Bernard Bear: Kritik Etika Penyiaran Tayangan Anak

Opini, Surat Pembaca41 Dilihat

Serial animasi Bernard Bear kini menjadi sorotan penting dalam kajian etika penyiaran program anak di televisi Indonesia. Karakter kartun ini memang populer dan menghibur, namun aksi-aksi ceroboh serta tindakan berisiko yang ditampilkan tanpa pesan edukatif langsung berpotensi memicu perilaku meniru (imitative learning) pada anak-anak.

Oleh karena itu, media penyiaran memikul tanggung jawab moral yang besar agar fungsi mendidik tidak terabaikan demi sekadar mengejar angka rating. Namun, saya percaya bahwa popularitas dan humor saja tidak cukup untuk menentukan kelayakan sebuah tayangan anak.

Adegan kecerobohan yang disajikan tanpa pesan moral yang jelas berpotensi menjadi “pendidikan terselubung” yang keliru bagi anak-anak di balik komedi tanpa dialognya. Oleh karena itu, artikel ini mempertanyakan etika programming media penyiaran seperti GTV dalam menjaga keseimbangan antara mengejar rating hiburan dan memenuhi tanggung jawab moral edukasi.

Baca Juga :  Pentingnya Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini

Salah satu persoalan utama dalam tayangan Bernard Bear terletak pada maraknya aksi komedi fisik (slapstick) yang berisiko. Tanpa adanya penjelasan atau konsekuensi yang jelas dari setiap tindakan berbahaya karakter tersebut, anak-anak berpotensi menganggapnya sekadar lelucon yang aman untuk ditiru.

Sayangnya, walaupun disajikan dalam kemasan komedi fisik (slapstick), anak-anak berpotensi menganggap aksi berbahaya tersebut sekadar lelucon yang menarik untuk ditiru di dunia nyata. Ketika aspek hiburan dieksploitasi tanpa diimbangi pesan edukatif yang jelas, fungsi media penyiaran dalam mendidik pun akhirnya kabur dan terabaikan.

Pada akhirnya, mengkritisi tayangan Bernard Bear penting dilakukan untuk menyadarkan kita bahwa bahaya penyiaran bisa terselip di balik humor polos. Pihak stasiun TV dan orang tua harus bekerja sama agar fungsi edukasi media tetap terjaga.Selain itu, stasiun televisi harus lebih hati-hati dalam memilih episode yang ditayangkan, cerita yang menanamkan nilai-nilai positif seperti kreativitas, kerja sama, dan penyelesaian masalah tanpa merusak diri sendiri.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN Tematik Literasi USK Bangun Minat Baca Anak-anak di Gampong Beurandeh

Sebaliknya, media penyiaran tidak dapat sepenuhnya bertanggung jawab atas hal ini. Peran orang tua sebagai pelindung utama rumah tetap penting. Sangat penting bagi anak-anak untuk mendampingi aktif saat menonton. Ini dilakukan agar setiap adegan yang tidak sesuai dapat diluruskan dan dijelaskan secara bijak, sehingga anak-anak dapat menonton acara dengan benar.[]

Penulis :
Ridho Andhika Utomo, Mahasiswa Universitas Pamulang

 

banner 300250