Iman

Agama0 Dilihat

Dalam ajaran Islam, iman memiliki kedudukan yang sangat penting. Secara bahasa, iman berarti kepercayaan. Namun, dalam pengertian istilah, iman bermakna meyakini kebenaran ajaran-ajaran Islam, menerima, serta berkomitmen untuk menjalankan syariat Islam secara lahir dan batin.

Iman tidak hanya sekadar keyakinan dalam hati, tetapi terdiri dari tiga unsur utama yang saling melengkapi: 1) Keyakinan hati, yaitu kepercayaan penuh terhadap ajaran-ajaran Islam; 2) Amal hati, yakni perbuatan batin yang lahir dari keyakinan tersebut, seperti ikhlas, cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, dan tawakal; dan 3) Amal perbuatan, berupa tindakan nyata seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, berzikir, melaksanakan salat, berpuasa, berhaji, dan amal saleh lainnya.

Baca Juga :  Pengelolaan Wakaf Produktif yang Baik Menjadi Solusi Berkelanjutan bagi Umat

Apabila salah satu dari tiga unsur ini hilang, maka hakikat iman pun menjadi tidak sempurna. Karena itu, anggapan bahwa iman hanya berada di dalam hati adalah keliru. Iman harus tampak dalam keyakinan, ucapan, dan perbuatan.

Meski begitu, hanya Allah SWT yang mengetahui seberapa besar kadar keimanan seseorang. Menilai keimanan seseorang hanya dari penampilan atau atribut lahiriahnya adalah kesalahan besar, sebab iman adalah urusan batin yang tak dapat diukur oleh pandangan manusia.

Dalam Islam, terdapat enam rukun iman yang menjadi dasar keyakinan setiap Muslim, yaitu: 1) Iman kepada Allah SWT; 2) Iman kepada malaikat-malaikat-Nya; 3) Iman kepada kitab-kitab-Nya; 4) Iman kepada para Rasul-Nya; 5) Iman kepada hari akhir; dan 6) Iman kepada takdir, baik dan buruknya, yang datang dari Allah SWT.

Baca Juga :  Membangun Masa Depan Finansial: Pentingnya Literasi Investasi di Pasar Modal

Iman juga bersifat dinamis—ia bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah melalui ilmu dan amal saleh, namun berkurang karena perbuatan maksiat. Oleh sebab itu, seorang Muslim dituntut untuk terus memperkuat keimanannya dengan ilmu, ibadah, dan amal kebajikan.

Derajat keimanan setiap orang pun berbeda-beda. Keimanan para rasul tentu jauh lebih tinggi dibanding manusia biasa, demikian pula iman para sahabat Nabi dibanding generasi setelahnya. Perbedaan kekuatan dan kedalaman iman inilah yang kelak menentukan derajat seseorang di akhirat.

Iman bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi pondasi kehidupan seorang Muslim. Dengan iman yang kuat, seseorang akan teguh menghadapi ujian, sabar dalam cobaan, dan ikhlas dalam beramal — karena ia sadar, semua yang terjadi berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.[]

Baca Juga :  Urgensi Memahami Ilmu Fiqih Secara Komprehensif Bagi Umat Islam

Editor : Yeddi Alaydrus

banner 300250