Sering kali kita merasa sudah menyelamatkan bumi hanya karena mengunggah ulang infografis tentang krisis iklim di Instagram. Label “generasi paling sadar lingkungan” yang melekat pada Gen Z ini sebenarnya pisau bermata dua. Di satu sisi, kita memang tumbuh di tengah kepungan berita bencana global, tapi di sisi lain, label ini sering jadi tameng untuk menutupi kemalasan kita yang sebenarnya. Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar peduli, atau kita Cuma sedang melakukan performa moral agar diterima di lingkungan sosial?
Ada satu konsep yang sangat relevan untuk membedah ini, yaitu inframental etik
Sederhananya begini: inframental etik itu bukan soal tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau Cuma tahu, mesin pencari pun tahu. Konsep ini lebih ke arah bagaimana sebuah nilai sudah “mendarah daging” sampai kita tidak perlu lagi berpikir saat harus melakukan hal yang benar. Bayangkan refleks saat kita menarik tangan dari benda panas; tidak ada proses deliberasi di sana. Itulah seharusnya etika lingkungan kita. Masalahnya, bagi kebanyakan dari kita, etika lingkungan masih bersifat kosmetik, dipakai saat ada kamera atau saat ingin merasa lebih baik dari orang lain.
Jujur saja, kita ini generasi yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, Gen Z mungkin jadi kelompok yang paling vokal, bahkan mungkin paling berisik, jika sudah bicara soal isu lingkungan. Tapi di sisi lain, data bicara hal yang cukup memalukan: kita ternyata salah satu generasi paling konsumtif yang pernah ada dalam sejarah.
Coba lihat laporan McKinsey tahun 2023. Di sana tercatat kalau anak muda usia 18 sampai 26 tahun itu membeli baju baru 50% lebih sering daripada generasi sebelum kita. Dan parahnya lagi? Lebih dari setengah baju-baju itu berakhir di tempat sampah, bahkan sebelum genap setahun dipakai.
Ini ironis sekali. Di Story Instagram, kita bisa sangat semangat menyebarkan infografis tentang betapa rusaknya bumi akibat fast fashion. Tapi di saat yang bersamaan, tab belanjaan kita di platform seperti Shein tetap penuh. Kenyataannya, pengguna terbesar mereka justru datang dari kelompok usia kita sendiri. Ada jurang yang besar antara apa yang kita posting dengan apa yang sebenarnya kita lakukan di kehidupan nyata.
Lalu, bagaimana cara kita benar-benar “beretika” tanpa menjadi munafik?
Pertama, kita harus berani mengakui bahwa etika itu dimulai dari kesunyian, bukan di panggung publik. Inframental etik itu teruji saat tidak ada orang yang melihat, saat kita memilih untuk tidak menggunakan pendingin ruangan secara berlebihan atau sesederhana menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah organik. Pilihan-pilihan kecil ini tidak akan membuat kita terlihat heroik di media sosial, tapi inilah fondasi karakter yang sebenarnya.
Kedua, kita perlu berhenti terjebak dalam kecemasan yang melumpuhkan, atau yang sering disebut eco-anxiety. Data dari The Lancet (2021) menunjukkan banyak anak muda merasa frustrasi hingga depresi karena isu iklim. Tapi cemas saja tidak akan mengubah suhu bumi. Bahayanya adalah ketika rasa cemas ini berubah menjadi pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa karena merasa masalahnya terlalu besar. Kita harus memutus rantai pikiran itu.
Kita tidak butuh menjadi aktivis lingkungan yang sempurna. Yang kita butuhkan adalah kejujuran untuk melihat bahwa gaya hidup digital dan konsumerisme kita punya dampak nyata. Perubahan sistemik memang penting, tapi jangan jadikan “sistem” sebagai kambing hitam atas kegagalan kita mengatur diri sendiri.
Bumi tidak butuh narasi-narasi besar yang kosong. Bumi butuh generasi yang secara sadar, pelan, dan tanpa pamrih, mulai menyatukan kata-kata manis mereka dengan tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. Berhenti jadi vokal di layar kalau di dunia nyata kita masih menjadi bagian dari masalah.[]
Penulis :
Muhamad Sultan Salam, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP-USK Banda Aceh









