Katanya Bebas Riba, Tapi kok Bank Syariah Terasa Lebih Mahal?

Opini, Surat Pembaca24 Dilihat

Jujur saja, akhir-akhir ini saya lagi senang belajar mengenai perbankan syariah. Di tengah pembahasan tentang finansial yang berkah dan semangat untuk lepas dari jeratan riba, saya pun penasaran dan mulai mencari tahu seluk beluk perbankan syariah. Bayangan saya awalnya indah, ada sebuah sistem keuangan yang adil, menenangkan, dan bisa membantu sesama. Saya bahkan berniat untuk memindahkan tabungan, atau mungkin di kemudian hari berniat untuk mengambil cicilan kendaraan dan juga KPR di bank syariah.

Namun, begitu saya melihat langsung lembaran simulasi cicilannya, energi semangat saya yang tadinya menggebu-gebu mendadak agak ciut. Sebagai orang yang baru belajar, mata saya langsung tertuju pada angka cicilan per bulannya. Di sinilah saya kebingungan. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, “katanya sistem syariah itu tanpa riba dan mengutamakan keadilan, loh kok setelah dihitung-hitung rasanya malah lebih mahal, ya?”

Sebenarnya ada alasan logis nya? Atau ini Cuma trik pemasaran dengan menambahkan label syariah? Nah, setelah saya pelajari lebih mendalam, ternyata ada beberapa poin-poin penting yang berhasil menjawab pertanyaan ini. Mari kita pahami bersama-sama.

Ini Jual Beli, Bukan Pinjam Uang

Mari kita mulai dengan alasan pertama dan juga hal yang paling mendasar. Pada bank konvensional, mereka memiliki sistem pinjam-meminjam uang. Kita butuh rumah seharga Rp500 juta, kemudian bank akan meminjamkan uang tersebut, lalu kita akan mengembalikannya dalam bentuk cicilan plus bunga.

Baca Juga :  Nyeri Ulu Hati dan Mual Salah Satu Gejala Varian Baru Covid-19

Namun, pada bank syariah mayoritas transaksi mereka menggunakan akad Murabahah, alias jual beli. Bank syariah tidak pernah meminjamkan kita uang untuk beli rumah. Skemanya seperti ini : Bank membeli rumah dari developer seharga Rp500 juta, lalu menjualnya kembali kepada kita dengan harga Rp750 juta (nah, Rp250 juta nya ini merupakan margin / keuntungan yang diambil oleh bank). Setelah itu kita akan mencicil Rp750 juta tersebut sampai lunas.

Secara hukum Islam, mengambil keuntungan dari jual beli itu sah dan halal, sedangkan mengambil keuntungan dari meminjamkan uang adalah riba namanya. Mengapa di bank syariah terasa lebih mahal? Karena sejak hari pertama, bank syariah sudah langsung menginput / memasukkan seluruh target keuntungan mereka ke dalam harga jual tersebut.

Jebakan “Murah di Awal” vs Kepastian hingga Akhir

Kemudian alasan yang kedua ialah mengenai masalah kepastian. Ini yang sering kali dilupai dari kalkulator orang awam.

Bank konvensional sering kali terlihat sangat murah di awal karena mereka itu menggunakan sistem bunga mengambang (floating rate). Pada tahun kedua atau tahun ketiga, mereka memberikan bunga yang sangat rendah. Efeknya apa? Cicilan bulanan akan terasa ringan. Namun perlu diingat, setelah masa promo habis atau di tahun berikutnya, bunga akan mengikuti fluktuasi pasar. Jika kondisi ekonomi memburuk dan suku bunga melonjak maka imbasnya cicilan kita di tahun-tahun berikutnya bisa ikut naik drastis.

Baca Juga :  Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Demo Tolak PPN 12% di Jakarta

Sebaliknya, bank syariah itu menggunakan sistem flat alias tetap. Karena prinsip awal nya adalah jual beli, maka harga yang sudah disepakati di awal tidak boleh berubah sepeser pun sampai lunas. Mau ada krisis ekonomi, mau suku bunga naik setinggi langit, cicilan kita dari bulan pertama hingga terakhir akan selalu sama.

Jadi, alasan bank syariah terlihat “lebih mahal” di awal karena mereka mengunci risiko masa depan agar nasabah tenang. Sementara bank konvensional terlihat “murah” di awal, tapi memindahkan risiko ketidakpastian pasar ke pundak kita di masa depan alias “manis diawal, pahit di akhir”.

Efek Skala Ekonomi

Jika bicara mengenai industri, perbankan syariah di negara kita bisa dibilang masih muda dan skalanya belum sebesar bank konvensional yang sudah ada selama puluhan tahun.

Jika dihitung secara matematis, lembaga yang memiliki aset dan perputaran dana raksasa tentu bisa menekan biaya operasional seminimal mungkin (cost of fund yang rendah). Karena biaya modal di bank syariah ini masih sedikit lebih tinggi, hal ini dapat berdampak pada penentuan dari margin keuntungan yang mereka bebankan kepada nasabah.

Baca Juga :  Respon Efisiensi Anggaran, Universitas Syiah Kuala Komit Tidak Naikan UKT

Jadi, Harus pilih yang Mana nihh??

Dari proses belajar kali ini, saya menarik kesimpulan bahwa “mahal” atau “murah” ini sebenarnya tergantung dari perspektif/pandangan dari sudut yang kita lihat.

Jika kita hanya menilai dari nominal angka di tahun-tahun awal, jelas bank syariah akan kalah saing. Namun, jika kita menilai dari aspek ketenangan pikiran karena bebas dari yang namanya ketidakpastian (gharar), kemudian kepastian jumlah cicilan tanpa harus takut naik cicilan nya di tengah jalan, serta kejelasan akad (perjanjian), maka nominal yang sedikit lebih tinggi di bank syariah inilah harga yang sangat logis untuk rasa aman tersebut.

Pada proses belajar ini juga menyadarkan saya bahwa menjadi nasabah yang cerdas bukan berarti hanya mencari mana yang paling murah, melainkan memahami ke mana alur setiap peser uang kita mengalir dan risiko apa yang siap kita tanggung di masa depan.[]

Penulis :
Muhammad Ibnu Hanafi, mahasiswa Ekonomi Syariah
Universitas Pamulang

banner 300250