Banjir dan Longsor Ancam Masa Depan Kopi Gayo, Produktivitas Petani Mulai Tertekan

Aceh, Berita, Ekonomi0 Dilihat

Banda Aceh, TERASMEDIA.NET – Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap keberlanjutan sektor kopi Gayo di dataran tinggi Aceh. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung pada produktivitas kopi arabika yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di kawasan Gayo.

Hal itu disampaikan peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala (USK), Abubakar, dalam keterangannya, Rabu (7/5/2026).

Menurut Abubakar, perubahan iklim sebenarnya telah lama menjadi tantangan bagi sektor perkebunan kopi. Namun, bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025 semakin memperparah kondisi perkebunan kopi, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah yang dikenal sebagai sentra utama kopi Gayo.

Ia menjelaskan, longsor yang terjadi di wilayah perbukitan tidak hanya merusak tanaman kopi, tetapi juga mengikis lapisan tanah atas yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesuburan lahan.

Baca Juga :  Terkait Heboh 2 Pejabat Aceh Diperiksa KPK, Ini Jawaban Plt Jubir KPK

“Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas,” ujarnya.

Curah hujan ekstrem dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat disebut menjadi faktor utama meningkatnya potensi longsor di kawasan perkebunan kopi. Kondisi tanah yang terlalu jenuh air membuat tanaman kopi mengalami stres, sehingga memengaruhi proses pembentukan buah dan kualitas hasil panen.

Selain itu, perubahan pola hujan dalam beberapa tahun terakhir juga memperbesar ancaman terhadap keberlanjutan perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo. Berdasarkan pengamatan jangka panjang, jumlah curah hujan tahunan memang meningkat, namun distribusinya semakin tidak menentu.

Situasi tersebut, kata Abubakar, turut memicu meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman seperti karat daun serta penggerek buah kopi yang selama ini menjadi momok bagi petani.

Baca Juga :  Wapres Gibran Usulkan Coding Masuk Kurikulum Siswa SD-SMP

“Kondisi ini juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman seperti karat daun dan penggerek buah kopi, yang semakin menekan hasil produksi petani,” katanya.

Dampak bencana itu kini mulai dirasakan langsung oleh petani di kawasan terdampak. Salah seorang petani kopi di Desa Wih Delung, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Zubaidah, mengaku sebagian kebun miliknya rusak akibat banjir yang disertai material longsor.

“Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak,” tuturnya.

Dari total 20 rante kebun kopi yang dimiliki, sekitar delapan rante mengalami kerusakan cukup parah. Material longsor yang menimbun lahan tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga menurunkan tingkat kesuburan tanah sehingga proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang.

Tidak hanya itu, akses jalan yang sempat terputus selama beberapa hari juga menghambat distribusi hasil panen dan kebutuhan logistik petani di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Pimpin Upacara Hari Amal Bhakti, Ini Kata Pj Bupati Asra

Meski menghadapi berbagai tantangan, para petani mulai melakukan sejumlah langkah adaptasi untuk menyelamatkan kebun mereka. Upaya yang dilakukan antara lain membersihkan material longsor, menanam kembali tanaman yang rusak, hingga menerapkan sistem tanaman naungan dan pola tumpangsari guna menjaga kelembaban tanah sekaligus mengurangi risiko kerusakan lahan di masa mendatang.

Abubakar menilai, tanpa upaya pemulihan yang cepat dan berkelanjutan, dampak bencana hidrometeorologi dapat memengaruhi produksi kopi regional dalam jangka menengah hingga panjang.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat strategi mitigasi bencana serta adaptasi perubahan iklim di kawasan perkebunan kopi Gayo.

“Ketahanan sektor kopi tidak hanya penting bagi ekonomi masyarakat, tetapi juga bagi keberlanjutan identitas kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan Aceh yang telah dikenal hingga pasar internasional,” pungkasnya.[]

banner 300250