Memahami Tradisi Fenomenologi dalam Teori Komunikasi: Cara Kita Menangkap Makna dari Pengalaman

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya melihat dunia, tetapi juga memaknai setiap pengalaman yang muncul di hadapannya. Tradisi fenomenologi dalam teori komunikasi hadir untuk menjawab pertanyaan sederhana namun penting: bagaimana manusia memahami realitas melalui pengalaman langsung?

Fenomenologi menekankan bahwa setiap orang aktif menafsirkan dunianya. Ketika seseorang merenung di bawah langit malam atau mencoba memahami suatu peristiwa penting dalam hidup, ia sebenarnya sedang memasuki proses fenomenologis mengolah pengalaman menjadi makna.

Fenomenologi berakar dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Edmund Husserl, Maurice Merleau-Ponty, dan Martin Heidegger. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan muncul dari pengalaman sadar manusia, bukan dari teori abstrak semata. Dalam tradisi ini, realitas bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan dibangun oleh interpretasi individu terhadap apa yang ia alami.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, PJ. Bupati Asra Buka GPM

Dalam komunikasi, fnomenologi melihat bahwa hubungan antarindividu terbentuk melalui dialog, bahasa, dan pemaknaan personal. Bahasa bukan hanya kumpulan kata; ia adalah jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan dunia sosial. Ketika seseorang memberi makna pada suatu benda, kejadian, atau hubungan, proses tersebut dipengaruhi oleh latar belakang, perasaan, dan pengalaman masa lalunya.

Fenomenologi juga mengenal proses hermeneutic circle, yaitu lingkaran pemahaman antara pengalaman dan interpretasi. Manusia terus bergerak maju-mundur antara apa yang dialaminya dan bagaimana ia memaknainya, sehingga pemahamannya berkembang dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangannya, tradisi fenomenologi memiliki tiga bentuk utama: 1) Fenomenologi klasik yang menekankan pengalaman langsung sebagai sumber kebenaran; 2) Fenomenologi persepsi yang melihat makna sebagai hasil interaksi antara tubuh, pikiran, dan dunia di sekitar; dan 3) Fenomenologi hermeneutik yang memusatkan perhatian pada peran bahasa dan penafsiran dalam membentuk realitas manusia.

Baca Juga :  Menikmati Angin di Kota Bogor

Secara keseluruhan, fnomenologi membantu kita memahami bahwa komunikasi lebih dari sekadar bertukar kata. Ia adalah proses mendalam yang melibatkan pengalaman hidup, persepsi pribadi, dan dialog dengan orang lain. Tradisi ini mengingatkan bahwa setiap orang memandang dunia secara unik, dan pemahaman antarindividu hanya dapat tercapai bila kita menghargai pengalaman satu sama lain.

Fenomenologi bukan hanya teori komunikasi; ia adalah cara melihat kehidupan yang lebih sadar, lebih dalam, dan lebih manusiawi. Dunia sosial terus bergerak, tetapi makna yang kita bangun dari pengalaman kitalah yang membuatnya berarti.[]

Penulis :
Zahra Zahranni, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

banner 300250