Dari Tebu Menjadi Gula: Menyusuri Ketelitian di Balik Produksi Gula di PG-PS Madukismo

Opini138 Dilihat

Ketika menikmati secangkir teh, kopi, atau makanan manis, gula mungkin menjadi salah satu bahan yang jarang kita pikirkan asal-usulnya. Bentuknya yang kecil dan sederhana membuat gula seolah hadir begitu saja di meja makan. Padahal, sebelum menjadi butiran putih yang siap digunakan, gula melewati perjalanan panjang yang melibatkan berbagai tahapan pengolahan, mesin, tenaga kerja, serta pemeriksaan yang dilakukan secara teliti.

Kesempatan untuk melihat perjalanan tersebut secara lebih dekat saya dapatkan ketika melaksanakan kegiatan magang di PT Madubaru PG-PS Madukismo, Yogyakarta. Selama berada di perusahaan, saya memperoleh pengalaman untuk mengenal proses pengolahan tebu sekaligus melihat secara langsung bagaimana pengendalian kualitas dilakukan melalui berbagai kegiatan analisis di laboratorium.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara saya memandang proses produksi gula. Selama ini, gula hanya saya kenal sebagai bahan yang memberikan rasa manis. Setelah melihat prosesnya secara langsung di Madukismo, saya menyadari bahwa rasa manis tersebut lahir melalui rangkaian proses yang panjang dan membutuhkan ketelitian sejak awal hingga tahap akhir. Aktivitas magang saya banyak berlangsung di Laboratorium Quality Assurance, tempat berbagai sampel dari proses produksi diperiksa untuk memperoleh data mengenai kondisi bahan serta proses yang sedang berjalan.

Baca Juga :  Universitas Syiah Kuala Tampil di Expo Pendidikan EURIE Turki

Setiap hasil pengujian memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai bagian dari pengawasan mutu. Dari angka-angka yang dihasilkan, kondisi suatu bahan maupun proses dapat diketahui dengan lebih jelas. Salah satu pemeriksaan yang saya lakukan adalah Nira Perahan Pertama (NPP). Nira ini menjadi salah satu bahan penting dalam perjalanan pembuatan gula karena diperoleh melalui proses pemerahan tebu. Berbagai parameter kemudian dianalisis untuk mengetahui karakteristik dan kondisi nira, meliputi Brix, Pol, Harkat Kemurnian (HK), Nilai Nira (NN), rendemen, dan pH.

Pada awalnya, berbagai istilah tersebut terasa seperti angka-angka yang cukup rumit. Namun, setelah mengikuti proses analisis secara langsung, saya mulai memahami bahwa setiap hasil memiliki arti. Nilai Brix memberikan gambaran mengenai kandungan zat terlarut dalam nira, sedangkan Pol berkaitan dengan kandungan sukrosa. Parameter lainnya juga membantu memberikan gambaran mengenai kondisi nira yang diperiksa. Kegiatan tersebut membuat saya menyadari bahwa pekerjaan di laboratorium membutuhkan ketelitian.

Pengambilan sampel harus tepat, alat digunakan sesuai prosedur, dan hasil pengujian dicatat dengan baik. Tidak hanya kemampuan memahami teori yang diperlukan, tetapi juga sikap teliti dan bertanggung jawab. Berbagai alat laboratorium turut menemani kegiatan saya, mulai dari Moal Brix, Brix Wager, polarimeter, hingga pH meter. Selain NPP, saya juga berkesempatan menganalisis gilingan 2 hingga 5 dan melihat langsung bagaimana tebu melalui beberapa tahap pemerahan untuk memperoleh nira secara maksimal.

Baca Juga :  Strategi Membangun Bisnis dari Nol di Era Digital

Perjalanan saya berlanjut melalui analisis masakan A, C, dan D, yang memperlihatkan bagaimana setiap tahapan produksi gula saling berkaitan. Saya juga memeriksa ampas dan blotong, hingga air kondensat dan air ketel, yang ternyata tetap memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran proses produksi. Pemeriksaan gula khusus semakin memperkuat pemahaman saya bahwa pengawasan mutu dilakukan dari berbagai sisi, bukan hanya pada produk akhir. Berbagai kegiatan tersebut tidak hanya menambah pengalaman teknis, tetapi juga mengajarkan saya tentang ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pentingnya mengikuti prosedur kerja. Setiap hasil analisis, sekecil apa pun, dapat menjadi informasi penting untuk memastikan proses produksi berjalan dengan baik dan kualitas tetap terjaga.

Pengalaman tersebut akhirnya mengubah cara saya memandang gula. Dahulu, ketika melihat gula, saya hanya memikirkan kegunaannya sebagai pemanis. Sekarang, saya mengetahui bahwa di balik setiap butiran gula terdapat perjalanan panjang, mulai dari tanaman tebu yang dipanen, proses pemerahan, pengolahan nira, pemasakan, pembentukan kristal, hingga akhirnya menghasilkan gula. Di sepanjang perjalanan itu, laboratorium memiliki peran untuk memastikan berbagai kondisi dapat diketahui melalui data. Setiap sampel yang diperiksa menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas proses dan produk.

Baca Juga :  RI Salurkan Bantuan ke Papua Nugini dan Afganistan

Magang di Madukismo menjadi pengalaman yang mempertemukan pengetahuan dengan kenyataan di lapangan. Teori yang selama ini dipelajari ternyata memiliki penerapan nyata dalam dunia industri. Dari sana saya belajar bahwa ilmu tidak hanya berhenti pada angka dan rumus, tetapi dapat digunakan untuk memahami dan menjaga suatu proses agar berjalan dengan baik. Kini, ketika melihat gula di meja makan, saya tidak lagi hanya melihatnya sebagai butiran putih yang memberikan rasa manis, tetapi sebagai sebuah perjalanan panjang yang melibatkan proses, teknologi, manusia, dan ketelitian. Sebab, di balik rasa manis yang sederhana, ada kerja panjang yang dilakukan dengan penuh ketelitian untuk menghasilkan kualitas yang dapat dinikmati.[]

Penulis :
Marissya Ardianita Putri, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

banner 300250