Aceh Tamiang, TERASMEDIA.NET – Ketua Gerakan Aktivis Rakyat Aceh Tamiang (GARANG), Chaidir Azhar, meminta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin tidak menyeret organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke dalam persoalan politik maupun dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU).
Pernyataan tersebut disampaikan Chaidir menyikapi statemen Cak Imin yang menyebut NU mengalami keterpurukan karena dipimpin oleh alumni HMI. Menurut Chaidir, pernyataan tersebut tidak semestinya diarahkan kepada organisasi, terlebih jika disampaikan oleh seorang tokoh politik sekaligus pejabat negara.
“Statemen Cak Imin yang menyebut NU terpuruk karena dipimpin alumni HMI bukan sekadar candaan. Ketika kalimat itu keluar dari seorang tokoh politik sekaligus pejabat negara, publik berhak mempertanyakan apakah itu kritik, candaan, atau sedang mencari kambing hitam,” ujar Chaidir Azhar dalam pernyataannya.
Chaidir menegaskan, apabila terdapat persoalan di tubuh NU, maka kritik seharusnya diarahkan kepada aspek kebijakan, kepemimpinan, tata kelola maupun keputusan personal yang dinilai bermasalah.
“Jangan kemudian identitas organisasi seseorang dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh keluarga besar HMI. HMI bukan penyebab kegagalan siapa pun,” tegasnya.
Menurutnya, apabila seorang alumni HMI dianggap gagal dalam menjalankan amanah kepemimpinan, maka evaluasi harus ditujukan kepada individu yang bersangkutan, bukan kepada organisasi yang pernah menjadi tempatnya berproses.
“Kalau seseorang alumni HMI gagal memimpin, maka yang harus dievaluasi adalah orangnya, bukan HMI-nya. Begitu pula jika kader PMII atau organisasi lainnya gagal menjalankan amanah, jangan seluruh organisasinya yang diseret,” katanya.
Chaidir menilai, narasi yang mempertentangkan latar belakang organisasi berpotensi menciptakan gesekan antara HMI dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Padahal, kedua organisasi tersebut memiliki sejarah panjang dalam gerakan mahasiswa Islam dan kontribusi terhadap kehidupan kebangsaan.
Ia mengingatkan bahwa HMI memiliki sejarah panjang dalam perjalanan intelektual, keislaman, kebangsaan dan perjuangan Indonesia. Karena itu, persoalan besar yang terjadi di tubuh sebuah organisasi tidak tepat jika disederhanakan hanya berdasarkan latar belakang organisasi seseorang.
“Kalau mau bicara tentang keterpurukan, mari bicara data, fakta dan tanggung jawab. Bukan mencari kambing hitam berdasarkan almamater,” ujarnya.
Chaidir juga mengatakan, apabila pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai candaan, seorang tokoh nasional tetap perlu mempertimbangkan dampak dari setiap ucapan yang disampaikan di ruang publik.
“Tidak semua candaan pantas dilempar ke ruang publik, apalagi jika berpotensi menimbulkan salah tafsir dan mempertentangkan kelompok yang selama ini memiliki hubungan persaudaraan,” katanya.
Lebih lanjut, Chaidir menegaskan bahwa perbedaan tradisi gerakan antara HMI dan PMII seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling berhadapan, terlebih hanya karena kepentingan politik sesaat.
“HMI dan PMII boleh berbeda tradisi gerakan, tetapi keduanya lahir dari rahim perjuangan mahasiswa Islam dan sama-sama memiliki kontribusi bagi bangsa,” ucapnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga persaudaraan dan tidak menjadikan perbedaan pilihan maupun kepentingan politik sebagai alasan untuk memecah hubungan antarelemen bangsa.
“Kritik boleh pedas, perbedaan boleh keras, tetapi jangan pecah persaudaraan hanya demi panggung politik. Jangan karena kepentingan politik, persaudaraan sesama anak bangsa dipertaruhkan,” pungkas Chaidir Azhar, Ketua Garang sekaligus kader HMI.[] TM-W01










