Mengenali dan Memaksimalkan Potensi Gaya Belajar Anak

Opini0 Dilihat

Ada pada beberapa anak yang memiliki bakat dalam seni ataupun kecerdasan yang berbeda. Salah satunya dalam pelajaran matematika, mereka kesulitan dalam pelajaran tersebut tetapi bukan karena kurang berprestasi pada mata pelajaran itu. Mungkin yang tidak diketahui oleh orang tua dan guru belum mengenali lebih dekat dengan anak, saat anak-anak mengetahui nilainya rendah biasanya mereka ketakutan untuk memberitahu kepada orang tuanya atau takut dibandingkan dengan temannya yang pintar matematika.

Lalu apa yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru di sekolah? orang tua dan guru harus mengetahui bahwa anak memiliki kekuatan serta kelemahannya masing-masing. Dengan adanya Asesmen ini bisa menjadi alat untuk mengembangkan pada karakteristik anak sehingga orangtua dan guru tidak salah mengerti dengan kemampuan
masing-masing pada anak untuk kedepannya.

Salah satu kunci untuk mencapai ini dengan memahami dan memaksimalkan potensi berdasarkan gaya belajar anak. Mengenali apakah anak lebih dominan visual, auditori, atau kinestetik.melainkan membimbing mereka menuju pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

Penting bagi kita untuk mengidentifikasi kesulitan belajar anak sejak dini, memberikan umpan balik dan menyesuaikan metode pengajaran yang mudah dipahami oleh mereka. Ini bukan tentang mencari tahu “berapa nilai mereka,” melainkan “apa yang sudah mereka pahami” dan “bagaimana kita bisa membantu mereka belajar lebih baik?”

Baca Juga :  Bambang Susantono dan Dhony Raharjoe Mundur dari Otorita IKN

Asesmen harus di pertimbangkan keberagaman latar belakang anak anak, baik dalam kondisi sosial, ekonomi, budaya, bahkan psikologis yang berbeda. Tahukah kamu anak yang kesulitan belajar atau kurang pendekatan dengan orangtuanya itu memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan suportif.

Disinilah peran guru sangat penting untuk pendekatan, dengan mengetahui lebih dalam tentang anak tersebut sehingga dia akan merasa tenang dan nyaman atau bisa dengan orang terdekat selain dari keluarganya.

Sayangnya, banyak kurikulum dan metode pengajaran di sekolah masih sangat terpusat pada aspek visual dan auditori. Anak-anak diharapkan untuk duduk diam, mencatat, dan menghafal fakta dari buku. Lingkungan seperti ini sangat tidak mendukung bagi anak kinestetik, yang kebutuhan fisiknya untuk bergerak seringkali disalah artikan sebagai ketidakdisiplinan atau kurangnya konsentrasi.

Baca Juga :  Prodi MPI STAI Syubbanul Wathon Magelang Benchmarking di INISNU Temanggung

Akibatnya, mereka mungkin merasa bosan, gelisah, atau bahkan kehilangan minat pada pelajaran yang sebenarnya bisa sangat menarik jika disajikan dengan cara yang berbeda.

Salah satu penanganan yang diberikan kepada anak kinestetik

Jika kamu mengetahui anak kinestetik terlihat gelisah karena harus duduk diam terlalu lama, menyentuh benda di sekitar mereka, atau belajar paling baik melalui simulasi dan eksperimen.

Yang perlu dilakukan oleh orangtua di rumah, berikan mereka kesempatan untuk bergerak saat belajar, misalnya dengan bermain peran, melakukan eksperimen sains sederhana, atau membangun model. Libatkan mereka dalam kegiatan praktis seperti memasak atau berkebun yang melibatkan pengukuran dan proses. Lalu di kelas, guru harus menyediakan kesempatan untuk proyek praktis, role-play, atau aktivitas yang melibatkan gerakan fisik.

Memaksimalkan potensi setiap gaya belajar juga berarti mengombinasikan pendekatan. Jarang sekali ada anak yang hanya satu gaya belajar. Kebanyakan anak memiliki kombinasi, dengan satu atau dua yang dominan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan berbagai metode dan alat dalam mengajar dan belajar. Guru dapat mendesain pelajaran yang melibatkan berbagai modalitas, sementara orang tua dapat menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel di rumah.

Baca Juga :  Blok M: Destinasi Favorit Anak Muda yang Tak Pernah Sepi

Saat saya berkesempatan berkunjung ke beberapa sekolah yang ada di jawa barat, dan saya bertanya kepada adik adik mengenai pembelajaran mereka di sekolah apakah ada kesulitan dalam materi yang diberikan guru, dan lingkungan di tempat tinggalnya. Banyak sekali dari mereka yang memiliki cita-cita tinggi dan antusias dalam belajar.

Pentingnya mengenali gaya belajar bukan hanya untuk membantu anak meraih nilai tinggi, melainkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, mengurangi frustasi, dan memupuk kecintaan mereka terhadap belajar. Dengan memahami dan menerapkan konsep mendengar, melihat, dan melakukan dalam pengajaran, kita tidak hanya membuat proses belajar lebih efektif atau menyenangkan bagi anak-anak. Ketika kita memahami cara otak anak bekerja paling baik, kita memberikan mereka bekal terpenting untuk sukses, tidak hanya di sekolah, tetapi sepanjang hidup.[]

Penulis :
Dieva Nayyara Kalistha, Mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Pamulang

banner 300250