Tulus dan Jujur: Menyampaikan Pesan dengan Niat Baik Tanpa Agenda Tersembunyi atau Pencitraan

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi adalah jembatan utama yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya. Namun, tidak semua pesan disampaikan dengan ketulusan dan kejujuran. Ada kalanya kata-kata dibungkus rapi, tetapi di baliknya tersimpan kepentingan, pencitraan, atau agenda tersembunyi. Di sinilah pentingnya bersikap tulus dan jujur dalam menyampaikan pesan—menghadirkan niat baik tanpa pamrih dan tanpa kepura-puraan.

Ketulusan lahir dari hati yang bersih. Ketika seseorang berbicara dengan tulus, ia tidak sedang mencari pengakuan, pujian, atau keuntungan pribadi. Pesan yang disampaikan apa adanya, sesuai dengan yang dirasakan dan dipikirkan, tanpa manipulasi. Ketulusan membuat komunikasi terasa hangat dan manusiawi, karena pendengar dapat merasakan kejujuran yang tidak dibuat-buat.

Kejujuran, di sisi lain, adalah keberanian untuk menyampaikan kebenaran, meskipun tidak selalu mudah atau menyenangkan. Jujur bukan berarti berkata kasar atau menyakiti, melainkan menyampaikan pesan dengan cara yang bertanggung jawab dan penuh empati. Kejujuran yang disertai niat baik akan membangun kepercayaan, karena orang lain tahu bahwa pesan tersebut tidak ditunggangi kepentingan tersembunyi.

Baca Juga :  Bupati Aceh Tamiang Ajak Dewan Kerja Percepat PAD Aceh Tamiang

Menyampaikan pesan tanpa agenda tersembunyi berarti melepaskan keinginan untuk mengendalikan persepsi orang lain. Tidak ada niat untuk terlihat paling benar, paling baik, atau paling berjasa. Fokusnya bukan pada bagaimana diri kita dipandang, melainkan pada manfaat pesan itu sendiri. Pesan yang lahir dari niat baik akan tetap bernilai, meskipun tidak mendapat sorotan atau apresiasi.

Tanpa pencitraan, komunikasi menjadi lebih jujur dan sederhana. Tidak perlu berlebihan dalam kata-kata atau tindakan untuk menciptakan kesan tertentu. Apa yang disampaikan selaras dengan apa yang dilakukan. Konsistensi inilah yang membuat pesan terasa kuat dan dapat dipercaya. Orang lain lebih mudah menerima nasihat, kritik, atau pendapat ketika mereka yakin tidak ada topeng di baliknya.

Mengapa ketulusan penting?

Ketulusan dalam komunikasi berarti niat kita murni, bebas dari motif tersembunyi atau manipulasi demi keuntungan pribadi. Ketika seseorang berkomunikasi dengan tulus, mereka cenderung lebih terbuka dan transparan, yang meminimalkan kesalahpahaman dan konflik. Niat baik di balik kata-kata kita akan terasa dan menciptakan lingkungan yang aman di mana orang lain merasa nyaman untuk berbagi ide, memberikan umpan balik, dan terlibat dalam diskusi jujur.

Baca Juga :  Terapi Pandemi, NU Banat Kudus Manfaatkan Media Digital

Kekuatan kejujuran

Kejujuran dalam komunikasi berfungsi sebagai pilar utama untuk: 1) Membangun kepercayaan: kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam hubungan apa pun. Ketika kita jujur, orang lain dapat mempercayai kebeneran ucapan dan sikap kita; 2) Memperkuat hubungan: kejujuran memungkinkan terjadinya deep talk atau pembicaraan mendalam, yang mengembangkan pengertian, empati dan kasih sayang,sehingga hubungan menjadi lebih erat; dan 3) Menciptakan kehidupan yang otentik: Berkomunikasi secara jujur memungkinkan kita untuk hidup dengan integritas, bertanggung jawab atas tindakan kita,dan terhindar dari rasa bersalah atau fitnah yang dapat mengganggu ketentraman hidup.

Berikut adalah cara berkomunikasi dengan tulus dan jujur:
1. Niat yang jelas: pastikan niat anda dalam berkomunikasi adalah untuk kebaikan bersama, bukan untuk manipulasi atau mencari keuntungan pribadi semata.

Baca Juga :  Poligami dalam Perspektif Hukum Islam dan Penerimaannya di Masyarakat

2. Transparan: Sampaikan fakta apa adanya. Hindari menyembunyikan atau mengubah informasi penting yang relevan dengan pembicaraan.

3. Akui kesalahan: Berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas perbuatan adalah bentuk nyata dari kejujuran dan akuntabilitas.

4. Empati: Sampaikan pesan dengan pemilihan kata yang halus dan mempertimbangkan perasaan orang lain, karena niat baik saja terkadang tidak cukup jika disampaikan dengan cara yang salah.

5. Jaga Konsistensi: Pastikan ucapan dan perbuatan Anda selaras. Integritas berarti konsisten dalam perilaku dan tindakan Anda.

Pada akhirnya, tulus dan jujur dalam menyampaikan pesan adalah cerminan kedewasaan batin. Ia menuntut kesadaran bahwa komunikasi bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk saling memahami dan bertumbuh. Ketika pesan disampaikan dengan niat baik, tanpa agenda tersembunyi dan tanpa pencitraan, maka komunikasi tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi juga menjadi nilai yang menguatkan hubungan antarmanusia.[]

Penulis :
Rikki Anto, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

banner 300250