Di era di mana anak kecil sudah mahir menggeser layar gadget sementara orang tua sibuk membalas email, di manakah rasa kedekatan emosional yang dulu menjadi Pondasi keluarga?
Di era sekarang adalah masanya dari era digital, mayoritas orang pada saat ini sudah banyak memiliki teknologi yang berada di dekatnya lebih tepatnya di genggaman tangannya, yaitu smartphone. Teknologi itu sifatnya dwiguna (mempunyai 2 kegunaan yang bisa berdampak positif dan negative tergantung pemakainya) atau netral. Keluarga modern sekarang terjebak dengan stigma: ingin dekat sama anak tapi malah menggantikan peran emosional dengan teknologi. Ironisnya, momen yang seharusnya menjadi ruang interaksi hangat sering tergantikan dengan tatapan kosong ke layar.
Data terbaru dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2023) mengungkap fakta mencengangkan: 85% orang tua di Indonesia mengakui menggunakan gadget sebagai alat pengasuhan, terutama saat anak rewel atau orang tua kelelahan. Sementara itu, 61% anak usia 3-12 tahun menghabiskan lebih dari 4 jam per hari di depan layar angka yang jauh melebihi rekomendasi American Academy of Pediatrics (maksimal 1 jam/hari untuk anak prasekolah).
Dari fakta yang kita tahu sekarang sangat menyakinkan bahwa banyak orangtua menggunakan opsi gadget sebagai alat pengasuh digital contohnya ada aplikasi Youtube sebagai pengganti dongeng sebelum tidur, atau Tiktok sebagai sarana menenagkan anak yang tantrum dan juga Game online yang sebagai ”Penjaga anak” disaat orang tua bekerja, atau sedang ribet mengerjakan sesuatu dan tidak ada orang yang mendampinginya. Hal ini memunculkan pertanyaan besar, apakah kita sedang mendidik generasi mandiri, atau justru menciptakan generasi yang bergantung pada hiburan instan?
Di sisi lain, kedekatan emosional dalam keluarga memiliki peran utama dalam peran orang tua dan anak. Dengan adanya kedekatan ini hubungan antara anak dan orang tua bisa lebih mendalam, mereka juga bisa saling mendukung, bisa berbagi pikiran dan perasaan, yang memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat serta tumbuh lah kepercayaan diantara kedua nya. Anak yang merasa diperhatikan secara emosional cenderung lebih percaya diri dan memiliki kontrol diri yang baik
Jika dilihat dari sudut pandang alternatif, bahwa digital parenting justru memudahkan pengasuhan di era modern dengan catatan bisa membagi waktunya disaat orang tua bekerja dan untuk keluarga sambil memastikan si anak teredukasi melalui konten digital yang sehat dan sesuai usia, maka teknologi bisa menjadi mitra, bukan pengganti. Beberapa aplikasi edukatif bahkan mampu menstimulasi daya pikir anak jika digunakan bersama orang tua secara interaktif.
Dengan adanya kedekatan emosional hubungan antar manusia jauh lebih pantas dan memiliki manfaat untuk pertumbuhan anak, tetapi digital parenting juga punya beberapa kegunaan, tapi jangan menjadikan opsi ini keseringan, gunakanlah disaat urgensi saja atau disaat terdesak, Jika ada waktu gunakanlah waktu itu dengan sebaik mungkin untuk meluangkan waktu bersama sang anak.
Digital parenting dapat menjadi sarana yang membantu orang tua dalam mengatur waktu secara lebih efektif. Namun, perlu ditekankan bahwa penggunaan metode ini tidak boleh menggantikan peran utama interaksi emosional antara orang tua dan anak. Keharmonisan keluarga bukanlah hasil dari penggunaan teknologi canggih, melainkan dari kemampuan anggota keluarga untuk saling mendengarkan dan memahami secara mendalam. Di tengah derasnya arus digital, mari kita tidak lupa bahwa yang paling dibutuhkan anak bukanlah layar terang, tapi pelukan hangat dan perhatian yang nyata.[]
Penulis :
Reafalino Aditama Pasya, Mahasiswa Universitas Pamulang








