Mengapa Sulit Mempercayai Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologisnya

Dalam kehidupan sosial, kepercayaan menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan, keluarga, maupun relasi lainnya. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam membangun kepercayaan tersebut.

Menariknya, kesulitan untuk mempercayai orang lain tidak selalu disebabkan oleh pengalaman dikhianati. Sebagian orang justru tumbuh tanpa pernah benar-benar memahami bagaimana rasanya percaya sejak awal.

Dalam perspektif psikologi, pengalaman masa kecil memiliki peran penting dalam membentuk pola keterikatan (attachment). Ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang penuh konflik, ketidakpastian, atau minim kehangatan emosional, hal tersebut akan memengaruhi cara mereka memahami hubungan.

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat pertama untuk belajar percaya. Namun bagi yang lain, rumah justru menjadi tempat di mana kepercayaan mulai dipertanyakan.

Baca Juga :  Bupati Armia Lantik 16 Pejabat Administrator Pemkab Tamiang

Dari pengalaman tersebut, setidaknya ada dua pola respon yang sering muncul.

Pertama, individu yang tetap mencari kedekatan, tetapi memiliki kebutuhan validasi yang tinggi. Mereka ingin merasa diyakinkan, didengar, dan diterima. Dalam situasi ini, mereka mungkin terlihat mudah percaya, padahal sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan akan rasa aman yang belum terpenuhi sebelumnya.

Kedua, individu yang justru membatasi kepercayaan. Mereka cenderung lebih berhati-hati, menjaga jarak, dan tidak mudah membuka diri. Bagi mereka, mempercayai orang lain bukan hal yang sederhana, melainkan sesuatu yang membutuhkan waktu dan pertimbangan. Sikap ini bukan berarti mereka tidak ingin memiliki hubungan yang dekat. Namun, pengalaman masa lalu membuat mereka lebih waspada, karena kedekatan pernah berujung pada kekecewaan.

Baca Juga :  Wagub Aceh Turun Tangan Selesaikan Sengketa Lahan Tol Padang Tiji–Seulimuem

Menariknya, kedua pola tersebut memiliki akar yang sama, yaitu pengalaman ketidakamanan dalam hubungan di masa lalu. Perbedaannya terletak pada cara seseorang merespon pengalaman tersebut, apakah dengan mendekat untuk mencari rasa aman, atau justru menjauh untuk melindungi diri.

Hal ini menunjukkan bahwa trust issue bukan sekadar sikap terlalu curiga atau terlalu bergantung, melainkan bagian dari proses adaptasi psikologis.

Kabar baiknya, pola ini bukan sesuatu yang permanen. Dengan kesadaran diri, seseorang dapat mulai memahami bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara mereka membangun hubungan saat ini. Belajar mempercayai orang lain, pada akhirnya, juga berarti belajar membangun rasa aman dalam diri sendiri.[]

Penulis :
Anisa Maharani, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Tazkia

banner 300250