Ekonomi Bangka Belitung: Dari Tambang ke Peluang Baru, Apa Peran Kita?

Opini0 Dilihat

Oleh : Rafli Pala Saputra, Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung

Langit di atas Bangka Belitung seringkali dibingkai oleh awan putih yang berarak tenang, sesekali ditembus sinar matahari yang memantul di hamparan pantai berpasir putih dan bebatuan granit raksasa. Namun, di bawah permukaan yang tenang itu, denyut nadi ekonomi provinsi ini telah berdetak kencang selama berabad-abad, didominasi oleh satu kata kunci: timah. Sebuah komoditas yang telah membentuk identitas, kekayaan, sekaligus luka bagi tanah Serumpun Sebalai ini.

Sejak era kolonial, hingga masa kemerdekaan, timah seolah menjadi takdir ekonomi kita. Ia memberikan kemakmuran bagi segelintir, membuka lapangan kerja bagi ribuan, namun di sisi lain, meninggalkan jejak kerusakan lingkungan, ketergantungan yang mengkhawatirkan, dan tantangan besar bagi keberlanjutan masa depan. Kini, di persimpangan jalan sejarah, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan fundamental: bagaimana Bangka Belitung akan melangkah maju ketika era kejayaan timah mulai meredup? Lebih penting lagi, sebagai bagian dari generasi muda, khususnya mahasiswa di Fakultas Ekonomi, apa peran konkret yang bisa kita ambil dalam transformasi ini?

Bukan rahasia lagi, ketergantungan pada satu komoditas, seberapa pun melimpahnya, selalu menyimpan risiko. Harga timah yang fluktuatif di pasar global, cadangan yang kian menipis, serta dampak ekologis yang tak terhindarkan, telah memicu kesadaran kolektif yaitu diversifikasi ekonomi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan mutlak. Kita menyaksikan bagaimana lahan-lahan bekas tambang menganga, meninggalkan pemandangan gersang yang kontras dengan keindahan alami pulau ini.

Sungai-sungai keruh, hutan mangrove yang rusak, dan ancaman terhadap ekosistem laut menjadi pengingat nyata akan harga yang harus dibayar demi kejayaan tambang. Tentu, ini bukan tentang menyalahkan sejarah, melainkan tentang belajar darinya dan mengambil langkah strategis untuk masa depan yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan.

Lantas, jika timah bukan lagi satu-satunya jaminan, apa yang bisa menjadi penggantinya? Bangka Belitung, dengan segala keunikannya, sebenarnya menyimpan potensi lain yang luar biasa, seringkali terlupakan atau belum digarap secara maksimal. Pertama dan paling jelas, Pariwisata. Keindahan alam Bangka Belitung sungguh memukau. Pantai-pantai berpasir putih seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi, atau Pasir Padi, dengan formasi granit uniknya, memiliki daya tarik kelas dunia. Belum lagi kekayaan bawah laut yang menjanjikan wisata bahari. Namun, pariwisata bukan hanya tentang pantai.

Baca Juga :  Perspektif Pengaruh Peran Peradilan Agama dalam Penyelesaian Sengketa Keluarga

Kita memiliki sejarah panjang penambangan timah yang bisa diubah menjadi wisata edukasi dan industri, jejak-jejak budaya Melayu dan Tionghoa yang kaya, serta kuliner khas yang mampu menggugah selera. Mengembangkan pariwisata berarti membangun infrastruktur yang memadai, meningkatkan kualitas layanan, mempromosikan destinasi secara gencar, dan yang tak kalah penting, melibatkan masyarakat lokal agar mereka menjadi tuan rumah yang ramah dan mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung.

Selain pariwisata, Sektor Perikanan dan Kelautan menawarkan prospek cerah. Dikelilingi lautan, Bangka Belitung dianugerahi sumber daya ikan yang melimpah. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengelola sumber daya ini secara berkelanjutan, mulai dari penangkapan hingga pengolahan. Hilirisasi produk perikanan, seperti pembuatan produk olahan ikan bernilai tambah tinggi, pengembangan budidaya laut yang ramah lingkungan, hingga ekowisata bahari, dapat menjadi pilar ekonomi baru. Ini bukan sekadar menjual ikan mentah, melainkan menciptakan rantai nilai yang panjang, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan nelayan.

Kemudian, jangan lupakan Pertanian dan Perkebunan. Meskipun sering terpinggirkan oleh sektor timah, Bangka Belitung memiliki potensi di komoditas seperti lada (Muntok White Pepper yang terkenal), sawit, karet, dan berbagai produk hortikultura. Mengembangkan pertanian modern, dengan pendekatan yang lebih efisien dan berkelanjutan, serta fokus pada produk bernilai tambah, bisa menjadi solusi. Diversifikasi tanaman, pemanfaatan lahan bekas tambang untuk pertanian, dan pengembangan agrowisata adalah beberapa ide yang bisa digali.

Yang tak kalah penting adalah Ekonomi Kreatif dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Ini adalah sektor yang paling dinamis dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dari kerajinan tangan berbahan baku lokal, kuliner inovatif, desain grafis, hingga pengembangan aplikasi digital, potensi kreatif anak muda Bangka Belitung sangat besar. Memberikan dukungan berupa pelatihan, akses permodalan, dan fasilitasi pemasaran bagi UMKM adalah kunci. Mereka adalah mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu menciptakan kemandirian dan mengurangi ketergantungan pada sektor padat modal.

