Ekonomi Syariah itu Dekat, Kita Saja yang Belum Kenal

Opini, Surat Pembaca34 Dilihat

Setelah kemarin kita membahas mengenai alasan kenapa bank syariah itu dirasa “lebih mahal” daripada bank konvensional. Kita juga jadi tahu realitanya, dari mulai dari kalah skala industri, urusan likuiditas, sampai biaya operasional yang bikin produknya jadi kurang bersaing atau kalah.

Tapi jujur saja, setelah kita membahas sisi komersial perbankan yang kaku dan menguras kantong itu, saya merasa ada yang mengganjal. Muncul lagi sebuah pertanyaan : Apa iya ekonomi syariah semahal dan sesempit itu?

Bagi sebagian besar orang awam termasuk saya, mendengar kata “Ekonomi Syariah” memang sering kali bikin dahi mengkerut. Kalau ga isinya hitung-hitungan kontrak yang rumit, ya pasti ada istilah bahasa Arab yang bikin pusing seperti Mudharabah atau Murabahah. Di tambah lagi ada pengalaman di lapangan yang katanya “lebih mahal” tadi, makin jauhlah sistem ini dari ketertarikan kita. Kita justru mencapnya sebagai sistem yang kaku dan Cuma buat orang-orang yang lagi “hijrah finansial” saja.

Padahal nih ya, kalau kita singkirkan sebentar urusan bank yang ribet itu, ekonomi syariah ini sebenarnya dekat banget sama keseharian kita. Kita saja yang selama ini belum kenalan dengan cara yang benar.

Coba ingat-ingat, pernah ga sih ketika kamu sedang nongkrong di kafe, kamu dan teman-teman kamu mutusin buat patungan secar adil untuk buka bisnis bareng? Atau, pernah gak kamu minjemin modal ke teman buat buka usaha dengan syarat, “Nanti kalau warungmu sukses atau berhasil, keuntungannya bagi dua ya. Kalau rugi, ya kita tanggung bareng-bareng”?

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Baubau Gelar Sosialisasi e-Paspor

Sadar atau tidak, tindakan kecil itu adalah ruh asli dari ekonomi syariah. Sebuah esensi berkeadilan yang sayangnya sering kali tertutup oleh kata kaku dan mahalnya produk perbankan di atas kertas.

Membongkar Istilah Berat Menjadi Logika Sehari-hari

Ekonomi syariah itu jantungnya bukan terletak pada papan nama bank atau bahasa Arabnya, melainkan terletak pada nilai, etika, dan juga logikanya.

Mari kita ambil contoh pertama yakni konsep “bagi hasil” yang bisa disebut sebagai Mudharabah. Pada sistem konvensional, kalau kita minjemin uang untuk modal bisnis ke teman, kita pasti cenderung untuk minta kepastian bunga tetap nya (misalnya 10% setiap bulan). Kita sering kali tidak peduli apakah bisnis teman kita itu lagi sepi, atau malah hampir bankrut, pokoknya mah uang itu harus balik lagi ditambah bunganya.

Di sinilah ekonomi syariah masuk dengan logika yang lebih punya empati, yakni kalau untung, ya kita bagi sesuai dengan perjanjian awal kita. Semisal kalau rugi, mari kita sama-sama tanggung kerugian nya secara adil. Bukankah logika patungan yang seperti ini yang dirasa lebih manusiawi?

Di ekonomi syariah juga ada larangan-larangan transaksi, salah satunya ialah larangan ketidakjelasan ( disebut gharar ) dan judi/spekulasi ( disebut maysir ). Ini juga sama saja dengan prinsip “kalau jualan yang jujur, jangan suka menjebak pembeli dengan barang yang KW , jangan ada udang di balik batu.”

Baca Juga :  Indonesia di Persimpangan Digital: Publikom Gama Dorong Kedaulatan Komunikasi Pemerintahan Prabowo-Gibran

Ketika seorang pedagang di pasar menimbang buah dengan oas, tidak mengakali timbangan, serta jujur kalau ada bagian buah yang sedikit cacat / penyok, dia sebenarnya itu sedang mempraktikkan ekonomi syariah dalam bentuk yang paling gampang. Ekonomi syariah sesederhana itu padahal, bener gak?

Ini Bukan Soal Label, tapi Soal Nilainya

Permasalahannya, ekonomi syariah di negara kita ini sering banget terjebak dalam lingkaran “label agama” atau sentimen kelompok tertentu saja. Efeknya, sustem ini terlihat eksklusif, seilah-olah sistem ini dibuat Cuma buat mereka yang penampilannya sudah berubah religius saja.

Padahal, kalau kita bedah esensinya, ekonomi syariah ini sifatnya universal. Fondasi utamanya Cuma ada tiga, yakni Keadilan, Transparansi, dan Gotong Royong. Dan bagusnya lagi di sistem ini menolak keras adanya pihak yang diperas apalagi dirugikan demi keuntungan sepihak.

Kita juga pasti merasa kesal dengan pinjaman online yang dendanya menumpuk gak masuk akal, atau kita merasa muak juga dengan bisnis investasi bodong yang ga transparan, pada momen inilah kita sebenarnya itu sedang merindukan keadilan yang ditawarkan oleh ekonomi syariah. Jadi sebenarnya itu ini bukan hanya sekedar persoalan mengganti papan nama menjadi “syariah”, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan uang dan sesama manusia dengan adil.

Baca Juga :  USK Aceh Sediakan Kuota 35% Jalur Mandiri, Ini Jadwal Pendaftaran

Saatnya Kenalan lagi

Kenapa sih kita sebagai orang yang awam ini perlu kenalan lebih dekat dengan ekonomi syariah? Padahal jawabannya simpel banget, karena di tengah kondisi ekonomi yang bikin stres begini, kita tuh butuh sistem keuangan yang lebih membumi dan punya rasa kemanusiaan.

Ekonomi syariah tidak meminta kita untuk langsung menghafal satu buku tebal yang berisi hukum-hukum fikih yang bikin kita pusing. Cukup hanya dengan memahami sistem saja. Menghargai kejujuran dalam berbisnis, mengutamakan keadilan saat bekerja sama dengan orang lain, dan menjauhi transaksi yang sifatnya merugikan orang lain adalah langkah awal kita untuk “bersalaman” dengan ekonomi syariah.

Ekonomi syariah ga jauh kok. Dia gak cuma ada di dalam gedung-gedung bank besar atau di ruang rapat yang formal. Ekonomi syariah yang asli itu adanya di warung sebelah rumah yang timbangannya gak pernah curang, kemudian ada juga di kesepakatan patungan bisnis yang adil, serta ada di caramu menghargai hak orang lain.

Sistem ini sebenarnya ada di dekat kita, berjalan bersama kita setiap hari. Jadi, setelah tahu kalau dia sedekat dan se-manusiawi ini, masa kita masih belum mau kenalan?

Penulis :
Muhammad Ibnu Hanafi, Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

 

banner 300250