Ragam Koleksi Manuskrip di Museum Gusjigang

Indonesia adalah negara yang kaya akan artefak warisan nenek moyang yang sangat bersejarah, diantaranya naskah kuno (manuskrip) yang didalamnya tersimpan jejak sejarah, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai budaya masa lalu. Manuskrip atau sering kita sebut naskah kuno sendiri merupakan salah satu peninggalan budaya yang menjadi khazanah disetiap bangsa. Zaman dahulu budaya menulis teramat dikenal kuat dan kental. Hasil dari tulisan tangan tersebut lah yang menjadi dokumen dan dikatakan sebagai manuskrip.

Baca juga : Sambut Tamu Ala “Urang Kite”

Naskah-naskah tersebut tentunya sangat penting dijaga kelestariannya. Sebab dari naskah tadi lah para ahli sejarah dapat menemukan informasi dan memperdalam kajiannya mengenai sesuatu yang ditelitinya. Kajian mengenai penelitian naskah itu termasuk dalam ilmu filologi. Kajian ilmu filologi merupakan kajian ilmu yang objek penelitiannya adalah manuskrip-manuskrip kuno.

Baca Juga :  Dinilai Merusak Alam, Apakah Pertambangan Pekerjaan yang Baik?

Baca juga : Barang Bekas Sebagai Budaya Keren (Hipe Culture)

Ilmu ini menginvestigasi ilmiah atas teks tertulis dengan menelusuri sumber, keabsahan teks, dan karakteristiknya. Adanya kajian ilmu tersebut, maka diharuskan naskah-naskah kuno perlu mendapatkan preservasi atau pelestarian naskah atau manuskrip secara khusus untuk mencegah adanya kerusakan naskah. Sehingga naskah-naskah tersebut bisa dipelajari dan diteliti dari generasi ke generasi.

Baca juga : Manfaat Tradisi Perang Ketupat di Bangka Belitung

Tidak semua kantor, perpustakaan, dan museum terdapat naskah kuno, sebab ada pemberian kewenangan pengkhususan dalam menyimpan dan melestarikan naskah tersebut. Museum gusjigang menjadi salah satu museum yang diberi wewenang untuk itu. Museum gusjigang berada dikelola resmi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dibawah naungan Pemerintah Kabupaten Kudus. Museum yang terletak diJalan Sunan Muria No.33 ini menyimpan berbagai jenis manuskrip Alqur’an kuno, dan diantaranya terdapat manuskrip Alqur’an yang telah berusia 3 abad.

Baca Juga :  Warga Bugen Gelar Sadranan Bertajuk Separan Fast 2022

Baca juga : Fenomena “Klitih” di Yogyakarta sebagai Eksistensi Remaja Berakibat Pelanggaran HAM

Tidak hanya itu saja, dalam museum ini terdapat manuskrip Al-Qur’an raksasa yang dikelilingi 7 manuskrip Alqur’an lainnya. Ketujuh manuskrip Al-Qur’an tersebut merupakan manuskrip Al-Qur’an berbahan dasar kulit sapi, adapula yang berbahan dasar daun lontar. Alqur’an yang berbahan daun lontar ini bahkan masih utuh berjumlah 30 juz. Zaman dahulu Alqur’an ini ditulis dengan pengutik yang biasanya digunakan untuk menorehkan aksara jawi.

Baca juga : Tradisi Ruwahan di Bangka Selatan Meningkatkan Silaturrahmi Masyarakat

Manuskrip Alqur’an mini Stambul Turki pun ada disini, manuskrip ini langsung ditulis di Turki dan biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke Turki. Mesk dikatakan mini, Alqur’an Stambul Turki ini sudah berisikan 30 juz lengkap. Selain itu dalam museum gusjigang terdapat juga manuskrip Alqur’an berbahan kertas kuno, manuskrip Alqur’an kuno dari surau, manuskrip Al-Qur’an sampul pintu ka’bah, serta manuskrip Al-Qur’an kuno dari pesantren.[]

Baca Juga :  Pentingnya Sosialisasi Pendidikan Perguruan Tinggi untuk Pemuda

Pengirim :
Khusnul ‘Afifah, mahasiswi Prodi IQT/IH Institus Agama Islam (IAIN) Kudus, email : khasnawatih@gmail.com

banner 300250