Harapan Baru PDAM Aceh Tamiang di Tangan Juanda

Aceh, Editorial0 Dilihat

Pelantikan Juanda, SIP sebagai Direktur baru Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Aceh Tamiang oleh Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, Kamis (12/2/2026), bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Di tengah situasi pasca banjir bandang November 2025 yang melumpuhkan hampir seluruh pelayanan air bersih, momentum ini menjadi titik krusial bagi kebangkitan layanan publik paling mendasar, yaitu air untuk kehidupan.

Banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam. Infrastruktur rusak, jaringan distribusi terganggu, dan ribuan warga kehilangan akses terhadap air bersih. Dalam kondisi seperti ini, PDAM bukan hanya badan usaha daerah—ia adalah urat nadi kebutuhan dasar masyarakat. Ketika pelayanan lumpuh, dampaknya tidak sekadar administratif, tetapi langsung menyentuh dapur, kesehatan, dan kelangsungan hidup warga.

Baca Juga :  Front Anti Kejahatan Sosial Desak Bupati Aceh Timur Bersihkan Pejabat Rezim Lama

Namun jujur harus diakui, persoalan PDAM Aceh Tamiang bukanlah cerita baru. Bahkan sebelum bencana datang, berbagai masalah klasik sudah membelit. Laporan kerugian yang berulang, debit air yang kecil hingga tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, aliran yang kerap mati tanpa kepastian, serta belum meratanya distribusi ke seluruh wilayah menjadi keluhan yang lama terdengar. Banjir memang memperparah keadaan, tetapi akar persoalan telah ada jauh sebelumnya.

Di sinilah tantangan besar menanti Juanda. Ia tidak hanya dituntut memulihkan kerusakan pasca banjir, tetapi juga membenahi sistem yang selama ini terkesan rapuh. Revitalisasi infrastruktur harus dibarengi dengan reformasi manajemen. Transparansi keuangan, efisiensi operasional, serta inovasi dalam peningkatan kapasitas produksi air menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.

Baca Juga :  FAKSI Desak Pengeboran Minyak Rakyat di Ranto Peureulak Dilegalkan

Lebih dari itu, komunikasi publik menjadi kunci. Warga berhak mengetahui tahapan pemulihan, kendala yang dihadapi, serta target yang realistis. Kepercayaan masyarakat terhadap PDAM hanya dapat dibangun melalui keterbukaan dan pelayanan yang konsisten. Tanpa itu, harapan akan mudah berubah menjadi kekecewaan.

Bupati Aceh Tamiang tentu telah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menunjuk Juanda sebagai nahkoda baru. Kini, publik menunggu langkah nyata. Apakah PDAM mampu bangkit dan bertransformasi? Apakah persoalan klasik dapat diputus mata rantainya? Waktu akan menjawab, tetapi kerja keras harus dimulai hari ini.

Harapan warga Aceh Tamiang kini bertumpu di pundak Juanda, SIP. Air bersih bukan sekadar komoditas, melainkan hak dasar. Kepemimpinan baru harus mampu menghadirkan perubahan nyata—bukan hanya memulihkan, tetapi memperbaiki. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin PDAM Aceh Tamiang akan lahir kembali sebagai institusi yang sehat, profesional, dan benar-benar melayani.[]

banner 300250