Melihat potensi yang begitu besar dan tantangan yang nyata, pertanyaan “Apa peran kita?” menjadi sangat krusial. Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi, kita bukan hanya calon profesional yang akan mengisi bursa kerja, melainkan juga agen perubahan yang memiliki kapasitas intelektual dan semangat muda. Peran kita jauh melampaui sekadar menyerap teori di bangku kuliah; kita adalah bagian integral dari solusi.

Baca Juga :  Kecantikan Merayakan Keberagaman

Pertama, Membawa Semangat Inovasi dan Kewirausahaan. Kita harus menjadi pelopor dalam menciptakan ide-ide bisnis baru yang relevan dengan potensi lokal. Apakah itu mengembangkan aplikasi yang mempromosikan pariwisata Babel, merancang model bisnis untuk produk olahan perikanan, atau menemukan cara baru untuk memanfaatkan limbah pertambangan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Mata kuliah kewirausahaan bukan sekadar formalitas, tetapi fondasi untuk melahirkan startup lokal yang inovatif. Kampus harus menjadi laboratorium ide, tempat di mana kegagalan dianggap sebagai pelajaran, dan keberanian untuk mencoba terus dipupuk. Kita bisa memulai dari skala kecil, berkolaborasi dengan teman, dan memanfaatkan jejaring yang ada.

Kedua, Menjadi Katalisator Perubahan Melalui Riset dan Analisis Data. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang berbasis data. Kita memiliki kemampuan untuk menganalisis tren pasar, mengidentifikasi peluang investasi, menghitung dampak ekonomi dari kebijakan tertentu, dan merumuskan strategi pengembangan yang lebih efektif. Misalnya, melakukan riset tentang preferensi wisatawan, efisiensi rantai pasok produk perikanan, atau menganalisis keberlanjutan UMKM di berbagai sektor. Hasil riset ini tidak boleh hanya berhenti di skripsi atau jurnal akademik. Kita harus mampu menyajikannya secara persuasif kepada pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat luas, menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih baik.

Ketiga, Membangun Jaringan dan Kolaborasi yang Kuat. Perubahan ekonomi tidak bisa dilakukan sendiri. Kita perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak yaitu pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas lokal, hingga sesama mahasiswa dari disiplin ilmu lain (misalnya, teknik, pariwisata, pertanian). Melalui jaringan ini, kita bisa saling bertukar ide, mencari solusi bersama, dan bahkan membangun kemitraan bisnis. Aktif dalam organisasi kemahasiswaan, mengikuti seminar, workshop, atau forum-forum diskusi yang relevan adalah langkah awal yang baik untuk membangun koneksi ini.

Keempat, Meningkatkan Literasi Ekonomi dan Keuangan Masyarakat. Transformasi ekonomi membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Sebagai mahasiswa ekonomi, kita memiliki tanggung jawab untuk turut serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang isu-isu ekonomi, pentingnya diversifikasi, literasi keuangan, dan pengelolaan usaha. Ini bisa dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, penyuluhan, atau bahkan program mentorship bagi UMKM. Ketika masyarakat lebih memahami dinamika ekonomi, mereka akan lebih siap untuk beradaptasi dan mengambil peran dalam perubahan.

Baca Juga :  Keterkaitan Bahasa dan Hukum

Kelima, Mengadvokasi Kebijakan yang Pro-Diversifikasi dan Berkelanjutan. Kita tidak bisa hanya menunggu kebijakan datang dari atas. Dengan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu ekonomi dan analisis yang kuat, kita bisa menjadi suara yang mengadvokasi kebijakan yang mendukung diversifikasi ekonomi, investasi pada sektor non-timah, perlindungan lingkungan, dan pembangunan yang berkelanjutan. Ini bisa berarti menulis artikel opini di media massa (seperti yang sedang kita lakukan ini!), berpartisipasi dalam forum publik, atau bahkan menjadi bagian dari tim ahli yang memberikan masukan kepada pemerintah.

Tentu, jalan menuju ekonomi yang terdiversifikasi di Bangka Belitung tidak akan mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Ketergantungan ekonomi yang sudah mengakar pada timah selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak akan mudah dihilangkan dalam semalam. Akan ada resistensi dari pihak-pihak yang masih menggantungkan hidupnya pada sektor tambang. Infrastruktur di beberapa daerah mungkin masih belum memadai. Daya saing produk lokal mungkin belum optimal. Dan yang paling penting, mindset masyarakat yang seringkali masih berorientasi pada “mudahnya” menambang.

Namun, di balik setiap tantangan, selalu ada peluang. Bangka Belitung memiliki modal sosial yang kuat, semangat kekeluargaan yang erat, dan keindahan alam yang tak ternilai. Kita memiliki generasi muda yang cerdas, adaptif, dan memiliki akses pada informasi dan teknologi yang tak terbatas. Optimisme harus menjadi bekal utama kita.

Transformasi ekonomi Bangka Belitung bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau investor besar. Ini adalah proyek kolektif yang membutuhkan partisipasi dari setiap elemen masyarakat, tak terkecuali kita, para mahasiswa Fakultas Ekonomi. Kita adalah bagian dari masa depan Bangka Belitung. Dengan ilmu yang kita miliki, semangat inovasi yang membara, dan kepedulian terhadap tanah kelahiran, kita bisa menjadi kekuatan pendorong di balik perubahan menuju ekonomi yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.

Mari kita ambil peran ini. Mari kita buktikan bahwa dari rahim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung, akan lahir pemikir-pemikir dan praktisi-praktisi yang mampu membawa Bangka Belitung melampaui bayang-bayang kejayaan timah, menuju era baru yang penuh peluang dan harapan. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bukan sekadar merenung. Masa depan ekonomi Bangka Belitung ada di tangan kita.[]

banner 300250