Mengubah Pikiran Tanpa Perang

Opini0 Dilihat

Oleh : T.H. Hari Sucahyo*

Di dunia yang semakin polar dan bising oleh suara kebenarannya masing-masing, kita seringkali terjebak dalam logika debat, konfrontasi, bahkan permusuhan ideologis. Setiap orang berlomba untuk mengukuhkan keyakinannya, seakan-akan kebenaran harus selalu dipaksakan dan ditaklukkan. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa keyakinan yang kuat bukanlah sesuatu yang mudah digoyahkan melalui konfrontasi frontal.

Justru, dalam keheningan yang bersahabat, dalam percakapan yang terbuka dan empatik, peluang untuk mengubah pikiran seseorang bisa lebih besar. Maka, muncul gagasan penting ini: cara mengubah pikiran orang yang memiliki keyakinan kuat adalah dengan undangan, bukan konfrontasi. Undangan di sini bukanlah dalam arti literal sebuah ajakan fisik, melainkan pendekatan batiniah yang lembut, penuh rasa ingin tahu, dan menghormati kemanusiaan orang lain.

Ini adalah bentuk komunikasi yang membuka ruang, bukan menutupnya; yang mengundang orang lain untuk mempertimbangkan pandangan baru tanpa merasa terancam, direndahkan, atau dipaksa meninggalkan apa yang selama ini mereka pegang erat. Pikiran yang terkunci dalam keyakinan yang kuat adalah benteng psikologis dan emosional. Ia dibangun dari pengalaman, warisan budaya, nilai-nilai keluarga, hingga trauma dan harapan terdalam.

Maka, ketika seseorang mempertanyakan keyakinan orang lain dengan gaya konfrontatif, reaksi defensif yang muncul adalah keniscayaan. Bukan hanya karena isi pikiran mereka yang tidak ingin berubah, tetapi karena mereka merasa bahwa identitas mereka sendiri sedang diserang. Ketika keyakinan menjadi bagian dari siapa kita, menyerangnya sama saja dengan menyerang keberadaan kita.

Maka, wajar bila perubahan yang dipaksakan dari luar akan dipertahankan mati-matian. Bandingkan dengan pendekatan undangan: ia tidak menuntut orang lain untuk meninggalkan keyakinannya, melainkan membuka percakapan yang membuat seseorang berpikir, berefleksi, dan mungkin, perlahan-lahan, menemukan ruang di dalam dirinya untuk mempertimbangkan sudut pandang lain.

Baca Juga :  Mengurangi Penganguran dengan Kegiatan Wirausaha

Undangan ini bisa berupa kisah pribadi yang menyentuh, pertanyaan yang menggugah, atau sekadar kehadiran yang otentik dan penuh welas asih. Dalam pendekatan ini, pengaruh bukan datang dari superioritas intelektual, tetapi dari hubungan yang manusiawi. Di berbagai komunitas yang terpecah karena politik, agama, atau nilai moral, pendekatan undangan menjadi satu-satunya jembatan yang bisa menghubungkan dua kutub ekstrem.

Tidak ada yang bisa berubah hanya karena disuruh berubah. Tapi banyak yang bisa berubah karena merasa didengarkan. Misalnya, dalam konteks perdebatan tentang hak-hak LGBTQ+ di masyarakat konservatif, banyak perubahan sikap yang tidak terjadi karena kampanye agresif, melainkan karena seseorang yang konservatif tiba-tiba mengenal, berbicara, dan berteman dekat dengan seseorang dari komunitas tersebut. Hubungan personal mengalahkan narasi besar. Itulah kekuatan undangan.

Lantas, mengapa konfrontasi begitu menggoda? Karena ia memberi kesan kemenangan instan. Menyudutkan argumen lawan, membungkamnya dengan logika, memberikan kepuasan intelektual yang instan. Namun, ia jarang mengubah hati. Bahkan, dalam banyak kasus, ia justru memperdalam jurang perbedaan. Ini bukan berarti konfrontasi tidak pernah dibutuhkan. Ada saatnya seseorang harus berdiri tegas melawan ketidakadilan atau ide yang merusak.

Dalam konteks relasi antarmanusia yang berupaya membangun pemahaman, konfrontasi adalah jalan terakhir, bukan yang utama. Kita hidup di zaman algoritma, di mana media sosial memberi ganjaran pada komentar yang tajam, serangan verbal, dan polarisasi. Di ruang ini, mengundang terasa lambat dan tidak seksi. Namun perubahan sejati, yang dalam dan langgeng, membutuhkan kesabaran. Kita tidak bisa membongkar keyakinan orang dalam sehari.

