Humanisasi Ilmu : Mempertahankan Nilai-Nilai Moralitas di Era Society 5.0

Era Society 5.0 merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi Internet of Things seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), komputerisasi, dan juga industri robot (Subandowo, 2022). Humanisasi ilmu adalah proses yang bertujuan untuk menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih berorientasi pada manusia. Ini melibatkan pengembangan dan penerapan ilmu dengan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan kebutuhan sosial. Sama halnya dengan konsep humanisasi ilmu menurut Gus Dur yaitu humanisasi ilmu berakar pada pemahaman bahwa ilmu tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan semata, tetapi harus menjadi sarana yang membawa manfaat bagi kemanusiaan, etika dan peradaban.

Namun, dengan kemajuan teknologi yang pesat, muncul tantangan baru yang memerlukan perhatian khusus terhadap moralitas dan etika. Oleh karena itu, peran humanisasi ilmu dalam membangun moralitas di era society 5.0 menjadi sangat penting untuk kehidupan manusia untuk mencegah kerusakan atau ketidakadilan yang dapat terjadi karena perkembangan teknologi. Salah satu tantangan utama dalam Era Society 5.0 adalah Dehumanisasi. Dehumanisasi adalah proses di mana individu atau kelompok kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan dihargai hanya berdasarkan atribut fisik atau material. Dehumanisasi terjadi karena adanya Teknosentrisme, yaitu sikap yang berlebihan dalam mempercayai bahwa alat dan teknologi dapat menyelesaikan semua masalah.

Ketika teknologi semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, ada risiko bahwa sentuhan manusia dianggap kurang bernilai, karena hasil yang dihasilkan tidak dianggap sebaik dan seefisien produk teknologi (Dewi, 2019). Misalnya, dalam dunia kerja, penggunaan teknologi yang tidak didasari dengan humanisasi ilmu dapat menyebabkan pengurangan lapangan pekerjaan, sehingga meningkatkan potensi pengangguran. Dengan demikian, penting untuk memanusiakan teknologi dan memastikan bahwa inovasi tetap berfokus pada kesejahteraan manusia. Kemajuan teknologi membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia, penggunaan AI dan IoT meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Hal itu bisa terjadi jika manusia dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya, namun dampak negatif dari penggunaan teknologi juga bisa saja terjadi jika manusia tidak bisa mengontrol apa yang mereka lakukan terhadap penggunaan teknologi.

Baca Juga :  Konflik Kepentingan dalam Putusan MK mengenai Batas Usia Capres Cawapres

Strategi humanisasi ilmu-ilmu keislaman itu mencakup upaya untuk memadukan nilai universal Islam dengan ilmu pengetahuan modern dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan peradaban manusia. Jadi sebenarnya tujuan dari adanya humanisasi adalah ilmu-ilmu keislaman itu bisa membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai macam masalah yang dihadapi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara merekonstruksikan ilmu-ilmu keislaman agar semakin menyentuh dan memasuki unsur-unsur modern, sehingga dapat memberikan solusi kepada manusia dengan tetap menggabungkan antara unsur ilmu pengetahuan dan unsur keislaman. Menurut Muhyar Fanani (Zulfa & Abdillah, 2023) ada 3 tiga langkah yang dapat dijalankan untuk menerapkan humanisasi ilmu, diantaranya :

Pertama, Pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam memahami ajaran agama. Pengetahuan dalam sutau ilmu bisa memanfaatkan untuk memahami ajaran pada suatu agama. Misalnya sebagai umat Islam dikenakan kewajiban untuk mengerjakan ibadah salat fardhu sehari lima kali. Salah satu syarat untuk melakukan salat adalah menghadap kiblat, sehingga dalam hal ini yang berperan untuk menyelesaikan perkara penetapan arah kiblat adalah ilmu falak. Seorang ahli falak pasti akan mengetahui bagaimana langkah-langkah untuk menentukan arah kiblat dengan berbagai macam metodenya. Hal ini dilakukan untuk menjaga keabsahan salat.

