Di Tengah Gempuran TikTok, Kenapa Acara Infotainment Televisi Masih Bertahan?

Opini, Surat Pembaca36 Dilihat

Dulu, kalau ingin tahu kabar terbaru tentang selebritas, kita harus menunggu acara infotainment di televisi. Sekarang, ceritanya berbeda. Suatu kabar tentang artis bisa muncul di TikTok, Instagram, YouTube, bahkan sebelum televisi sempat membahasnya. Informasi yang dulu menunggu jam tayang, kini bisa muncul di layar ponsel dalam hitungan menit.

Perubahan kebiasaan tersebut membuat posisi televisi semakin menantang. Televisi bukan lagi satu-satunya tempat masyarakat mendapatkan hiburan dan informasi mengenai kehidupan selebritas. Di media sosial, siapa pun bisa menjadi penyebar informasi sekaligus pembuat konten. Persaingan akhirnya bukan hanya terjadi antarstasiun televisi, tetapi juga antara program televisi dengan ribuan konten yang muncul setiap hari di platform digital.

Namun, di tengah perubahan tersebut, program infotainment seperti INSERT di Trans TV masih mampu mempertahankan keberadaannya. Program yang sudah lama hadir di televisi ini menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah tayangan harus terus menyesuaikan diri ketika kebiasaan penonton berubah.

Salah satu alasan sebuah program bisa bertahan adalah karena memiliki konsep yang cukup fleksibel untuk dikembangkan. Dalam programming, hal ini berkaitan dengan durability atau daya tahan. Sebuah program tidak cukup hanya menarik ketika pertama kali ditayangkan. Konsepnya harus mempunyai ruang untuk terus menghasilkan cerita dan menghadirkan sesuatu yang berbeda dari waktu ke waktu.

Baca Juga :  Monyet Merajalela, Ketahanan Pangan Terancam

Infotainment memiliki keuntungan dari sisi tersebut. Dunia hiburan tidak pernah benar-benar kehabisan bahan. Setiap hari selalu ada karya baru, aktivitas selebritas, tren, hingga peristiwa yang dapat menjadi bahan pemberitaan. Selama program mampu mengolahnya dengan cara yang menarik, sumber ceritanya akan terus berganti.

Tetapi memiliki banyak bahan saja tidak cukup. Program yang ingin bertahan juga perlu menjaga konsistensi. Penonton perlu mengenali karakter sebuah acara dan memahami apa yang akan mereka dapatkan ketika menontonnya. Kalau sebuah program terlalu sering berubah arah hanya karena mengejar sesuatu yang sedang viral, identitasnya justru bisa menjadi kabur.

Di sinilah tantangan terbesar infotainment televisi saat ini muncul. Media sosial bergerak sangat cepat. Berita yang pagi ini viral, belum tentu masih menjadi pembicaraan pada malam hari. Program televisi harus mampu membaca tren tanpa sepenuhnya kehilangan karakter yang sudah dibangun.

Kepekaan terhadap tren menjadi semakin penting karena kebiasaan audiens juga berubah. Ketika sebuah isu ramai dibicarakan di TikTok atau Instagram, penonton televisi kemungkinan sudah mengetahui informasi dasarnya. Artinya, televisi tidak cukup hanya mengulang apa yang sudah beredar. Ada kebutuhan untuk memberikan sudut pandang, informasi tambahan, wawancara, atau pengemasan yang membuat konten tersebut tetap memiliki alasan untuk ditonton.

Baca Juga :  Registrasi Merek UMKM sebagai Perlindungan Hukum Kekayaan Intelektual

Kondisi ini menunjukkan bahwa mengikuti tren bukan berarti sekadar meniru apa yang sedang viral. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah program mengolah tren tersebut agar sesuai dengan format dan karakter audiensnya.

Selain soal tren, faktor lain yang tidak kalah penting adalah sosok yang tampil di dalam program. Dalam dunia televisi, wajah yang sudah dikenal cenderung memberikan rasa akrab kepada penonton. Pembawa acara atau figur yang memiliki karakter kuat dapat menjadi bagian dari identitas sebuah program. Penonton bukan hanya datang karena topiknya, tetapi juga karena sudah terbiasa dengan cara host membawakan acara.

Elemen lain yang menentukan daya tarik program adalah konflik atau ketegangan. Konflik dalam programming tidak selalu berarti pertengkaran. Dalam tayangan hiburan, perbedaan pendapat, pertanyaan yang memancing respons, atau situasi yang tidak terduga dapat menciptakan dinamika sehingga penonton tidak merasa sedang melihat percakapan yang datar. Unsur seperti ini membuat sebuah tayangan memiliki alur dan daya tarik tersendiri.

Namun, tantangan televisi sekarang tidak berhenti pada isi program. Cara konten tersebut didistribusikan juga ikut berubah. Satu episode yang tayang di televisi dapat memiliki potongan-potongan pendek yang kemudian beredar di media sosial. Momen menarik dari sebuah wawancara bisa menjadi video pendek, bahan pembicaraan di platform digital, atau bahkan memunculkan diskusi baru dari audiens.

Baca Juga :  Cegah Money Politik Memproduksi Korupsi

Dengan pola seperti ini, televisi dan media sosial tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling berlawanan. Media sosial justru dapat menjadi ruang tambahan bagi program televisi untuk mempertahankan perhatian audiens. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya ramai di media sosial dapat menjadi bahan yang kemudian dikembangkan kembali dalam program televisi.

Pada akhirnya, keberadaan infotainment di tengah gempuran TikTok bukan berarti televisi berhasil mengalahkan media sosial. Keduanya memiliki cara konsumsi yang berbeda. Persoalannya adalah bagaimana sebuah program memahami perubahan tersebut dan menemukan cara agar tetap relevan.

Program seperti INSERT menunjukkan bahwa usia sebuah acara bukan satu-satunya ukuran apakah tayangan tersebut masih menarik atau tidak. Yang lebih penting adalah kemampuan program untuk mempertahankan identitas, membaca perubahan tren, menghadirkan wajah dan karakter yang dikenal, serta terus memberikan sesuatu yang terasa baru bagi penonton.

Televisi mungkin sudah tidak menjadi satu-satunya pilihan. Tetapi selama program mampu beradaptasi dengan cara audiens mengonsumsi media, layar televisi masih memiliki alasan untuk tetap dinyalakan.[]

Penulis :
Reisya Ananda Sabrina, mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas
Pamulang

banner 300250