Kita bisa menanam benihnya. Mungkin benih itu akan tumbuh nanti, ketika orang itu sedang merenung dalam kesendiriannya, atau ketika mereka menghadapi kenyataan yang membuatnya bertanya. Pada saat itulah, benih undangan yang kita taburkan bisa menjadi jalan masuk bagi perubahan. Sejarah juga mencatat banyak transformasi sosial dan spiritual terjadi bukan karena paksaan, tetapi karena undangan batiniah yang menyentuh jiwa.

Baca Juga :  Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Sosial Anak

Lihat saja cara Mahatma Gandhi mempengaruhi rakyat India: bukan dengan pidato-pidato penuh amarah, melainkan dengan keteladanan, kesederhanaan, dan ajakan untuk merenungkan martabat manusia. Begitu pula dengan tokoh-tokoh seperti Nelson Mandela, Desmond Tutu, atau bahkan Yesus dari Nazaret, mereka mengubah dunia bukan dengan teriakan, tetapi dengan undangan moral yang menggetarkan nurani.

Dalam dunia psikologi sosial, konsep “motivated reasoning” menjelaskan bahwa orang cenderung menyeleksi informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak yang bertentangan. Artinya, semakin kita menyerang keyakinan orang, semakin ia menguatkan benteng rasionalisasinya. Pendekatan yang lebih berhasil justru adalah pendekatan yang menyentuh emosi dan nilai bukan hanya logika.

Maka penting bagi kita untuk memahami konteks emosional dan eksistensial dari keyakinan seseorang, lalu menawarkan narasi alternatif yang tidak terasa seperti ancaman. Sebagai contoh, daripada mengatakan “keyakinanmu itu salah”, kita bisa berkata: “aku penasaran, apa yang membuatmu yakin akan hal itu?” atau “bolehkah aku berbagi cerita tentang bagaimana aku dulu juga percaya hal yang sama, tapi kemudian aku mengalami hal yang membuatku melihatnya dari sisi lain?”

Kalimat-kalimat seperti ini bukan hanya lebih halus, tapi juga memberi ruang bagi lawan bicara untuk mempertimbangkan tanpa harus merasa kalah. Kita perlu membangun budaya diskusi yang tidak menuntut perubahan, tetapi merayakan keterbukaan. Dalam dunia pendidikan, ini berarti mendidik dengan memberi contoh, bukan dogma. Dalam dunia agama, ini berarti berdialog dengan kasih, bukan penghakiman. Dalam dunia politik, ini berarti mengusulkan ide dengan kerendahan hati, bukan dengan ambisi untuk mendominasi.

Baca Juga :  Potensi Wisata : Daya Tarik Benteng Kuto Panji, Belinyu

Penting juga untuk memahami bahwa tidak semua perubahan terjadi dalam arah yang kita harapkan. Bisa jadi, undangan yang kita berikan justru membuat seseorang memperdalam keyakinannya karena ia menemukan alasan yang lebih kuat untuk mempercayainya. Dan itu tidak apa-apa. Undangan bukanlah manipulasi. Ia adalah ekspresi dari kebesaran hati kita untuk berbagi kebenaran menurut kita, sambil tetap menghormati perjalanan orang lain.

Jika kita benar-benar percaya pada kebenaran yang kita bawa, maka kita pun harus percaya bahwa ia bisa menyentuh orang lain tanpa perlu dipaksakan. Mengundang berarti berani bersabar. Ia tidak menjanjikan kemenangan cepat, tetapi menawarkan transformasi yang berakar. Ia tidak mengubah seseorang dari luar, tetapi menyalakan api kecil dari dalam. Dalam dunia yang semakin kehilangan seni mendengar, pendekatan ini mungkin tampak sepi.

Justru dalam kesepian itulah, suara-suara paling jujur bisa terdengar. Dan mungkin, dari sanalah dunia bisa berubah. Satu undangan kecil pada satu hati manusia dalam satu waktu. Mengubah pikiran bukanlah tentang menang atau kalah. Ini tentang membuka pintu. Dan seperti yang kita tahu, tidak ada pintu yang terbuka dengan ditendang keras. Tapi banyak pintu yang terbuka karena diketuk dengan lembut.

Maka, ketika berhadapan dengan seseorang yang memegang keyakinan kuat, mari kita tidak menjadi penyerbu. Jadilah tamu yang datang dengan kerendahan hati, membawakan kisah dan pengalaman, lalu menunggu dengan sabar di ambang pintu. Karena siapa tahu, pintu itu terbuka, dan kita pun diundang masuk ke dalam dialog yang mengubah dunia.[]

*Pegiat di Cross-Disciplinary Discussion Forum “Sapientiae”, email : tarcishendricus@gmail.com

banner 300250