Baca Juga :  Menteri Luar Negeri Dukung Palestina di Mahkamah Internasional

Kedua, Relevantisasi ajaran dengan permasalahan kemasyarakatan Manusia sebagai makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak bisa hidup sendiri ataua bergantung pada orang lain selalu saja dihadapakan dengan permasalahan sosial. Kita contohkan hal ini dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan pentingnya menjaga perdamaian dari Sabang sampai Merauke. Melihat dari realitas yang ada, negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari beberapa pulau, suku, bahasa, budaya. Lantas bagaimana agar masalah perbedaan dalam negeri ini tidak menimbulkan perpecahan, perseteruan, dan peperangan?. Maka para pejuang bangsa ini telah merumuskan suatu ideologi negara yaitu Pancasila. Jadi dengan berpegang teguh pada Pancasila ini, memberikan semangat kepada semua warga Indonesia agar selalu menciptakan suasana yang damai di tengah perbedaan-perbedaan yang ada. Hal ini termasuk contoh relevantisasi dan merupakan langkah humanisasi.

Ketiga, Internalisasi substansi ajaran data pribadi manusia Pada langkah ini dilakukan dengan penanaman prinsip-prinsip agama dalam jiwa tiap manusia. Penanaman tersebut sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik. Karena jika dilakukan dengan paksaan, maka hasilnya adalah kepalsuan belaka. Negara Indonesia dalam langkah ini upaya yang dilakukan adalah pembentukan kementerian agama. Kementerian agama ini mempunyai tugas untuk memberikan fasilitas kepada seluruh warga untuk menjalankan masing-masing agamanya. Sehingga yang diharapkan adalah hidup rukun, aman dan damai. Maka sikap toleransi itu harus dikedepankan. Internalisasi ajaran sudah seharusnya dilakukan secara wisdom. Islam menjadi berakar di bumi pertiwi ini merupakan bukti bahwa internalisasi yang dilakukan secara bijak, maka akan menancap lebih kuat. Sebaliknya jika internalisasi ajaran dilakukan secara paksa, maka hanya akan melahirkan kepalsuan belaka.

Baca Juga :  Benarkah Kuliah dijadikan Acuan untuk Sukses?

Secara keseluruhan, humanisasi ilmu memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan nilai-nilai moralitas di era Society 5.0. Era Society 5.0 menawarkan potensi besar melalui integrasi teknologi modern seperti kecerdasan buatan dan Internet of Things, namun juga menghadirkan tantangan terkait moralitas dan etika. Humanisasi ilmu menjadi penting untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Proses ini bertujuan memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moralitas, sehingga teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dehumanisasi, akibat teknosentrisme, menunjukkan risiko bahwa interaksi manusia dapat dikesampingkan . Oleh karena itu, strategi humanisasi ilmu, termasuk pemanfaatan ilmu untuk memahami ajaran agama, relevansi ajaran dengan permasalahan sosial, dan internalisasi nilai-nilai agama, sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis di era sekarang. Dengan demikian, humanisasi ilmu tidak hanya berfungsi untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga untuk menjamin bahwa kemajuan teknologi memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia.[]

Daftar Pustaka
Dewi, E. (2019). Potret Pendidikan di Era Globalisasi Teknosentrisme dan Proses Dehumanisasi. Sukma: Jurnal Pendidikan, 3(1), 93–116. https://doi.org/10.32533/03105.2019

Subandowo, M. (2022). Teknologi Pendidikan di Era Society 5.0. Jurnal Sagacious, 9(1). https://rumahjurnal.net/sagacious/article/view/1139

Zulfa, F., & Abdillah, J. (n.d.). Strategi Humanisasi Ilmu-Ilmu Keislaman Dalam Pandangan Muhammad Abid al-Jabiri. https://e-jurnal.iainsorong.ac.id/index.php/Tasamuh

Penulis :
Wildan Nun Nadhif, Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahit Pekalongan

banner 300250