Di era Globalisasi saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, mulai dari sistem navigasi hingga rekomendasi media sosial. Pemimpin akan menghadapi pertanyaan penting : apakah manusia akan mengontrol AI atau malah sebaliknya?
Pendidikan, bisnis, kesehatan, dan pemerintahan adalah beberapa industri di mana pengembangan AI membuka peluang. Analisis data dan perencanaan strategi menjadi lebih mudah dengan AI, memberikan keuntungan kompetitif bagi pemimpin yang memanfaatkannya dengan benar. Tetapi di balik manfaatnya, AI juga memiliki masalah.
Pemimpin dapat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis jika terlalu bergantung pada teknologi. Pemimpin dapat menjadi sekadar “Operator Teknologi” tanpa nilai dan visi kemanusiaan jika semua keputusan dibuat hanya berdasarkan saran sistem. Meskipun AI dapat mengolah data dengan cepat, AI tidak memiliki moral, kebijaksanaan, atau empati seperti manusia.
Pemimpin masa depan harus menyadari bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat, bukan pengganti manusia. Teknologi seharusnya membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik, bukan menggantikan manusia sepenuhnya dalam peran mereka. Pemimpin yang bijak akan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu mereka membuat keputusan, tetapi mereka juga akan mempertimbangkan efek sosial dan moral dari setiap undang-undang.
Pemimpin masa depan juga harus mahir dalam literasi digital. Mereka harus memahami bagaimana AI bekerja, bahaya penyalahgunaan data, dan bagaimana teknologi ini memengaruhi masyarakat. Pemimpin dapat dengan mudah dipengaruhi oleh teknologi yang tidak mereka pahami. Di masa depan, AI mungkin semakin canggih dan dapat melakukan banyak pekerjaan manusia.
Beberapa pekerjaan mungkin akan hilang, tetapi juga akan muncul pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Oleh karena itu, pemimpin yang akan datang harus memiliki kemampuan untuk mempersiapkan masyarakat untuk mengantisipasi perubahan tersebut.
Pemimpin yang sukses tidak menolak teknologi; sebaliknya, mereka dapat menggunakan teknologi dengan bijak. Mereka harus memastikan bahwa, daripada menimbulkan ketimpangan sosial, AI digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Masa depan tidak tergantung pada seberapa canggih AI manusia, tetapi bagaimana manusia menggunakannya.
Pemimpin masa depan harus mengendalikan teknologi daripada menjadi korbannya. Jika manusia dapat mengimbangi kecerdasan teknologi dengan kebijaksanaan manusia, kecerdasan buatan akan menjadi alat yang membawa kemajuan. Namun, manusia mungkin kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri jika mereka terlalu bergantung pada AI. Pemimpin masa depan harus memilih antara mengendalikan AI atau mengontrol AI. Keputusan ini akan menentukan arah peradaban manusia di masa depan.[]
Penulis :
Rika Amelia, mahasiswa Universitas Bangka Belitung








