perang dingin antar orang tua dan anak, bahkan beberapa anak secara terbuka kabur dari rumah karena merasa orang tuanya tak dapat memahami perasaannya; 5) Untuk menjadi orang tua yang ideal, jadilah pendengar yang aktif. Anak-anak cenderung ingin didengarkan. Dengan demikian anak akan tahu bahwa orang tuanya mampu memahaminya seperti apa yang dirasakan. Bukan seperti yang dilihat dan disangkanya. Cara ini akan membuat anak merasa penting dan berharga. Selain itu anak akan belajar untuk mengenali, menerima, dan mengerti perasaan mereka sendiri serta menemukan cara untuk mengatasi masalahnya sendiri; dan 6) Jadilah orang tua yang menerapkan kedisiplin dan konsisten di dalam keluarga. Orang tua adalah panutan yang utama bagi anak-anak. Seorang panutan yang baik harus selalu bersikap konsisten pada apa yang akan ditanamkan.

Baca Juga :  Kehidupan Masyarakat Setelah Masa Pandemi Covid-19

Keteladanan dari orang tua akan menjadi semacam cetak biru (blue print) bagi anak dalam bereaksi.Bagaimana orang tua bertindak, merasa dan berpikir akan terefleksi kepada anak-anaknya. Seorang anak tidak akan menyaring lagi apakah teladan orang tuanya itu baik atau buruk karena anak itu seperti spons yang akan menyerap setiap tindakan orang tuanya.

Beberapa cara yang bisa dipakai orang tua dalam menginternalisasikan pendidikan karakter anak diantaranya adalah sesering mungkin ungkapkan cinta dan kasih sayang. Ungkapan ini bisa anda lakukan misalnya dengan sebuah pelukan lembut, motivasi, dorongan, persetujuan, dan sekedar senyuman. Hal ini akan membuat anak anda meningkat rasa percaya dirinya, dan timbul rasa nyaman dalam diri anak. Ketika anda mencintai putra pitri anda, maka wujudkan kecintaan itu tanpa syarat, jangan memaksa anak anda seperti yang anda pikirkan.

Baca Juga :  Promosi Berujung Pencabutan Izin Usaha oleh Pemerintah DKI Jakarta Terhadap Hollywings

Jadilah pendengar yang baik, ciptakan suasana yang bikin anak nyaman dan aman, hindari favoritisme. Survei menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua memiliki favorit, tapi kebanyakan anak percaya bahwa mereka adalah favorit. Jika anak-anak anda bertengkar jangan pilih kasih, berlakulah dengan adil. Ajari anak tentang aturan dan batasan. Misalnya misalnya batas-batas seperti waktu tidur dan jam malam, sehingga mereka belajar bahwa mereka memiliki keterbatasan. Berikan tanggung jawab dengan memberi mereka pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan, dan sebagai reward misalnya tambahan uang jajan, waktu bermain ekstra. Tapi jangan sekali-kali memberikan reward yang berlebihan, karena akan berdampak pada anak kalau disekolahnya guru memberikan reward yang biasa-biasa saja dia tidak akan tertarik untuk mengikuti tugas yang diberikan guru.

Ajari anak mengenai benar dan salah. Sebagai seorang muslim ajarkan sesuai apa yang tertuang dalam Al Qur`an. Dalam hal ini tidak bisa hanya dengan bicara, tetapi lebih dalam menunjukkan dalam bentuk praktek atau perilaku.[]***

Pengirim :
Kuni Masrohati Ulya, Mahasiswi PIAUD INISNU Temanggung, email : kuniulya80@gmail.com 

banner 300250