Hanya Mau Hasilnya, Benci Prosesnya: Krisis Generasi Serba Instan

Opini, Surat Pembaca30 Dilihat

Zaman modern ini, orang-orang sudah terbiasa dengan hal instan. Mulai dari berbagai aplikasi pengiriman instan, pemesanan jasa instan, hingga beragam proses cepat lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut tanpa disadari membuat kita terlena akan hasil yang cepat. Kita tak lagi menikmati proses dan justru berfokus pada hasil; lebih mengutamakan apa yang didapat daripada apa yang dilalui.

Anak muda zaman sekarang sering melihat pencapaian orang lain tanpa tahu prosesnya. Tanpa melihat perjuangan di baliknya, kita merasa harus punya pencapaian sama dan merasa gagal jika tak mampu.

Perasaan lelah dan bosan justru menggerogoti, seolah membisikkan bahwa kita telah gagal. Padahal, rasa lelah dan jenuh itu adalah bagian alami dari proses panjang yang memang harus kita tempuh.

Baca Juga :  Guardiola Jamin Manc City Bakal Bombardir RB Leipzig di Leg Kedua

Untuk memahami fenomena ini, filsuf Albert Camus pernah menceritakan mitos Sisifus dalam gagasannya tentang absurdisme (Camus, 1942). Sisifus dihukum untuk terus mendorong batu besar ke puncak gunung.

Setiap kali batu itu hampir sampai di puncak, batu tersebut selalu menggelinding kembali ke bawah. Mau tidak mau, Sisifus harus turun dan mengulang proses mendorongnya dari nol (Camus, 1942).

Sekilas, hidup Sisifus tampak sia-sia. Namun, Camus (1942) justru menegaskan bahwa Sisifus menemukan makna dan kebahagiaannya saat ia secara konsisten terus mendorong batu tersebut.

Kesuksesan sering digambarkan sebagai batu yang berhasil sampai di puncak, seperti prestasi dan gelar. Namun, prosesnya atau “mendorong batu menuju puncak” justru kerap kita benci.

Baca Juga :  Kemajuan Teknologi yang Pesat, Baik atau Buruk?

Padahal, mental yang kuat dan keahlian yang matang hanya bisa lahir dari proses yang lambat. Terlalu berfokus pada hasil akhir hanya akan melahirkan kecemasan yang tak pernah usai.

Sudah saatnya kita belajar bersahabat kembali dengan proses. Mengalami kegagalan, mengulang dari awal, dan berjalan pelan bukanlah tanda bahwa kita telah tertinggal dari orang lain.

Sama seperti Sisifus, kebahagiaan sejati hadir ketika kita mampu menghargai setiap langkah perjuangan hari ini, tanpa terus-menerus didikte oleh bayang-bayang hasil masa depan (Camus, 1942).[]

Penulis :
Faiza Zahira Shofwah, mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

banner 300250