Mengapa Lagu yang Ditulis Orang Asing Bisa Terasa Sangat Personal?

"Aku gakenal siapa penulis lagunya, tapi kok lagu lagunya selalu tau perasaan aku?”

Opini, Surat Pembaca37 Dilihat

Pertanyaan itu sering muncul setiap kali saya menemukan lagu yang rasanya terlalu relate. Baru beberapa detik diputar, liriknya langsung berhasil membuat saya berhenti sejenak. Bukan karena melodinya luar biasa rumit atau aransemennya megah, tetapi karena kalimat-kalimatnya seperti sedang menceritakan apa yang selama ini hanya berputar di kepala.

Padahal, kalau dipikir-pikir, penyanyinya tidak mengenal saya. Pencipta lagunya juga tidak tahu siapa yang akan mendengarkannya. Mereka menulis lagu dari pengalaman mereka sendiri, bukan dari kehidupan orang-orang yang nantinya akan memutar lagu itu di Spotify. Namun, anehnya, saya yakin banyak orang pernah merasa, “Lagu ini kok kayak ditulis buat aku, ya?”

Semakin sering mengalaminya, saya jadi bertanya-tanya. Kenapa sebuah lagu bisa terasa begitu personal? Apa memang ada lagu yang benar-benar mampu memahami setiap pendengarnya?

Menurut saya, jawabannya bukan karena musik bisa membaca isi hati kita. Justru kita lah yang punya kemampuan untuk menemukan dirinya sendiri di dalam sebuah lagu.

Kalau diperhatikan, kita hampir tidak pernah mendengarkan lagu dalam keadaan “kosong”. Selalu ada sesuatu yang sedang kita bawa. Bisa jadi rasa lelah setelah menjalani hari yang panjang, rasa kecewa karena harapan tidak berjalan sesuai rencana, atau justru rasa bahagia yang ingin dirayakan. Tanpa sadar, semua pengalaman itu ikut kita bawa saat menekan tombol play.

Baca Juga :  Akuntansi Dalam Islam

Itulah mengapa lagu yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang mendengarnya sambil mengenang seseorang, ada yang menjadikannya teman belajar, ada juga yang hanya menyukai melodinya. Lagunya tidak berubah, tetapi cerita yang dibawa setiap pendengarnya berbeda.

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut emotional validation. Sederhananya, manusia punya kebutuhan untuk merasa bahwa apa yang ia rasakan itu nyata dan wajar. Kita semua ingin dimengerti. Sayangnya, tidak semua orang mudah menceritakan isi pikirannya kepada orang lain. Kadang, kita sendiri bahkan bingung menjelaskan apa yang sedang dirasakan.

Di momen seperti itulah sebuah lagu bisa terasa begitu berarti.

Pernah tidak, mendengar satu lirik lalu spontan berkata dalam hati, “Nah, ini yang dari tadi aku rasain.” Rasanya seperti ada seseorang yang akhirnya berhasil menyusun kata-kata yang selama ini tidak bisa kita ucapkan sendiri. Bukan karena penyanyinya sedang berbicara kepada kita, tetapi karena pengalaman yang ia ceritakan ternyata memiliki irisan dengan pengalaman kita.

Saya rasa, di situlah letak kekuatan musik. Lagu tidak selalu memberi solusi. Lagu juga tidak membuat masalah kita hilang begitu saja. Namun, setidaknya ia membuat kita merasa tidak sendirian.

Baca Juga :  Urgensi Manajemen Pendidikan untuk PAUD Hebat Berkualitas

Saat mencari jawaban mengapa musik bisa memberi perasaan seperti itu, saya teringat pada pemikiran filsuf Martin Buber. Ia mengatakan bahwa manusia tidak selalu berhubungan dengan sesuatu hanya sebagai objek yang dinikmati. Ada kalanya kita benar-benar merasa terhubung dan memberi makna pada apa yang kita temui.

Menurut saya, hubungan dengan musik sering kali seperti itu.

Awalnya kita mungkin hanya menyukai melodinya. Lama-kelamaan, lagu itu mulai menyimpan cerita. Ada lagu yang mengingatkan pada perjalanan pulang setelah kuliah, ada yang langsung membawa ingatan pada seseorang yang pernah kita anggap spesial, ada pula yang mengingatkan pada masa ketika kita sedang berusaha bangkit dari keadaan yang sulit. Sejak saat itu, lagu tersebut bukan lagi sekadar lagu. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Kalau dipikir-pikir, mungkin itu juga alasan mengapa kita sulit menghapus beberapa lagu dari playlist. Bukan karena lagunya selalu yang terbaik, tetapi karena rasanya seperti ikut menghapus satu bagian dari kenangan kita. Saya sendiri masih punya beberapa lagu yang sudah lama ada di playlist. Bukan karena setiap hari saya dengarkan, tetapi karena setiap kali diputar, lagu-lagu itu selalu membawa saya kembali ke momen tertentu.

Hal yang sama juga sering terlihat di media sosial. Banyak orang membagikan potongan lirik di Instagram Story atau WhatsApp. Sekilas memang hanya beberapa baris kalimat. Namun, menurut saya, sering kali itu bukan sekadar berbagi lagu. Itu adalah cara paling sederhana untuk mengatakan, “Ini yang sedang aku rasakan,” tanpa harus menjelaskan semuanya.

Baca Juga :  Bingkai Karya Luncurkan Program Baru "KATA KITA", Dipandu Oleh Tandem Terbaik Tanti dan Dewi

Mungkin karena itulah musik terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Musik tidak selalu memberikan jawaban, tetapi ia memberi ruang untuk berhenti sejenak. Di tengah hidup yang berjalan cepat dan sering kali menuntut kita untuk terus kuat, mendengarkan lagu bisa menjadi cara kecil untuk mengakui bahwa kita sedang lelah, sedih, bingung, atau bahkan bahagia.

Pada akhirnya, saya tidak percaya bahwa lagu benar-benar memahami kita. Penyanyi tidak mengenal kita, pencipta lagu tidak tahu cerita hidup kita, dan lirik yang mereka tulis lahir dari pengalaman mereka sendiri. Namun justru di situlah letak menariknya. Kita menemukan sebagian diri kita di dalam cerita orang lain.

Mungkin selama ini kita mengira musiklah yang sedang berbicara kepada kita. Padahal, bisa jadi musik hanya membantu kita mendengarkan suara diri sendiri yang selama ini terlalu sibuk kita abaikan.[]

Penulis :
Dinda Deviandini, mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia, email : dindadeviandini@gmail.com

banner 300250