iNews sebelumnya mendapatkan surat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (16 Maret 2026) mengenai program diskusi Rakyat Bersuara. Narasumber dalam acara itu dianggap mengungkapkan pernyataan yang tidak pantas dan melanggar norma siaran.
Isu ini bukan sekadar mengenai pelanggaran peraturan. Lebih dari itu, insiden ini mengingatkan betapa lemahnya posisi sebuah media dalam menghadapi kompetisi. Kita bisa memahami ini dengan Teori Ceruk dari Dimmich dan Rothenbuhler.
Media Seperti Makhluk Hidup
Dimmich dan Rothenbuhler menyatakan bahwa setiap media membutuhkan tiga elemen penting untuk bertahan: konten yang disediakan, audiens yang mendukung, serta kepercayaan dan dukungan yang diraih.
Semakin unik konten yang ada, semakin kuat kedudukannya. Di pihak lain, apabila banyak media menyampaikan hal yang serupa, persaingan akan semakin ketat. Media yang menjaga kualitas akan terus bertahan; yang merusak kepercayaan akan segera hilang.
Posisi yang Terancam
Program Rakyat Bersuara sejatinya telah menjadi wadah istimewa: tempat untuk mendengar pendapat masyarakat. Namun, peristiwa ini mengganggu fondasi tersebut. Dari aspek konten, penurunan mutu siaran mengakibatkan keunikan program semakin menurun. Penonton yang seharusnya mendapatkan diskusi berkualitas justru disuguhkan dengan hal-hal yang tidak pantas.
Dari sudut pandang penonton, keyakinan adalah elemen yang paling penting. Jika penonton merasa tidak diperhatikan, mereka akan beralih ke saluran lain yang menawarkan program serupa namun lebih terpercaya. Persaingan di bidang berita dan diskusi sangat sengit, sehingga perubahan audiens bisa terjadi dengan cepat.
Dalam konteks keberlanjutan bisnis, sanksi berimbas pada citra stasiun. Pengiklan umumnya memilih media yang dapat dipercaya. Jika citra memburuk, dukungan pun mungkin berkurang.
Cara Perbaikan
Untuk pulih, iNews perlu memperbaiki ketiga aspek ini dengan bersamaan. Pertama, perkuat pengawasan sebelum tayangan disiarkan. Narasumber harus memahami peraturan, dan setiap komponen program dipastikan layak untuk disaksikan. Konten yang konsisten tegas namun santun akan memperkuat identitas program ini.
Kedua, pelihara kepercayaan pemirsa melalui konsistensi program yang berkualitas. Saat penonton merasa diperhatikan, mereka akan tetap loyal.
Ketiga, mematuhi peraturan bukan hanya sekadar tanggung jawab, tetapi juga merupakan metode untuk menjaga reputasi agar tetap dipercaya oleh iklan dan masyarakat umum.
Penutup
Persaingan media yang sengit memerlukan lebih dari sekadar ketenaran. Keunikan posisi yang ada perlu dipertahankan dengan penuh tanggung jawab. Konten berkualitas, kepercayaan audiens, dan reputasi yang terjaga adalah tiga pilar yang memungkinkan sebuah media bertahan. Merusak salah satunya berarti mengancam keberlangsungan yang ada.[]
Penulis :
Reyvika Meilani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang










