Fenomena “Klitih” di Yogyakarta sebagai Eksistensi Remaja Berakibat Pelanggaran HAM

Usia remaja merupakan masa di mana manusia mencari jati diri dan identitasnya. Pada masa ini manusia melakukan hal baik positif maupun negatif untuk menentukan siapa dirinya. Akan tetapi hal ini tidak jarang dilakukan dengan hal negatif yang mengarah pada penyimpangan sosial. Terdapat berbagai macam penyimpangan yang teradi saat ini. Salah satunya yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya dalam beberapa tahun belakangan ini yakni adanya “Klitih”. Siapa sangka dibalik keindahan alam dan budayanya, di kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar ini terjadi fenomena sosial yang meresahkan warga. Istilah “Klitih” ini mungkin sudah tidak asing di kalangan masyarakat baik masyarakat lokal ataupun masyarakat luar daerah.

Klitih adalah jenis kenakalan remaja dan kekerasan di masyarakat (Datu Jatmiko, 2021:129). Klitih merupakan jenis kenakalan remaja yang mengarah pada konflik sosial dan kekerasan di masyarakat. Klitih dilakukan dengan aksi menyerang, menyakiti, bahkan membunuh korban di jalanan pada malam hari. Pada awalnya Klithih adalah sebuah ajang yang digunakan oleh segerombolan remaja di Yogyakarta untuk menunjukkan eksistensinya di dalam pergaulan antar remaja. Namum, saat ini Klitih dilakukan dengan tidak hanya menyerang musuh antar kelompok mereka. Mereka terkadang menyerang korban secara acak seperti pelajar, pekerja, dan warga sipil yang tak tahu menahu menjadi sasaran. Alasan mereka melakukan aksi ini adalah menunjukkan eksistensi kelompoknya atau sebagai syarat untuk naik tingkat dalam kelompoknya.

Baca Juga :  Viral di Medsos, Mobil Wisatawan Dikepung Dept Collector

Fenomena sosial ini sudah memakan banyak sekali korban. Klitih juga termasuk pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) karena merenggut hak hidup orang lain. Pasal 28a menyatakan “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Hal ini jelas bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan hidupnya. Hak untuk hidup adalah hak mendasar manusia yang diakui dan dijamin oleh konstitusi nasional di seluruh dunia.

Dalam hal ini pelaku Klitih jelas sudah melanggar hak orang lain. Mereka dengan tangan ringan menyerang bahkan membunuh orang di jalan dengan sengaja tanpa ada sebab atau kesalahan dari korban. Dalam pandangan moral dan hukum aksi Klitih merupakan pelanggaran terhadap hak fundamental yang dimiliki setiap manusia dan memiliki arti penting. Pelanggaran hak untuk hidup tidak dapat diremehkan dan dianggap sebagai kejahatan serius dalam sistem hukum.

Baca Juga :  Cegah Money Politik Memproduksi Korupsi

Sementara itu, terdapat beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya Klithih atau pelanggaran terhadap hak asasi orang lain. Faktor penyebab terjadinya Klitih antara lain keluarga, lingkungan, pergaulan, dan karakter individu sendiri. Pertama, hal ini dapat terjadi karena sosialisasi pertama yang kurang sempurna atau bahkan hubungan keluarga yang bermasalah sehingga seorang anak mencari kenyamanannya di luar. Kedua, lingkungan sosial yang kurang sehat sehingga terjerumus dalam hal negatif. Ketiga, pergaulan yang bebas serta memiliki latar belakang dan tujuan yang sama. Terakhir, karakter dari individu itu sendiri. Hal-hal itulah yang menyebabkan remaja melakukan aksi Klitih.

Langkah prefentif untuk mengatasi masalah ini ialah semua pihak harus bersinergi mulai dari aparat negara dan juga peran orang tua. Aparat negara bertugas untuk menegakkan hukum kepada pelaku klitih sebagai kewajibannya dalam menjaga keamanan negara dan melindungi hak warga negara. Kemudian, orang tua dan keluarga sebagai agen sosialisasi pertama yang harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada seorang anak, memberikan pengajaran yang baik, memperlakukan dengan baik.

Baca Juga :  Start-Up dalam Pandangan Ekonomi Syariah

Kejahatan Klitih masih menjadi masalah bagi kota Yogyakarta, oleh karena itu diperlukan penegakkan hukum dan sosialisasi. Hal ini bukan aksi yang diwajarkan karena merampas hak hidup orang lain dengan sengaja. Membunuh (aksi Klitih) dan pelanggaran hak asasi manusia memiliki hubungan yang sangat erat. Konsep hak asasi manusia harus selalu dihormati dan dilindungi untuk menjaga martabat manusia dan keadilan.[]*

Pengirim :
Zahra Ainun Asti Amalia, Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum dan Ilmu Politik, Unuveristas Negeri Yogyakarta, email : zahraainunasti@gmail.com

banner 300250