Pemerintah pusat maupun daerah saat ini sedang gencar mendorong penguatan ketahanan pangan. Berbagai program digulirkan, mulai dari pemanfaatan lahan tidur, penanaman komoditas pangan, pengembangan hortikultura, hingga ajakan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan sehari-hari. Namun di Kabupaten Aceh Tamiang, semangat besar itu menghadapi ancaman nyata yang kian terasa yaitu meningkatnya populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Satwa ini dikenal sangat cerdas, lincah, dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Mereka dapat hidup di kawasan hutan, kebun, pinggir sungai, bahkan masuk ke permukiman warga. Dalam satu kelompok, monyet ekor panjang dapat hidup berkoloni antara 20 hingga 50 individu. Dengan jumlah sebesar itu, kehadiran mereka bukan lagi sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman serius bagi pertanian masyarakat.
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, kondisi ini sangat kontras dengan situasi beberapa dekade lalu. Pada era 1980-an hingga 1990-an, desa-desa di daerah ini masih hidup dengan aktivitas pertanian rakyat yang kuat. Banyak warga menanam jagung, kedelai, kacang tanah, kacang panjang, terong, pepaya, mentimun, cabai, dan berbagai tanaman sayuran lainnya. Hampir setiap rumah memiliki kebun kecil atau pekarangan produktif yang menjadi sumber pangan keluarga.
Pada masa itu, masyarakat desa tidak terlalu bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Sayuran segar tersedia dari kebun sendiri, buah-buahan tumbuh di halaman rumah, dan hasil panen dapat dijual untuk menambah pendapatan. Desa atau Kampung menjadi basis ketahanan pangan yang sesungguhnya.
Namun memasuki awal tahun 2000-an, perlahan keadaan berubah. Populasi monyet ekor panjang semakin meningkat dan mulai meluas ke wilayah permukiman serta lahan pertanian warga. Tanaman yang baru tumbuh dirusak, buah yang hampir panen dijarah, dan kebun yang dirawat berbulan-bulan bisa hancur hanya dalam waktu singkat.
Kerugian yang dialami petani tentu tidak kecil. Modal pembelian benih, pupuk, pestisida, dan biaya tenaga kerja menjadi sia-sia ketika tanaman rusak sebelum dipanen. Seorang petani yang menanam jagung atau kacang tanah di lahan kecil misalnya, bisa kehilangan ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam satu musim tanam. Jika kejadian itu berulang beberapa kali dalam setahun, maka kerugian ekonomi keluarga petani semakin berat dan semangat untuk kembali menanam pun menurun drastis.
Yang lebih memprihatinkan, serangan monyet kini tidak hanya terjadi di ladang atau kebun jauh dari rumah. Tanaman yang berada di halaman rumah dan pekarangan pun kini menjadi sasaran utama. Pepaya yang baru berbuah, cabai di pot, jagung di belakang rumah, hingga tanaman hias pun sering diobrak-abrik monyet. Pekarangan yang seharusnya menjadi ruang produktif keluarga kini berubah menjadi wilayah rawan gangguan satwa.
Akibatnya sangat jelas: warga menjadi malas dan enggan bercocok tanam. Banyak masyarakat merasa usaha menanam tidak sebanding dengan hasil karena hampir pasti rusak sebelum panen. Rasa kecewa yang berulang membuat minat bertani terus menurun, terutama di kalangan generasi muda yang sejak awal sudah kurang tertarik pada sektor pertanian.
Jika kondisi ini dibiarkan, maka dampaknya terhadap ketahanan pangan akan semakin besar. Ketika masyarakat tidak lagi menanam jagung, sayuran, buah, dan tanaman pangan lain, maka ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah meningkat. Harga pangan lokal menjadi lebih mahal, distribusi menjadi rentan, dan desa kehilangan kemandirian pangannya.
Di sisi lain, pemerintah juga menanggung kerugian yang tidak sedikit. Bantuan bibit, pupuk, sarana produksi pertanian, hingga program pemanfaatan pekarangan menjadi kurang efektif ketika tanaman habis diserang monyet. Anggaran yang seharusnya mendorong peningkatan produksi pangan berisiko tidak mencapai hasil maksimal. Artinya, gangguan monyet bukan hanya merugikan petani, tetapi juga menghambat keberhasilan program pembangunan.
Padahal pemerintah sedang mendorong program pemanfaatan pekarangan untuk menekan inflasi dan memperkuat ketahanan pangan keluarga. Namun bagaimana masyarakat bisa menanam jika tanaman di halaman rumah sendiri setiap hari menjadi santapan monyet?
Persoalan ini tentu tidak bisa dilihat sebagai konflik sederhana antara manusia dan satwa liar. Ada kemungkinan perubahan habitat, berkurangnya sumber pakan alami di hutan, alih fungsi lahan, dan minimnya penanganan jangka panjang yang menyebabkan monyet semakin masuk ke ruang hidup manusia. Karena itu, solusinya pun harus menyeluruh.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu segera melakukan langkah nyata, seperti pemetaan wilayah konflik, pengendalian populasi secara terukur dan manusiawi, pemulihan habitat alami, pengamanan kawasan pertanian, serta pendampingan masyarakat dengan metode perlindungan tanaman yang efektif. Selain itu, perlu ada kebijakan yang melibatkan ahli konservasi agar penanganan tetap seimbang antara perlindungan satwa dan keselamatan ekonomi warga.
Aceh Tamiang memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil pangan. Tanahnya subur, masyarakatnya memiliki tradisi bertani, dan iklimnya mendukung pertanian sepanjang tahun. Namun potensi itu bisa melemah bila masyarakat terus kalah oleh serangan monyet ekor panjang.
Ketahanan pangan bukan hanya soal pupuk, benih, atau alat pertanian modern. Ketahanan pangan juga soal menjamin bahwa warga dapat menanam dan memanen hasil kerjanya dengan aman. Jika ladang rusak, kebun ditinggalkan, pekarangan tak lagi bisa ditanami, dan anggaran pemerintah tidak efektif akibat gangguan yang terus berulang, maka ancaman terhadap pangan bukan lagi sekadar wacana—tetapi kenyataan yang sedang terjadi di depan mata.[]
Penulis :
Sayed Mahdi Alaydrus, peminat tentang Pertanian dan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Universitas Darma Agung Medan








