Belum lama ini, pernyataan dari seorang tokoh muda, Timoty Ronald, menggemparkan jagat dunia pendidikan Indonesia. Dalam salah satu pernyataannya yang viral, ia menyebut bahwa perkuliahan di era sekarang adalah “scam” dan tidak lagi relevan. Sebuah pandangan yang tajam, provokatif, dan memancing kontroversi namun sekaligus mencerminkan keresahan yang diam-diam dirasakan oleh sebagian generasi muda.
Lalu, benarkah kuliah saat ini sudah tidak relevan?
Clayton Christensen, pakar inovasi pendidikan, menyatakan bahwa banyak institusi pendidikan tinggi akan gagal jika tidak berinovasi. Namun, bukan berarti kuliah tidak berguna menurutnya, pendidikan tetap penting, tapi cara penyampaiannya harus berubah secara radikal. Ia mendorong integrasi teknologi dan metode pembelajaran berbasis kebutuhan industri.
Antara Kritik dan Realita
Jika kita telaah, pernyataan Timoty bukan tanpa alasan. Banyak lulusan sarjana saat ini yang menganggur atau bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusannya. Ditambah lagi dengan kemunculan teknologi, kursus daring, dan bootcamp yang menawarkan keahlian spesifik dalam waktu singkat dengan biaya lebih murah. Dalam dunia kerja modern, banyak perusahaan kini lebih menilai skill daripada gelar akademik. Bahkan, platform seperti YouTube, Coursera, dan Udemy kini telah menjadi tempat belajar yang lebih aplikatif dan fleksibel dibanding bangku kuliah formal.
Namun, Apakah Kuliah Sepenuhnya Tidak Berguna?
Tentu tidak sesederhana itu. Meski dunia telah berubah, perkuliahan masih punya peran penting terutama dalam membentuk cara berpikir kritis, kemampuan riset, serta etika profesional. Universitas juga menjadi ruang bertumbuh, tempat seseorang belajar berorganisasi, bersosialisasi, dan membangun jaringan (networking) yang bermanfaat dalam jangka panjang. Banyak profesi seperti dokter, insinyur, dosen, atau pengacara, masih sangat bergantung pada jalur pendidikan formal. Tidak semua pengetahuan bisa dipelajari secara otodidak atau melalui kursus daring.
“Pendidikan itu bukan cuma transfer ilmu, tapi juga pembentukan karakter.” Anies Baswedan (Mantan Mendikbud RI) menekankan bahwa fungsi utama perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan kerja, tetapi membentuk manusia utuh yang berpikir kritis, beretika, dan mampu berkontribusi pada masyarakat. Jadi, kuliah tetap relevan jika dilihat dari sisi pembangunan karakter dan intelektualitas.
Perlu Reformasi, Bukan Dihapuskan
Yang perlu dikritisi bukan esensi kuliahnya, tapi sistem dan pendekatan pendidikan tinggi yang stagnan. Banyak kampus masih terjebak dalam kurikulum usang, metode ceramah satu arah, dan minim keterkaitan dengan dunia industri. Inilah yang membuat mahasiswa merasa jenuh dan akhirnya melihat kuliah sebagai “scam”. Maka dari itu, solusinya bukan dengan menolak kuliah mentah-mentah, tapi mendorong reformasi pendidikan tinggi agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman: memperkuat skill praktis, membuka ruang magang industri, serta mendesain pembelajaran yang adaptif dan fleksibel.
Pernyataan Timoty Ronald seharusnya menjadi tamparan, bukan sekadar sensasi. Ia menyuarakan keresahan yang nyata: bahwa pendidikan tinggi butuh perubahan besar agar tetap relevan. Bagi generasi muda, keputusan untuk kuliah atau tidak harus berdasarkan kesadaran akan tujuan hidup dan karier, bukan ikut-ikutan tren. Kuliah bukan scam tapi sistem yang tidak berubah bisa membuatnya terasa demikian. Di sinilah pentingnya transformasi pendidikan, agar kuliah kembali bermakna, terjangkau, dan berdampak nyata.
“Kuliah tetap penting, tetapi jangan hanya mengandalkan kuliah.” Rhenald Kasali (Guru Besar UI dan Pakar Transformasi) berpendapat bahwa kuliah tetap memberi dasar yang kuat, terutama dalam cara berpikir sistematis. Namun, mahasiswa masa kini perlu menambah ilmu dari luar kampus, seperti ikut pelatihan, sertifikasi, dan membangun portofolio digital agar lebih kompetitif di dunia kerja.
Dengan begitu, pendapat Timoty Ronald dapat dimaknai bukan sebagai penolakan total terhadap pendidikan formal, tetapi sebagai dorongan kritis agar sistem perguruan tinggi segera bertransformasi sesuai dengan zaman.[]
Penulis :
Ridho Hakim, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang








